Masalah masturbasi, sebagai salah satu perilaku seksual memang begitu tinggi. Namun ada beberapa hal yang berkembang mengenai masturbasi ini. Mitos-mitos begitu banyak beredar di masyaralat. Nah, ada beberapa hal yang mungkin Anda belum tahu mengenai masturbasi. Ayo, simak bahasan berikut ini! #1  Masturbasi itu tidak normal? Kita mungkin terus bertanya-tanya, apakah tindakan saya ini normal, apakah ada masalah dengan cara saya bermasturbasi ini? Kami memandangnya dari sisi kedokteran, bahwa tidak ada yang disebut masturbasi yang tak normal. Yang terpenting adalah bagaimana cara kita memang melakukannya dengan cara yang aman. Menggunakan tangan, menggunakan sex toy, berfantasi, dan lainnya. Yang penting kita tidak melukai dan membahayakan diri sendiri. #2 Masturbasi itu aman, NAMUN tak selalu! Beberapa perbedaan dengan seks dengan pasangan, misalnya, dalam bermasturbasi Anda tidak akan tertular infeksi menular seksual. Namun dalam beberapa hal seperti masturbasi dalam frekuensi yang terlalu sering dapat mengiritasi kulit penis, apalagi bila menggunakan sarana lain seperti kain, bantal, dan lainnya. Tindakan ini berisiko melukai uretra (lubang keluar saluran kemih). Bila uretra terluka, maka Anda dapat merasakan keluhan luar biasa sakitnya saat berkemih. Yang paling jarang, masturbasi dan hubungan seks yang tak aman, atau terlalu "bersemangat", dapat menyebabkan fraktur penis atau "patah penis". Sebenarnya patah di sini bukan berarti patah tulang, namun disebabkan robeknya jaringan spons dalam penis. Ini adalah kedaruratan yang memerlukan tindakan bedah segera.   #3 Seks swalayan dapat membuat Anda memahami diri Dalam alasan secara psikologis, seks swalayan atau seks mandiri ini dapat mengajarkan pribadi sendiri terhadap bagaimana respons seksual dirinya. Ia dapat merasakan apa yang nyaman dan tak nyaman baginya, sehingga bisa menjelaskan kepada pasangannya. Bagi pria, masturbasi juga dapat membantu untuk memahami mencegah ejakulasi dini. Selain itu, masturbasi dapat dilakukan bila memang pasangan sedang tak dapat untuk berhubungan seksual. Namun, di satu sisi, ada pria yang terlalu terobsesi dengan seks swalayan sehingga mereka dapat kehilangan minat untuk seks dengan pasangannya. Kejadian ini dapat diperburuk dengan adanya rasa sakit hati pada pasangan sehingga hubungan terhadap renggang. Jadi, apakah pria berpasangan tidak boleh bermasturbasi? Para ahli mengatakan sebaliknya, "Masturbasi sebenarnya tak masalah dilakukan pada mereka yang berpasangan. Kita tidak dapat berasumsi bahwa pria yang bermasturbasi pasti memiliki masalah dengan pasangannya." #4 Beberapa bentuk masturbasi tertentu dapat menyebabkan gangguan fungsi seksual. Para ahli memperingatkan para pria yang selalu masturbasi dan tidak mempedulikan pasangannya. Bila porsi masturbasi begitu besar, maka seseorang bisa saja tidak dapat merespons impuls seksual lainnya termasuk dari pasangannya. Ini menjadi PR bagi kedua pasangan tentunya. #5 Benarkah ada hubungannya masturbasi dengan risiko kanker prostat? Kedua hal ini memang seringkali membingungkan. Pada tahun 2003, terdapat penelitian yang dipublikasikan di BJU International yang mengatakan banyaknya frekuensi ejakulasi pada usia awal berhubungan dengan penurunan risiko kanker prostat. Namun pada tahun 2004 dipublikasikan sebuah penelitian di  The Journal of the American Medical Association yang mengatakan "frekuensi ejakulasi tidak ada hubungannya dengan risiko kanker prostat." Kemudian pada studi lain di BJU International yang mengatakan masturbasi yang sering dalam pria muda dapat meningkatkan risiko kanker prostat, namun kebalikannya pada pada pria tua akan menurunkan risikonya. Memang hal ini perlu banyak penelitian lagi untuk dapat menyimpulkan hasilnya.