Akhir-akhir ini semakin susah membedakan antara orang yang sudah pernah mengalami pembedahan dengan orang yang belum pernah melakukannya. Jika dulu kita bisa mengetahui seseorang mengalami operasi hanya dengan melihat bekas luka panjang dan lebar yang tertinggal pada tubuhnya, maka sekarang ini hal itu tidak bisa dijadikan patokan lagi. Itu semua dimungkinkan dengan teknik bedah invasif minimal. Laparoskopi (teropong perut) dan endoskopi adalah contoh dari metode ini. Sejak pengangkatan kandung empedu dengan cara laparoskopi berhasil dilakukan Philippe Mouret dari Lyon (Perancis) tahun 1989, teknologi ini berkembang pesat lalu kemudian masuk ke Indonesia tahun 1991. Perlengkapan utama pada bedah invasif minimal adalah sistem pencitraaan yang meliputi teleskop (kaku dan lentur), endokamera, dan monitor video. Sumber cahaya yang disebut cold light disalurkan lewat serat optik. Untuk melakukan operasi ini dibutuhkan ruangan yang cukup untuk pergerakan alat operasi. Karena itu, digunakan insuflator yang memompakan gas CO2 atau alat pengangkat dinding perut yang dimasukkan lewat pusar untuk operasi pada rongga peritonium. Untuk rongga dada, paru pada sisi tempat akan dilaksanakannya operasi dikempeskan terebih dahulu sehingga terdapat ruang gerak. Untuk operasi di luar kedua rongga tersebut, dipakai semacam balon yang ditiup di antara lapisan yang akan dioperasi. Beberapa macam operasi yang bisa dilakukan dengan metode ini di antaranya adalah pengangkatan kandung empedu, limpa, anak ginjal, usus besar; operasi batu empedu; operasi usus buntu; operasi hernia inguinal; dan pengikatan bagian atas lambung untuk mengatasi refluks serta beberapa operasi kebidanan. Penelitian oleh tim dari Universitas Massachusetts tentang operasi kolesistektomi (pengangkatan kandung empedu) teknik laparoskopi mini menunjukkan bahwa tidak ada komplikasi post operasi yang berarti pada kedua alat ini. Sembilan puluh persen pasien yang menggunakan teknik operasi mini laparoskopi lebih tidak merasakan nyeri 2 minggu setelah operasi. Operasi ini juga hanya memerlukan waktu yang singkat dan meninggalkan empat bekas luka sebesar 10mm atau kurang di sekitar pusar saja! Tiga luka lainnya ada di sekitar ulu hati, dada, dan samping badan. Operasi usus buntu kini hanya membutuhkan 3 lubang berukuran 10mm di pusar, suprapubis, dan antara pusar dengan pubis. Dunia kedokteran terus berusaha berkembang meningkatkan kepuasan pasien dengan diperkenalkannya operasi tanpa bekas luka sama sekali seperti yang dilakukan tim Operasi Anubis, melalui alat yang dimasukkan lewat selang dari vagina. Operasi yang dilaksanakan pada 2 April 2007 di University Hospital of Strasbourg Prancis oleh Professor Jacques Marescaux dan timnya ini berhasil mengangkat kantung empedu dengan hanya ‘menorehkan’ 2mm lubang untuk memasukkan sistem video kamera sekaligus sebagai insuflator. Dibandingkan operasi laparoskopi yang biasanya membuat sekitar 4 lubang seukuran 10mm, yang dilakukan tim ini sangatlah spektakuler. Beberapa keuntungan pembedahan invasif minimal adalah operasi pengangkatan kantung empedu dan usus buntu aman dilakukan saat kehamilan sebelum trimester kedua; teknik mediastinoskopi dan laparoskopi membantu penentuan stadium kanker secara lebih akurat; teknik invasif minimal juga menunjang sebagai operasi yang relatif aman pada usia lanjut dan lemah; biaya operasi jenis ini pun lebih murah daripada operasi konvensional karena masa rawat inap di RS menjadi lebih singkat. So, operasi yang meninggalkan jaringan parut?! udah ga zaman kali... Referensi: Novitsky, Yuri W et al. December 2005. Advantages of Mini-laparoscopic vs Conventional Laparoscopic Cholesystectomy, Results of a Prospective Randomized Trial in Archives of Surgery (Arch Surg 2005;140:178-1183) Schwartz, Seymour I (Editor-in-Chief). 1999. Principles of Surgery, Seventh Edition Volume 2. New York: McGraw-Hill Sjamsuhidajat R dan de Jong, Wim (Editor). 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta: EGC www.news-medical.net