IVF (In Vitro Fertilization), lebih populer dengan sebutan bayi tabung dikenal sejak beberapa dekade ini sebagai teknik canggih untuk menolong pasutri kurang subur dalam memperoleh anak, bila cara-cara alami ataupun teknik kedokteran sederhana gagal. Sampai saat ini jutaan bayi tabung telah dilahirkan di seluruh dunia dengan teknik bayi tabung. Dari Indonesia sendiri kurang lebih 2000 bayi tabung telah dilahirkan sejak teknik ini mulai dilakukan pada tahun 1987. IVM merupakan teknik terbaru dalam program bayi tabung dan sangat populer akhir-akhir ini. IVM merupakan singkatan dari In Vitro Maturation (in vitro = di dalam gelas; maturation = proses pematangan). Jadi pengertian IVM adalah teknik bayi tabung dengan mematangkan sel telur di laboratorium sebelum dibuahi dan dipindahkan dalam bentuk embrio ke dalam rahim. Keberhasilan teknik IVM pada manusia pertama sekali dilaporkan pada tahun 1991  oleh Cha (Korea) dimana oosit diambil dari biopsi ovarium saat melakukan operasi sesar. Selanjutnya Trouson (Australia), pada tahun 2004 telah melaporkan kelahiran bayi IVM pada pasien dengan SOPK (sindroma ovarium polikistik). Dengan bertambah baiknya teknik IVM terutama teknik kultur,  keberhasilan teknik IVM sekarang ini cukup memuaskan. Prosedur IVM   Berbeda dengan teknik IVF dimana kepada istri harus diberikan pengobatan hormon yang harganya mahal selama beberapa minggu untuk menumbuhkan dan mematangkan sel telur pada indung telur, pada teknik IVM tidak atau sedikit sekali memerlukan pengobatan hormon. Pengambilan sel telur dilakukan dari folikel-folikel kecil dengan diameter kurang dari 10 mm, lalu sel telur imatur ini dimatangkan hingga 24-48 jam dalam medium biakan khusus di laboratorium. Selanjutnya sel telur yang matang dibuahi dengan sperma suami dengan teknik ICSI (intracytoplasmic sperm injection) yaitu dengan menyuntikkan 1 sperma ke dalam sel telur. Transfer embrio dilakukan dengan memindahkan 2 atau 3 embrio pada hari ke-2 atau 3 setelah prosedur ICSI. Terjadinya kehamilan dapat diketahui 2 minggu setelah transfer embrio. Tujuan teknik IVM   Beberapa kelebihan dari IVM adalah cara dan lama pengobatan lebih sederhana dan singkat. Pasien tidak/sedikit sekali memerlukan pemberian obat hormon. Dengan demikian biaya akan menjadi jauh lebih murah, pasien akan merasa lebih nyaman dan dapat terhindar dari efek samping yang dapat terjadi akibat pemberian hormon seperti : bertambahnya berat badan, perut kembung, nyeri payudara, mual, gangguan emosi, dan yang paling penting adalah menghindarkan terjadinya sindroma hiperstimulasi ovarium (SHO) yaitu respons ovarium yang berlebihan yang dapat berakibat fatal akibat pemberian hormon. Oleh karena itu IVM sangat bermanfaat pada pasien-pasien dengan ovarium polikistik/sindroma ovarium polikistik/sindrom ovarium polikistik yang mempunyai resiko tinggi terjadinya SHO. Saat ini teknik IVM juga banyak dilakukan untuk pasien-pasien usia muda (kurang dari 35 tahun) dimana jumlah folikel cukup banyak. IVM juga dilaporkan dapat menolong pasien-pasien yang berulang kali gagal dengan teknik bayi tabung yang biasa dilakukan.   Perkembangan teknik IVM di Indonesia   Keberhasilan bayi tabung dengan teknik IVM di Indonesia pertama sekali  dilaporkan oleh tim Family Fertility Center, RSIA Family Jakarta pada tahun 2009. Sampai saat ini tim FFC telah menghasilkan 8 kehamilan dari 24 program IVM dan 3 bayi telah dilahirkan. Untuk menekan biaya dan meningkatkan keberhasilan bayi tabung, dalam waktu dekat ini tim FFC akan menerapkan Natural IVM (IVM alamiah, tanpa memberikan obat untuk stimulasi ovarium) serta simpan beku sel telur.   Teknik IVM di masa datang   Salah satu masalah penting dalam penerapan program bayi tabung di seluruh dunia terutama di negara sedang berkembang seperti Indonesia adalah biaya obat-obatan dalam program bayi tabung  yang sangat mahal. Dengan segala kelebihannya baik dalam hal biaya, kemudahan, kenyamanan dan keamanan, teknik IVM saat ini banyak mendapat perhatian dari berbagai sentra di seluruh dunia sebagai teknik bayi tabung dengan masa depan yang menjanjikan. Diharapkan dengan bertambah baiknya berbagai aspek IVM seperti sistim kultur, teknik pengambilan sel telur yang lebih baik, keberhasilan teknik IVM akan lebih memuaskan. Bagi negara-negara sedang berkembang seperti Indonesia hal ini tentu berarti akan lebih banyak lagi pasien-pasien infertilitas yang mendapat kesempatan untuk memperoleh dan menikmati teknologi bayi tabung.