Sunat atau khitan atau sirkumsisi adalah tindakan memotong atau menghilangkan sebagian atau seluruh kulit penutup depandari penis. Kata sirkumsisi sendiri berasal dari bahasa Latin circum (berarti "memutar") dan caedere (berarti "memotong"). Sejak dahulu, secara rutin sunat dilakukan pada setiap laki-laki muslim dan Yahudi. Bahkan pada awalnya para pendeta Kristenpun diharuskan sunat. Sunat dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu cara konvensional dan modern. Cara konvensional maksudnya dilakukan dengan operasi, sementara cara modern dengan menggunakan sinar laser. Keuntungan penggunaan cara modern adalah operasi lebih cepat, perdarahan tidak ada/sangat sedikit, penyembuhan cepat, rasa sakit setelah operasi minimal, aman, dan hasil secara estetik lebih baik. Dari segi kesehatan terbukti bahwa sunat sangat menguntungkan bagi kesehatan. Manfaat sunat atau sirkumsisi amat disadari dan justru dipraktekkan di negara Barat. Delapan puluh persen bayi di Amerika Serikat disunat, dan setiap tahun sekitar 1,2 juta bayi laki-laki di sana disunat. Di Kanada, 48 persen dari laki-laki disunat. Sekadar informasi, Hutchinson pada tahun 1855 melaporkan bahwa sunat mungkin sekali dapat mencegah seseorang tertular penyakit sifilis. Sunat terbukti menurunkan risiko infeksi saluran kemih. Penelitian menunjukkan, 7-14 per 1000 bayi yang tidak disunat mengalami infeksi saluran kemih. Bandingkan dengan hanya 1-2 per 1000 bayi yang disunat. New England Journal Medicine melaporkan hasil penelitian yang amat meyakinkan. Diteliti 1913 pasangan studi kasus terkontrol yang terkait dengan kanker leher rahim yang berasal dari lima negara. Hasilnya sebagai berikut: infeksi HPV pada penis ditemukan pada 166 orang dari 847 laki-laki yang tidak disunat (19,6 persen). Bandingkan dengan hanya 5 persen infeksi HPV pada laki-laki yang disunat (16 dari 292 laki laki yang disunat). Diketahui bahwa infeksi HPV merupakan salah satu penyebab terjadinya kanker leher rahim. Dengan demikian maka sunat akan menurunkan risiko kanker leher rahim pada pasangan karena menurunkan risiko infeksi HPV pada penis. Sunat juga dapat menurunkan risiko kanker penis. Hal ini disebabkan selain karena risiko terinfeksi HPV menurun juga karena tidak ada kotoran yang menumpuk akibat terhalang oleh kulit sehingga tidak terjadi peradangan kronis pada penis yang dapat memicu timbulnya kanker penis. Penyakit lain yang dapat dihindarkan dengan sunat, misalnya phimosis, paraphimosis, dan candidiasis. Pria yang disunat relatif lebih higienis, pada masa tua lebih mudah merawat bagian tersebut dan secara seksualitas lebih menguntungkan (lebih bersih, tidak mudah lecet/ iritasi, dan terhindar dari ejakulasi dini). Bagaimana dengan sunat pada wanita? Berbeda dengan sunat pada pria, sunat pada wanita sangat tidak dianjurkan. Selain karena dasar agamanya tidak ada, sunat pada wanita juga terbukti tidak membawa manfaat apa-apa untuk kesehatan. Sunat pada wanita dilakukan dengan jalan pemotongan klitoris sedangkan klitoris sendiri adalah salah satu bagian peka rangsangan pada kelamin wanita. Rangsangan pada klitoris yang terjadi selama melakukan hubungan seksual memudahkan wanita mencapai orgasme dan kepuasan seksual. Kalau klitoris tidak ada lagi, berarti wanita sulit menerima rangsangan seksual ketika melakukan hubungan seksual. Akibatnya sulit atau terhambat mencapai orgasme dan kepuasan seksual, bahkan jika terlalu banyak bagian klitoris yang terbuang dapat menyebabkan disfungsi seksual pada wanita kelak, sehingga tentu menurunkan kualitas hidupnya.