Seiring dengan berkembangnya jaman, pertumbuhan penduduk di dunia khususnya di Indonesia telah bertambah dengan pesat. Program Keluarga Berencana menjadi program yang sangat berperan dalam menanggulangi permasalahan ini. Selain itu program ini juga berperan penting dalam meningkatkan angka keselamatan ibu dan bayi dengan memberi jarak yang cukup dengan persalinan berikutnya. Namun sejauh mana kita telah memahami program ini? Kapan saat yang tepat untuk memulai kontrasepsi pasca persalinan? Dan kontrasepsi apa yang tepat untuk digunakan? Secara umum, ada beberapa jenis metode kontrasepsi, antara lain kontrasepsi hormonal (seperti KB suntik, KB susuk/inplant, dan pil KB), kontrasepsi mekanik (seperti alat kontrasepsi dalam rahim/IUD, diaprahma, dan kondom), dan kontrasepsi mantap (tubektomi dan vasektomi). Kontrasepsi pasca persalinan merupakan inisiasi pemakaian metode kontrasepsi dalam waktu 6 minggu pertama pasca persalinan untuk mencegah terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan khususnya pada 1-2 tahun pertama pasca persalinan. Pada wanita pasca melahirkan kemungkinan untuk hamil kembali akan menjadi lebih kecil apabila mereka terus menyusui anaknya setelah dilahirkan. Hal ini berkaitan dengan peningkatan kadar hormon prolaktin saat masa menyusui/laktasi. Hormone prolaktin yang meningkat akan mencegah terjadinya ovulasi dan memperlama masa tidak datangnya haid/menstruasi pasca melahirkan (amenorea postpartum). Meskipun laktasi dapat membantu mencegah kehamilan, akan tetapi suatu saat ovulasi tetap akan terjadi. Ovulasi dapat mendahului menstruasi pertama pasca melahirkan dan pembuahan pun akan dapat terjadi. Pemilihan metode kontrasepsi untuk ibu pasca melahirkan perlu dipertimbangkan dengan baik, sehingga tidak mengganggu proses laktasi dan kesehatan bayinya. KONTRASEPSI NON HORMONAL Semua metode kontrasepsi non hormonal dapat digunakan oleh ibu-ibu dalam masa menyusui. Metode ini menjadi pilihan utama dari berbagai jenis kontrasepsi yang ada karena tidak mengganggu proses laktasi dan tidak berisiko terhadap tumbuh kembang sang bayi. Metode kontrasepsi non hormonal yang ada meliputi : metode laktasi amenorrhea (LAM/ Lactational Amenorrhea Method), kondom, spermisida, diafragma, alat kontrasepsi dalam rahim / IUD, pantang berkala, dan kontrasepsi mantap (tubektomi / vasektomi). Pemakaian alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR/IUD) dapat dilakukan segera setelah proses persalinan atau dalam waktu 48 jam pasca persalinan. Jika lewat dari waktu tersebut, maka pemakaian AKDR akan ditunda hingga 6-8 minggu kemudian oleh karena risiko perforasi atau ekspulsi lebih besar jika pemasangan AKDR dilakukan pada minggu ke 2-6 setelah persalinan. Kontrasepsi mantap (tubektomi dan vasektomi) dapat dianggap sebagai metode kontrasepsi yang tidak reversibel. Metode ini mengakibatkan yang bersangkutan tidak dapat hamil atau tidak dapat menyebabkan kehamilan lagi, sehingga metode ini lebih diperuntukkan bagi pasangan yang memiliki cukup anak dan tidak menginginkan untuk menambah jumlah anak lagi.   KONTRASEPSI HORMONAL Pemakaian kontrasepsi hormonal dipilih yang berisi progestin saja, sehingga dapat digunakan untuk wanita dalam masa laktasi karena tidak mengganggu produksi ASI serta tumbuh kembang bayi. Metode ini bekerja dengan menghambat ovulasi, mengentalkan lendir serviks sehingga menghambat penetrasi sperma, menghalangi implantasi ovum pada endometrium dan menurunkan kecepatan transpor ovum di tuba. Suntikan progestin dapat diberikan sebelum sang ibu meninggalkan rumah sakit pasca bersalin, yaitu sebaiknya sesudah ASI terbentuk, kira-kira hari ke 3-5. Untuk wanita pasca bersalin yang tidak menyusui, semua jenis metode kontrasepsi dapat digunakan, kecuali LAM. Waktu pemakaian kontrasepsi tergantung dari jenis metode yang digunakan. AKDR, kontrasepsi mantap, dan suntik progestin dapat diberikan segera setelah persalinan. Pemakaian kontrasepsi hormonal yang berisi kombinasi estrogen dan progesteron harus ditunda hingga 3 minggu setelah persalinan untuk mencegah terjadinya risiko gangguan pembekuan darah. Namun demkian, patut diingat bahwa tidak ada satu pun metode kontrasepsi yang memiliki effektifitas 100%. Untuk itu pengetahuan yang baik diperlukan sebelum memilih dan menggunakan metode kontrasepsi tertentu. Adanya konsultasi dengan praktisi kesehatan/dokter terlebih dahulu sangat disarankan sehingga didapatkan pemahaman yang baik tentang kontrasepsi yang akan digunakan. Referensi :
  1. Wiknjosastro H, et al. Ilmu Kandungan. PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta. 2008.
  2. Ferrel B, Huber D. Comprehensive Reproductive Health and Family Planning Training Curriculum. Medical Services Pathfinder International. Watertown.
  3. Delvin D. Choosing A Contraceptive Method.  2009. http://www.netdoctor.co.uk/sex_relationships/facts/contraception_which.htm