Bila seseorang terinfeksi HIV untuk pertama kali dan kemudian memeriksakan diri dengan menjalani tes darah, maka dalam tes pertama tersebut belum tentu dapat dideteksi adanya virus HIV di dalam darah. Hal ini disebabkan kaena tubuh kita membutuhkan waktu sekitar 3-6 bulan untuk membentuk antibodi yang nantinya akan dideteksi oleh tes darah tersebut. Masa ini disebut window period (periode jendela). Dalam masa ini, bila orang tersebut ternyata sudah mempunyai virus HIV di dalam tubuhnya (walaupun belum bisa di deteksi melalui tes darah), ia sudah bisa menularkan HIV. Seiring dengan memburuknya kekebalan tubuh, orang yang terinfeksi HIV mulai menampakan gejala-gejala akibat infeksi oportunistik (infeksi tambahan yang terjadi bersamaan dengan infeksi lainnya), seperti berat badan menurun lebih dari 10% dalam waktu singkat, demam tinggi berkepanjangan (lebih dari satu bulan), rasa lemah, pembesaran kelenjar getah bening, diare berkepanjangan (lebih dari satu bulan), batuk berkepanjangan (lebih dari satu bulan), TBC, kelainan kulit dan iritasi (gatal), infeksi jamur, herpes, dan lainnya. Penularan HIV/AIDS terjadi melalui : Cairan darah :
  • Melalui transfusi darah / produk darah yang sudah tercemar HIV
  • Lewat pemakaian jarum suntik yang sudah tercemar HIV, yang dipakai bergantian tanpa disterilkan, misalnya pemakaian jarum suntik dikalangan pengguna narkotika suntikan
  • Melalui pemakaian jarum suntik yang berulangkali (tidak diganti baru) dalam kegiatan lain, misalnya : peyuntikan obat, imunisasi, pemakaian alat tusuk yang menembus kulit, misalnya alat tindik, tato, dan alat facial wajah
Cairan sperma dan cairan vagina :
  • Melalui hubungan seks, baik homoseksual maupun heteroseksual yang dapat terjadi melalui cara penetratif (penis masuk ke dalam vagina/anus), tanpa menggunakan kondom, sehingga memungkinkan tercampurnya cairan sperma dengan cairan vagina (untuk hubungan seks lewat vagina) atau tercampurnya cairan sperma dengan darah, yang mungkin terjadi dalam hubungan seks lewat anus.
  • Hubungan seksual secara anal (lewat dubur) paling berisiko menularkan HIV, karena epitel mukosa anus relatif tipis dan lebih mudah terluka dibandingkan epitel dinding vagina, sehingga HIV lebih mudah masuk ke aliran darah. Dalam berhubungan seks vaginal, perempuan lebih besar risikonya daripada pria karena selaput lendir vagina cukup rapuh. Di samping itu, karena cairan sperma akan menetap cukup lama di dalam vagina, kesempatan HIV masuk ke aliran darah menjadi lebih tinggi. HIV di cairan vagina atau darah tersebut, juga dapat masuk ke aliran darah melalui saluran kencing pasangannya.
Air Susu Ibu :
  • Penularan ini dimungkinkan dari seorang ibu hamil yang HIV positif, dan melahirkan lewat vagina (lahir secara alamiah, tidak dengan sesar), kemudian menyusui bayinya dengan ASI.
  • Kemungkinan penularan dari ibu ke bayi (Mother-to-Child Transmission) ini berkisar hingga 30%, artinya dari setiap 10 kehamilan dari ibu HIV positif kemungkinan ada 3 bayi yang lahir dengan HIV positif.
Oleh karena itu, kelompok risiko tinggi terhadap HIV/AIDS terdapat pada pengguna narkotika, pekerja seks komersil dan pelanggannya, serta narapidana. Namun, saat ini, infeksi HIV/AIDS juga telah mengenai semua golongan masyarakat, baik kelompok risiko maupun masyarakat umum.