Mendapatkan pasangan hidup tentu merupakan keinginan dari setiap orang, baik pria maupun wanita. Akan tetapi bagaimana bila pasangan hidup yang anda inginkan ternyata berasal dari jenis kelamin yang sama? Apakah hal ini normal? Apalagi di jaman modern seperti ini semakin banyak pasangan yang sama jenis kelaminnya menampilkan diri secara terbuka pada masyarakat. Bagaimana menyikapi ketertarikan terhadap sesama jenis? Homoseksualitas adalah suatu orientasi seksual dimana seseorang tertarik dan terangsang dengan pasangan yang sama jenis kelaminnya. Biasanya pasangan pria dengan pria disebut gay sedangkan sesama wanita disebut lesbian. Homoseksualitas tidak harus berarti melakukan hubungan seksual dengan sesama jenis tetapi dapat berupa ketertarikan secara fisik dan timbulnya romantisme bila bersama dengan pasangan sesama jenisnya. Homoseksualitas telah menjadi polemik tersendiri dalam masyarakat saat ini, ada yang menganggap hal ini tidak normal karena bertentangan dengan norma-norma sosial dan agama yang ada, akan tetapi ada yang menganggap hal ini normal karena ini merupakan kebebasan seseorang dalam menentukan pasangan hidupnya dan kepada siapa dia tertarik. Dalam dunia kesehatan sendiri, homoseksualitas tidak dianggap abnormal atau suatu kelainan, karena pada dasarnya homoseksualitas adalah suatu variasi orientasi seksual dimana seseorang memilih sesama jenisnya sebagai pasangannya. Ada berbagai teori yang mencoba menjelaskan mengapa homoseksualitas dapat muncul, akan tetapi para ahli bersepakat bahwa hal ini bukan disebabkan oleh satu faktor saja tetapi merupakan kombinasi berbagai macam faktor seperti genetik, hormonal dan pengaruh lingkungan. Menetapkan apakah seseorang homoseksual atau tidak tidaklah mudah, apalagi hal ini sangat dipengaruhi oleh budaya dimana orang tersebut dibesarkan. Misalnya di budaya timur adalah tidak wajar bila dua orang pria berjalan sambil bergandengan tangan atau sesekali berpelukan hangat sedangkan bila wanita wajar saja melakukannya, padahal di budaya barat justru kebalikannya dimana bila wanita berjalan bergandengan tangan malah dianggap sebagai indikator bahwa dia lesbian. Jadi secara spesifik untuk menyatakan bahwa seseorang homoseksual adalah bila dia sudah berulang kali mengalami ketertarikan dengan sesama jenis dan hanya mengalami kepuasaan seksual bila bersama sesama jenisnya. Bahkan dalam fantasi seksualnya, dia selalu mengkhayalkan pasangannya dari sesama jenis bukan lawan jenis. Biasanya gay atau lesbian lebih senang berkumpul dengan lawan jenisnya sebagai teman jalan-jalan (hang-out) dibandingkan dengan sesama jenisnya, tetapi hal ini bukanlah patokan yang tepat. Sering disalahartikan oleh masyarakat bahwa bila mereka pasangan homoseksual, maka salah satunya harus mengambil peran sebagai lawan jenisnya, misalnya bila pasangan gay maka salah satunya harus berperan feminin dan yang lainnya maskulin, begitu juga bila lesbian. Homoseksualitas harus dibedakan dengan transeksualisme atau keinginan untuk merubah dirinya menjadi serupa dengan lawan jenisnya misalnya waria. Memang sebagian besar waria cenderung untuk berpasangan dengan sesama jenisnya dalam hal ini pria, tetapi hal ini lebih didorong karena waria merasa dia wanita secara mental karena itu ia tertarik pada pria. Sedangkan homoseksual secara mental sadar bahwa ia tertarik dengan sesama jenisnya dan tidak perlu merubah kelakuannya untuk disesuaikan dengan pasangan yang umumnya berlaku di masyarakat. Pasangan gay ataupun lesbian dapat terlihat sebagaimana pria dan wanita pada umumnya tanpa perlu menjadi kelaki-lakian atau kewanita-wanitaan. Homoseksual secara garis besar dapat dibagi menjadi : 1)seksual aktif artinya hanya dapat berhubungan seksual dengan sesama jenisnya dan biasanya menunjukkan dengan nyata bahwa dia gay atau lesbian. 2)biseksual artinya dapat berhubungan baik dengan sesama jenis maupun sesama jenis. Pada dasarnya biseksual adalah homoseksual yang dapat mengendalikan dorongan homoseksualitasnya sehingga dapat berhubungan dengan lawan jenisnya. 3)homoseksual terpendam artinya orang ini melakukan aktivitas homoseksual secara diam-diam (rahasia) karena berbagai alasan yang melatarbelakangi. Homoseksual harus dibedakan pada pekerja seks komersial yang memang dapat melakukannya dengan sesama maupun lawan jenisnya karena tuntutan profesi atau demi uang, bukan atas dasar perasaan ketertarikan seksual. Dalam melakukan hubungan seksual, banyak cara yang dapat dilakukan mulai dari masturbasi mutual, oral seks, anal seks pada gay dan penggunaan seks toy pada wanita. Umumnya didahului foreplay layaknya pasangan pada umumnya. Adalah suatu kesalahan bila mengidentikkan penularan HIV/AIDS dengan pasangan gay, memang angka penularan HIV/AIDS tinggi pada pasangan gay, akan tetapi hal ini lebih disebabkan oleh lapisan kulit pada anus lebih tipis dari vagina, sehingga mudah terluka dan menjadi tempat masuknya virus saat melakukan hubungan seksual secara anal. Juga suatu kekeliruan bila ada anggapan bahwa berhubungan dengan sesama jenis lebih nikmat daripada dengan lawan jenis karena sesama jenis lebih mengerti bagaimana memuaskan pasangannya, karena pada dasarnya pasangan homoseksual sama dengan pasangan heteroseksual dimana perasaan berperan dalam proses pencapaian kepuasaan seksual. Tentu akan lebih aman bila pasangan homoseksual juga menggunakan perlindungan diri seperti kondom ( baik kondom pria maupun kondom wanita) untuk keamanannya masing-masing. Jadi kesimpulannya, pasangan homoseksual itu sama dengan pasangan heteroseksual pada umumnya hanya saja pasangannya berasal dari jenis kelamin yang sama. Selama orang yang gay atau lesbian dapat menerima keadaan dirinya biasanya tidak akan timbul masalah dalam dirinya, namun karena suatu alasan atau lainnya mereka tidak dapat menerima keadaan dirinya atau ada keinginan untuk berumah tangga dengan lawan jenisnya, maka sebaiknya anda berkonsultasi dengan psikiater anda secara intensif agar dapat menjalankannya dengan nyaman sehingga tidak timbul masalah dalam perjalanan kehidupan selanjutnya.