Sedari kecil kita dibiasakan untuk menjaga kebersihan dengan menggunakan zat yang memiliki sifat seperti sabun, baik untuk badan, pakaian (deterjen juga memiliki sifat yang sama dengan sabun, tetapi lebih keras), mencuci tangan, dan ada juga yang menyarankan kepada para wanita untuk menggunakan sabun pada daerah kewanitaanya. Memang jika ditinjau dari tradisi sabun sebagai agen kebersihan, saran tersebut terkesan baik-baik saja.   Tapi apakah Anda yakin sabun dapat menjadi agen perlindungan bagi daerah kewanitaan, terutama pada miss V? Kita tengok lagi sifat dasar dari sabun seperti yang ada di buku pelajaran kimia di sekolah. Molekul sabun memiliki dua ujung yang berlainan sifat: satu ujung mengikat air (hidrofil) dan satu ujung mengikat lipid atau lemak (lipofil). Sifat sabun yang kedua adalah bersifat alkalis atau basa karena terdapat ion karbonat (Natrium bikarbonat memiliki pH 8,4 dan sabun batangan memiliki pH sekitar 8 - 10). Sabun bekerja dengan menggunakan dua sifat yakni hidrofil dan lipofil. Kotoran pada umumnya melekat di tubuh karena berikatan dengan minyak yang akhirnya membentuk semacam lem di permukaan kulit. Karena minyak tidak dapat diikat dengan air, kotoran menjadi tidak dapat dibersihkan dengan air. Untuk itu, sabun bekerja dengan mengikat air dan mengikat minyak kotoran tersebut. Jika cukup banyak molekul sabun yang mengikat minyak, minyak akan terpecah menjadi tetes-tetes mikro, tidak dapat menyatu lagi. Air dan minyak bersatu, sabun berperan sebagai agen emulsifikasi. Kotoran tidak lagi melekat seperti “lem” pada kulit atau pakaian dan akhirnya dapat dibilas dengan air. Sekarang kita akan melihat lagi tentang ekosistem pada miss V. Di dalam organ kewanitaan ini terdapat koloni atau sekumpulan bakteri yang dipercaya tinggal disana untuk mendapatkan glikogen (sebagai sumber energi) dari dinding miss V, meskipun ada juga yang menyebutkan bahwa alasan keberadaanya belum pasti. Kelompok flora normal ini kadang dibagi menjadi dua “flora normal baik” dan “flora normal jahat”. Pada kondisi normal, flora normal yang lebih banyak adalah flora normal yang memproduksi asam laktat dan hidrogen peroksida (kebanyakan diproduksi oleh spesies Lactobacilli sp.). Produk-produk flora normal ini akan menjaga pertumbuhan koloninya, tanpa merusak atau menyebabkan radang pada miss V. Sedangkan flora normal lain yang berpotensi menimbulkan infeksi seperti vaginosis bakterial dan terdapat dalam koloni yang lebih sedikit contoh flora normal ini adalah Gardnerella vaginalis. Lingkungan di dalam miss V ini memiliki rentang pada tingkat keasaman atau pH 3,8 - 4,2 dan terus dipertahankan pada pH demikian oleh flora normal untuk menjaga kelangsungan hidup mereka dan menghambat bakteri lain yang tidak cocok dengan lingkungan tersebut. Berdasarkan pada opini klinis dari American Journal of Obstetric & Gynecologic, pH ini lebih ditentukan pada perubahan hormonal dan ditujukan untuk menjaga fungsi sel pada mukosa yakni lapisan kulit yang basah dan lembab pada daerah kewanitaan. Pada beberapa buku dinyatakan bahwa tingkat keasaman ditentukan oleh keberadaan flora normal, misalnya, pada usia menopause terjadi pengurangan jumlah glikogen dalam organ kewanitaan, hal ini mengakibatkan perubahan flora normal dan pH lebih dari 4,5 sehingga meningkatkan peluang untuk mengalami infeksi.  

Apa yang terjadi jika sabun mengenai miss V?

Kemungkinan besar, jika jumlah sabun mencukupi akan terjadi kerusakan ekosistem organ kewanitaan yang berfungsi untuk menjaga keasaman. Kerusakan terjadi karena beberapa hal:
  1. Keasaman bergeser ke arah basa. Sifat alkalis atau basa pada sabun yang bercampur dengan lingkungan asam pada miss V akan mengakibatkan perubahan keasaman ke arah basa atau pH diatas 4,5. Kondisi ini dapat saja mengganggu pertumbuhan koloni flora normal yang membantu menjaga keasaman. Jika keasaman tidak dapat dipertahankan, koloni “flora jahat” dapat tumbuh lebih banyak dibandingkan “flora baik” dan terjadilah infeksi pada miss V.
  2. Merusak perlindungan dan kelembaban alami di sekitar daerah kewanitaan. Pada daerah kewanitaan bagian luar (labia mayora dan labia minora) perlindungan yang dimiliki masih menyerupai dengan bagian lain di kulit lain yang dapat dirusak pada pemakaian sabun berlebih sehingga kulit menjadi kering dan menimbulkan gatal. Ingat, beberapa sabun yang digunakan di tubuh saja dapat menyebabkan kulit kering, apalagi jika digunakan pada lapisan kulit tipis yang lembab seperti pada rongga mulut atau pada labia minora sisi sebelah dalam.
  3. Kandungan antibakterial sabun. Salah satu kandungan antibakterial yang banyak terdapat pada sabun adalah Triclosan yang dapat merusak sintesis enzim tertentu dalam sel. Triclosan dapat membunuh “bakteri baik” dan juga “bakteri jahat” di sekitar dan dalam organ kewanitaan sehingga memungkinkan terjadinya koloni bakteri lain atau menghilangkan koloni “bakteri baik” sehingga “bakteri jahat” dapat tumbuh lebih dominan dalam organ kewanitaan.

Jadi bagaimanakah menjaga kebersihan miss V jika sabun ternyata justru berpeluang menyebabkan infeksi?

Tentu saja ada beberapa hal yang dapat para wanita lakukan untuk menjaganya:
  1. Jangan secara sengaja membersihkan miss V dengan menggunakan sabun mandi. Tidak perlu dikhawatirkan jika sedikit sabun tanpa sengaja mengenai daerah di sekitar vulva. Akan tetapi, memakai sabun secara sengaja justru memungkinkan terjadinya infeksi.
  2. Apabila mengalami kekeringan pada daerah kewanitaan dapat digunakan pelembab yang memiliki sifat hidrofil sehingga mengikat molekul air lebih lama di daerah kewanitaan dan memiliki polimer yang dapat menempel pada lapisan epitel di daerah kewanitaan.
Sekian informasi yang dapat saya bagikan. Semoga bermanfaat bagi para sobat wanita!   Referensi:
  1. Schorge et al. 2008. Williams Gynecology. McGraw-Hill: China
  2. E medicine: Bakterial Vaginosis (Treatment and Management)
  3. E medicine: Vaginitis (Overview)
  4. http://www.ajog.org/article/S0002-9378(10)00876-8/abstract (Summary PDF)
  5. http://jac.oxfordjournals.org/content/55/6/879.full