Saat ini, salah satu suplemen yang paling digembar-gemborkan adalah propolis! Beberapa pasien yang datang ke tempat pribadi pun menganggap propolis sebagai obat dewa yang dapat digunakan untuk mengatasi berbagai macam penyakit. Benarkah efek propolis memang seperti yang diberitakan oleh iklan dan media? Artikel ini mengulas jawabannya! Kata “Propolis” berasal dari bahasa Yunani, yaitu “Pro” yang berarti “sebelum” atau “di depan” dan “Polis” yang berarti “kota”. Istilah ini diberikan untuk menggambarkan manfaat propolis sebagai zat pelindung yang terdapat di pintu masuk sarang lebah madu, yaitu sebagai perlindungan terhadap cuaca dan juga serangga lain. Propolis merupakan suatu substansi yang mengadung resin dan lilin lebah yang dikumpulkan dari tanaman, terutama dari bunga dan pucuk daun. Propolis digunakan untuk menutup ruang-ruang heksagonal pada sarang lebah, sehingga dapat digunakan untuk mengisi celah dan menyumbat jalan masuk ke sarang lebah. Awalnya, para peternak lebah mengira propolis hanyalah perekat sarang lebah yang melindungi koloni lebah dari hujan dan dingin. Namun, akhir-akhir ini diketahui bahwa manfaat propolis ternyata jauh lebih besar dan kompleks. Propolis melapisi sarang lebah mulai dari jalan masuk hingga pusat sarang yang steril. Propolis menjadi lapisan antiseptik dan melindungi larva lebah sehingga dapat tumbuh menjadi lebah dewasa yang sehat. Selain itu propolis juga mempunyai efek mumifikasi. Untuk membuat propolis dibutuhkan berbagai bahan dasar yang berasal dari berbagai jenis tumbuhan yang dikumpulkan oleh lebah madu. Pada negara-negara di Eropa serta beberapa daerah di Asia dan Amerika Utara, tumbuhan favorit lebah madu untuk membuat propolis adalah tanaman Poplar (Populus spp). Lebah madu akan mengambi eksudat resin dari pucuk tanaman tersebut. Sedangkan pada daerah tropis dan subtropis, tumbuhan Poplar sulit tumbuh, sehingga lebah madu harus mencari resin dari tumbuhan lain. Keanekaragaman ini menyebabkan betapa bervariasinya komposisi propolis dan hingga kini masih terus ditemukan komposisi - komposisi baru dari propolis. Komposisi propolis sebagian besar (45-55%) adalah resin. Selain itu propolis juga mengandung lilin dan asam lemak, minyak esensial, pollen, mineral, vitamin, serta zat organik lain. Kemajuan teknologi telah membawa manusia menemukan kekayaan manfaat propolis terutama di bidang pencegahan dan pengobatan penyakit, terlebih lagi setelah semakin banyak orang juga memiliki kecenderungan untuk kembali kepada alam dalam mencari pengobatan. Penelitian tentang propolis semakin banyak dilakukan dan pengetahuan mengenai khasiat yang terkandung di dalamnya telah membuat propolis mulai banyak digunakan untuk membantu mengobati berbagai penyakit seperti anemia, infeksi, luka, bahkan kanker. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa propolis memiliki efek hepatoprotektor, anti-tumor, anti-oksidan, anti-bakteri, dan anti-peradangan. Resin, sebagai komposisi terbanyak pada propolis, telah banyak dikenal sebagai zat yang berkhasiat sebagai anti peradangan dan juga anti-oksidan. Resin mengandung sekitar 40% flavonoid, fenol, dan berbagai bentuk asam.   Flavonoid Flavonoid memiliki berbagai khasiat dalam membentengi tubuh dari serangan kuman. Flavonoid memblokade terbentuknya prostaglandin penyebab nyeri, mencegah alergi dengan mencegah pelepasan histamine dan serotonin, serta berperan juga sebagai anti-inflamasi, anti-oksidan, dan anti-septik. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di laboratorium LPPT UGM, propolis ternyata dapat mengambat sel kanker. Kandungan polifenol dan flavonoid di dalam propolis diduga merupakan zat yang berperan dalam penghambatan proliferasi sel kanker. Flavonoid menghambat protein kinase yang berperan dalam proliferasi sel. Dengan dihambatnya protein kinase, proses fisiologi sel pun terhambat sehingga sel melakukan apoptosis / melakukan program bunuh diri pada sel. Kematian sel ini yang menjadi salah satu mekanisme penghambat penggandaan sel kanker.   Fenol Ikatan fenol pada propolis juga merupakan substansi yang penting karena karena potensinya untuk mengobati berbagai penyakit dan memiliki khasiat sebagai antibakteri dan antioksidan. Ikatan fenol yang telah banyak dikenal dan diteliti adalah Caffeic Acid Phenethyl Ester (CAPE). CAPE menekan proses peradangan melalui jalur lipoxygenase dari metabolisme asam arakhidonat. Konsumsi propolis pada umumnya dapat ditoleransi baik oleh kebanyakan orang. Namun, ada juga beberapa laporan tentang adanya reaksi alergi yang timbul akibat pemakaian propolis. Allergen utama yang terdapat pada propolis adalah 3-methyl-2-butenyl caffeate dan phenylethyl caffeate.  Untuk itu pemakaian produk propolis tetap perlu diwaspadai pada orang - orang yang memiliki riwayat alergi terutama terhadap produk - produk yang berasal dari lebah.   Referensi :
  1. Suranto A. Dahsyatnya Propolis untuk Menggempur Penyakit. PT Agro Media Pustaka. 2010. Jakarta.
  2. Susan E., et al. Allergic Contact Dermatitis from Propolis : Composition of Propolis. University of Minnesota. 2005. Minneapolis.
  3. Susanti T, et al. Bukti Khasiat dari Lab. Trubus. 2010.