Homoseksualitas Berdasarkan pengertian dari seksualitas normal, homoseksualitas  tidak sesuai dengan pengertian tersebut karena dilakukan oleh orang yang tidak berlainan jenis. Namun sekali lagi dikatakan, dianggap gangguan apabila individu tersebut terganggu atau ada konflik untuk mengganti orientasi seksualnya. Menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) III di Indonesia, homoseksual terdapat dalam kelompok gangguan psikologis dan perilaku yang berhubungan dengan perkembangan dan orientasi seksual. Homoseksualitas berasal dari kata Yunani yang berarti sama atau sejenis dan secara umum, homoseksualitas diartikan sebagai suatu gejala dari dua orang berjenis kelamin sama secara seksual merasa tertarik satu dengan lainnya dan keduanya terlibat dalam aktivitas seksual. Gay adalah istilah homoseksual pada laki-laki dan Lesbian adalah istilah homoseksual untuk perempuan. Ada dua faktor yang menyebabkan homoseksualitas yaitu faktor biologi (faktor genetik dan faktor hormonal) dan psikososial (pola asuh dan trauma kehidupan). Faktor genetik, orientasi homoseksual telah terbukti pada penelitian angka kejadian homoseksualitas diantara orang kembar dan saudara kandung. Penelitian pada saudara kembar menunjukkan angka kejadian homoseksual pada kembar identik lebih tinggi dibandingkan yang tidak identik, sedangkan laki-laki homoseksual sering mempunyai saudara laki-laki homoseksual juga. Selain genetik, faktor biologi lain yang dianggap dapat mempengaruhi orientasi seksual, khususnya homoseksual adalah keseimbangan hormon androgen sebelum dan saat dewasa. Sedangkan pola asuh, menurut Beiber dan Socrarides melaporkan bahwa banyak kaum homoseksual mempunyai ibu yang overprotective  serta ayah yang lemah, bermusuhan, jauh, bahkan tidak ada. Trauma kehidupan, diantaranya seperti pengalaman hubungan heteroseksual yang tidak bahagia atau ketidakmampuan individu untuk menarik perhatian pasangan lawan jenis. Homoseksual dapat dibedakan menjadi dua yakni : homoseksual ego sintonik dan homoseksual egodistonik. Tipe ini dibedakan dari konflik psikis yang ditimbulkan, pada homoseksual ego distonik mengeluh dan terganggu akibat konflik psikis yang menyebabkan rasa bersalah, kesepian, malu, cemas dan depresi. Pada kelompok yang kedua inilah yang dikategorikan menjadi gangguan jiwa. Dukungan dari keluarga bagi homoseks yang mengalami gangguan jiwa ini amatlah diperlukan sehingga dapat mencegah konsekuensi buruk yang akan menimpa. Dukungan tersebut berupa dukungan untuk mencari sarana kesehatan yang dapat membantu mengurangi permasalahan penderita dan  tetap memberikan perhatian, tidak malah dikucilkan.     Sumber : Adikusumo A. Gangguan Psikoseksual dalam Buku Ajar Psikiatri. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta. Hidayat HK. Bagian 10 Gangguan Kepribadian dan perilaku masa dewasa. 1998. Jelita Akademika : Jakarta. Maslim R (editor). Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ III. 2003. Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya : Jakarta. Wijana IP, Soetjiningsih. Gay, Lesbian dan Biseksual pada Remaja dalam Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya. Soetjiningsih (editor). 2004. Sagung Seto : Jakarta. Tinjauan Perilaku Seksual Menyimpang Dalam Sudut Pandang Psikologi Kriminal. Repository.usu.ac.id/.../chapter%20II.pdf