Stres diartikan sebagai sebuah kondisi di mana seseorang mengalami perubahan perilaku sebagai akibat adanya penekanan - penekanan tertentu (stimulus). Stimulus untuk terjadinya stres bersifat multifaktorial, yakni dapat disebabkan karena masalah pekerjaan, masalah pribadi (masalah keuangan dan masalah keluarga), penyakit kronis, trauma, dan juga faktor  psikologis. Kondisi stres dapat mempunyai efek yang positif dan juga negatif terhadap seseorang. Stressor dalam jumlah yang cukup dapat membantu seseorang untuk menjadi lebih aktif, teliti dan juga membuatnya menjadi lebih fokus sedangkan stressor dalam jumlah berlebih dan berkepanjangan dapat mempengaruhi kondisi kesehatan seseorang. Dalam keadaan stres, hormon kortisol dan adrenalin dilepaskan ke dalam peredaran darah, sehingga mengakibatkan peningkatan laju denyut jantung, peningkatan tekanan serta reaktivitas sistem fibrinogen dan trombosit yang pada akhirnya dapat meningkatkan resiko terjadinya penyakit jantung.  Paparan stres secara berulang mempengaruhi fungsi otak, terutama daerah hipokampus di mana reseptor kortisol berada dalam jumlah yang besar. Gangguan pada daerah ini dapat mengurangi realibilitas dan ketajaman daya ingat. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Lisa Dawn et al, didapatkan penurunan kadar hormon kortisol pada wanita yang dibangkitkan gairah seksualnya. Kadar kortisol mengalami penurunan sebanyak 0,015 ug/dl, yakni dari 0.115 ug/dl hingga 0,100 ug/dl. Penelitian ini melibatkan 30 wanita yang berumur 21 hingga 51 tahun dimana mereka diberi waktu 15 menit untuk menonton film erotis yang menayangkan berbagai adegan seksual. Kadar hormon kortisol para wanita ini diukur  sebelum dan sesudah menonton film erotis tersebut. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Rellini et al, hormon kortisol didapatkan meningkat setelah sampel penelitian diberi waktu untuk menonton film erotis. Akan tetapi, sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah wanita-wanita yang mempunyai pengalaman buruk dalam hal hubungan seksual yaitu riwayat pelecehan seksual pada masa kecilnya. Hal ini menyebabkan perasaan cemas saat diberikan rangsangan audiovisual sehingga tubuh merespon hal tersebut dengan memproduksi hormon kortisol yang menyebabkan hasil penelitian tersebut tidak sesuai dengan yang diharapkan peneliti. Perilaku dan teknik dalam melakukan hubungan seksual sangat menentukan efektivitas dari hubungan tersebut. Dorongan seksual sangat dipengaruhi hormon seks (testosreron), rangsangan seksual yang diterima,  faktor psikososial, dan pengalaman seksual sebelumnya. Apabila faktor-faktor tersebut dirasa nyaman oleh masing - masing pasangan, maka hubungan seksual dapat berjalan dengan baik dan efeknya menjadi lebih optimal. Dorongan seksual akan menjadi semakin kuat jika terdapat rangsangan seksual dari luar, baik berupa rangsangan fisik maupun rangsangan psikis. Berbagai macam rangsangan seksual yang bersifat fisik, seperti ciuman dan rabaan, dapat membangkitkan dorongan seksual. Demikian juga rangsangan yang bersifat psikis, seperti rangsangan audiovisual, misalnya suara yang merdu, gambar erotis, dan bau parfum. Seseorang yang mengalami gangguan kesehatan, misalnya mengalami gangguan fungsi hati, mungkin dorongan seksualnya menurun karena metabolisme hormonnya terganggu. Kalau terjadi hambatan psikis, misalnya mengalami kekecewaan atau tekanan mental yang berat, dorongan seksual sangat mungkin tertekan. Bau badan yang mengganggu juga merupakan contoh hambatan psikis yang menekan dorongan seksual. Sebagai kesimpulan, hubungan seksual dapat mengurangi tingkatan stress seseorang. Oleh karena itu, efektivitas dari hubungan seksual harus dijaga sehingga dapat mempunyai efek yang optimal. Referensi:
  • J.Karnadi: Stres Dalam Kehidupan Sehari-hari. In Cermin Dunia Kedokteran. Volume 123; 20-22.
  • Sean M. Smith and Wylie W.Vale (2006). "The role of the hypothalamic-pituitary-adrenal axis in neuroendocrine responses to stress." Dialogues in Clinical Neuroscience 8: 367-380.
  • Lisa Dawn Hamilton B, Alessandra H.Rellini P, Cindy M.Meston P: Cortisol, Sexual Arousal, and Affect in Response to Sexual Stimuli. 2008:2111-2118.
  • Rellini A, Meston C: Psychophysiological Sexual Arousal in Women With a History of Childhood Sexual Abuse. Journal of sexual Marital Ther 2006, 32:5-22.
  • Prof. DR. Dr. Wimpie Pangkahila SA: Benarkah Dorongan Seks Pria Jauh Lebih Kuat? ; 2005.