Siapa sih yang tidak ingin tubuh langsing ?!? Tapi bagaimana bila dengan segala usaha yang dilakukan badan tetap saja gemuk alias obesitas??? boleh ga sih dioperasi aja??? 1. Apa itu obesitas dan siapa saja yang boleh dioperasi ? Obesitas merupakan suatu keadaan kelebihan berat badan yang terjadi akibat akumulasi lemak berlebih sehingga dapat mengganggu kesehatan kita. Gangguan kesehatan yang dapat ditimbulkan antara lain adalah peningkatan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah, hipertensi (tekanan darah tinggi), diabetes mellitus, dan banyak penyakit lainnya. Untuk menentukan apakah seseorang mengalami obesitas atau tidak, perlu dilakukan pengukuran jumlah lemak dalam tubuh. Pengukuran jumlah lemak tubuh secara langsung cukup sulit. Namun dipermudah dengan penghitungan Body Mass Index (BMI) atau Indeks Massa Tubuh. BMI merupakan indikator yang paling praktis dalam menentukan apakah seseorang mengalami obesitas atau tidak. Pengukuran BMI juga dipengaruhi oleh jenis kelamin, usia, dan etnik orang yang bersangkutan. Penghitungan BMI berdasarkan rumus = berat badan dalam kilogram dibagi tinggi badan kuadrat dalam meter persegi (dengan satuan kg/m2). Menurut WHO, klasifikasi penilaian BMI sebagai berikut:
  • <18,5  --> Berat badan kurang
  • 18,5-24,9  --> Normal
  • 25-29,9  --> Pra obesitas
  • 30-34,9  --> Obesitas tingkat 1
  • 35-39,9  --> Obesitas tingkat 2
  • >40  --> Obesitas tingkat 3
Walaupun masuk dalam kategori obesitas, tidak semua orang boleh menjalankan operasi untuk menurunkan berat badan. Sebelum memutuskan operasi, kita sebaiknya mencoba beberapa tahapan terapi. Penurunan berat badan harus SMART: Spesific, Measureable, Achieveable, Realistic, dan Time Limited. Yang pertama adalah olahraga dan pengaturan diet. Pengaturan diet terdiri dari pengaturan komposisi rendah kalori dan pola makan dengan tujuan untuk mengubah kebiasaan makan kita. Pembakaran lemak akan lebih mudah dengan adanya masukan jumlah yang cukup dari semua bahan makanan yang esensial bagi tubuh. Tahap kedua adalah penggunaan obat-obatan yang dapat menghambat nafsu makan dan menghambat pengeluaran enzim-enzim pencernaan sehingga mengurangi jumlah penyerapan makanan. Bila tahap pertama dan tahap kedua tidak berhasil, maka akan dilakukan tahap tiga yaitu operasi. Secara keseluruhan, kriteria orang yang dapat melakukan operasi penurunan berat badan antara lain :
  • BMI >40
  • BMI antara 35 - 39.9 dan memiliki masalah kesehatan yang serius seperti diabetes mellitus tipe 2.
2. Apa saja jenis operasi yang tersedia? Prinsip utama operasi ini adalah mengurangi waktu makanan berada di saluran pencernaan. Selama berada di saluran pencernaan, makanan disimpan sementara di dalam lambung. Kemudian makanan diserap di usus halus. Jenis operasi dapat dibagi menjadi 3: restrictive, malabsorptive, dan kombinasi restrictive atau malabsorptive. Mari kita simak penjelasannya di bawah ini:
  • Restrictive operations dapat membatasi jumlah makanan yang dapat masuk ke lambung dengan membagi lambung menjadi 2 bagian dengan bagian atas lebih kecil dari bagian bawah. Akibatnya, jumlah makanan yang dapat ditampung sementara oleh lambung akan berkurang dan akan memperlambat kecepatan pencernaan di lambung.
  • Malabsorptive operations atau intestinal bypasses tidak membatasi jumlah makanan yang dapat ditampung, namun membuang sebagian usus halus sehingga wilayah penyerapan makanan menjadi berkurang. Hal ini sudah jarang dilakukan karena dapat menimbulkan komplikasi kekurangan nutrisi.
  • Combined operations adalah operasi yang paling sering dilakukan. Operasi ini akan membatasi jumlah makanan yang dapat masuk dan jumlah makanan yang akan diserap tubuh. Pasien akan mengalami penurunan berat badan lebih banyak dari restrictive operations sehingga operasi ini lebih dianjurkan pada pasien obesitas lanjut.
3. Apa yang terjadi setelah operasi? Setelah operasi, pasien harus melakukan penyesuaian pola makan. Sebagian besar pasien akan mengalami kehilangan berat badan cukup banyak dan dapat terus berlangsung sampai 18-24 bulan kemudian 4. Komplikasi apa yang mungkin timbul?
  • 20% mengalami muntah, diare, dan keluhan kebocoran asam lambung ke saluran sebelum lambung yaitu saluran kerongkongan yang dikenal sebagai Dumping Syndrome. Pada pasien akan timbul perasaan tidak nyaman setelah makan. Hal ini terjadi karena lambung bergerak terlalu cepat namun usus halus belum siap menerima makanan.
  • Pada wanita, karena pengurangan jumlah wilayah penyerapan vitamin B12, dan besi, maka memperbesar kemungkinan terjadinya anemia selama menstruasi.
  • Memperbesar kemungkinan terjadinya osteoporosis karena pengurangan jumlah wilayah penyerapan kalsium.
  • 7% hernia.
  • 6% infeksi seperti pneumonia.
5. Berapa biaya yang diperlukan? Setelah operasi, akan dibutuhkan opname yang lamanya tergantung kondisi pasien, umumnya selama 2-4 hari dan obat-obatan lainnnya. Di Singapura, total biaya yang diperlukan sekitar SGD 12.000 hingga SGD 20.000. Di Indonesia biaya dapat mencapai 100-150 juta rupiah. DAFTAR PUSTAKA 1. Sugondo Sidartawan. Obesitas. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam. 2006. 2. Lawrence M. Tierney. 2005 CURRENT Medical Diagnosis and Treatment 3. Many Complications for Obesity Surgery http://www.medscape.com/viewarticle/541433 4. Obesity: Epidemiology,Pathophysiology, and Prevention http://content.nejm.org/cgi/reprint/357/24/2526.pdf 5. Assessment of quality of life before and after surgery http://www.ajcn.org 6. Surgery For Obesity http://www.medscape.com/viewarticle/515184