blood_sugar_imAngka kejadian Diabetes Mellitus (DM) kian menunjukkan peningkatan, menurut konsensus para ahli endokrin Indonesia tahun 2002, diperkirakan terdapat kira-kira 7 juta penduduk Indonesia menderita DM pada tahun 2020. Diabetes Mellitus merupakan kelainan metabolik endokrin yang dapat menyerang pada semua kelompok umur dan jenis kelamin, akan tetapi pada beberapa penelitian menunjukkan bahwa, kelainan ini ada korelasinya dengan perubahan mutasi pada jenis gen tertentu, sehingga sifatnya akan diturunkan pada garis keturunan secara langsung. Beberapa faktor juga dapat memicu timbulnya kelainan ini diantaranya pola makan yang kelebihan karbohidrat, berat badan berlebih, peminum alkohol berat dan lain-lain. Akan tetapi semua faktor di atas dapat dicegah dengan perbaikan gaya hidup. Sebenarnya keadaan yang ditimbulkan pada DM ini dapat diatasi dengan pengobatan yang adekuat dan diet makanan yang seimbang, akan tetapai yang ditakutkan adalah timbulnya komplikasi pada penderita DM. Seperti yang kita ketahui bahwa DM merupakan kelainan metabolik endokrin pada tubuh manusia, sebagai akibat peningkatan kadar gula darah di dalam aliran darah, sehingga menyebabkan perlambatan aliran darah karena konsentrasi dan viskositas yang meningkat. Keadaan seperti ini lama kelamaan akan menimbulkan kerusakan beberapa organ vital yang bersifat endartery seperti ginjal, jantung, otak dan retina pada mata. Kerusakan ini akan menimbulkan gangguan fungsi ginjal sampai terjadi gagal ginjal, penyumbatan pembuluh darah koroner jantung dan menyebabkan penyakit jantung koroner, penyumbatan pembuluh darah otak yang bisa menyebabkan stroke serta menimbulkan kebutaan jika terjadi penyumbatan pembuluh darah pada organ mata terutama retina. Peranan dokter umum di dalam kesehatan masyarakat adalah mencegah terjadinya kelainan, menemukan diagnosis lebih dini pada kelompok populasi dengan faktor risiko yang tinggi dan mencegah komplikasi yang terjadi kalau seseorang telah mengalami kelainan ini. Selain pemberian pengobatan yang adekuat dan menjaga pola makan yang baik, penderita perlu melakukan pemeriksaan fisik, laboratorium dan pemeriksaan penunjang lain seperti rontgen atau funduskopi dan elektrokardiogram (rekam jantung) secara berkala. Pemeriksaan di atas bertujuan untuk mengetahui lebih dini komplikasi yang terjadi pada penderita DM, sehingga dapat dicegah dan diobati lebih dini. Salah satu pemeriksaan laboratorium yang digunakan untuk mengetahui komplikasi lebih dini dan mengontrol kepatuhan berobat penderita DM adalah pemeriksaan kadar HbA1c. Apakah yang dimaksud dengan pemeriksaan kadar HbA1c? HbA1c yang lebih dikenal dengan hemoglobin glikat, adalah salah satu fraksi hemoglobin di dalam tubuh manusia yang berikatan dengan glukosa secara enzimatik. Hal ini dapat dimengerti jika kadar glukosa yang berlebih akan selalu terikat di dalam hemoglobin, juga dengan kadar yang tinggi. Akan tetapi kadar HbA1c yang terukur sekarang atau "sewaktu" mencerminkan kadar glukosa pada waktu 3 bulan yang lampau (sesuai dengan umur sel darah merah manusia kira-kira 100-120 hari), sehingga hal ini dapat memberikan informasi seberapa tinggi kadar glukosa pada waktu 3 bulan yang lalu. Dengan melakukan pemeriksaan ini kita juga dapat mengetahui seberapa besar kepatuhan dalam berobat pada penderita DM. Sebagai ilustrasi seorang penderita telah didiagnosis DM kira-kira 3 tahun dan telah diberikan pengobatan yang adekuat, namun seberapa patuh atau teraturnya pasien tersebut minum obat, kita tidak dapat mengetahui dengan pasti. Setiap datang kontrol ke dokter selalu membawa hasil pemeriksaan laobatorium (Glukosa darah) yang normal atau sedikit lebih tinggi, hal ini bisa terjadi jika pasien minum obat 2 atau 3 hari sebelum kontrol ke dokter dengan dosis yang teratur, akan tetapi setelah diukur kadar HbA1c, ternyata menunjukkan hasil yang tinggi, hal ini menunjukkan kepatuhan berobat atau minum obat masih rendah. Selain dapat memberikan informasi mengenai kepatuhan berobat penderita DM, juga dapat memprediksi kemungkinan terjadinya komplikasi dan prognosis (dugaan perbaikan). Berapakah nilai rujukan kadar HbA1c? Sebenarnya pada manusia normal, juga terdapat keterikatan antara hemoglobin dengan glukosa, tetapi dalam jumlah yang normal yaitu sekitar 4-6 %, pada penderita DM yang diprediksi memiliki kerentanan terhadap terjadinya komplikasi adalah di atas 8 - 10%. Jika melebihi 10% berarti penderita harus selalu diwaspadai untuk berobat secara teratur dan berusahan untuk menghindari risiko terjadinya komplikasi yang bakal terjadi serta mengatur pola hidup yang lebih baik. Sebagai kesimpulan, peranan pemeriksaan kadar HbA1c penting di dalam mengontrol kepatuhan pengobatan dan memprediksi kemungkinan terjadinya komplikasi berbagai organ pada penderita DM.