Manusia selalu menginginkan performa yang prima dalam segala hal. Untuk melakukan banyak aktivitas, dibutuhkan energi yang berasal dari makanan mereka. Tidak hanya berhenti di situ saja, manusia makin menyadari bahwa kandungan beberapa makanan tidak hanya menjadi sumber energi, melainkan menjadikan penampilan lebih baik, mencegah penyakit, dan bahkan mengobati penyakit tertentu.

Hal ini memang merupakan kesadaran yang telah sedari lama timbul di sejarah kebudayaan manusia. Kita dapat melihat pada salah satu perkataan Hipokrates, "Let food be thy medicine and medicine be thy food", "Hendaklah makanan menjadi obatmu dan obat menjadi makananmu". Contoh dari usaha manusia untuk menerapkan hal ini akan sangat banyak kita temukan di dunia timur di masa lalu. Di masa depan, Thomas Alva Edison telah meramalkan, "The doctor of the future will give no medicine, but will interest her or his patients in the care of the human frame, in a proper diet, and in the cause and prevention of disease", bahwa dokter masa depan justru akan menekankan  perawatan, penatalaksanaan diet, dan pencegahan penyakit. Kesadaran ini juga muncul pada kaum wanita yang selalu memperhatikan akan fungsi tubuh dan penampilannya. Berbagai mitos berkembang terkait dengan keputihan dan bau miss V setelah makanan makanan tertentu. Apakah semua mitos tersebut benar? 

Keputihan

Keputihan dikenal sebagai leucorrhea dalam bahasa medis. Kondisi ini merupakan pengeluaran atau sekresi lendir pada saat terdapat infeksi area kewanitaan atau kondisi hormonal tertentu. Normalnya, duh vagina diproduksi 1 hingga 4 ml per 24 jam, dengan penampakan tipikal jernih, kental, dan berwarna putih hingga kekuningan; tanpa bau, tetapi dapat sedikit berbau. Terdapat tiga kondisi saat duh vagina diproduksi yaitu pada bayi baru lahir, usia reproduktif dengan pengaruh hormonal dan menopause. Beberapa faktor yang dapat menyebabkan sekresi normal adalah:
  • Stres emosional
  • Ovulasi
  • Kehamilan
  • Stimulasi seksual
Pada sekresi lendir yang abnormal terdapat beberapa kemungkinan yaitu:
  • Atrophic vaginitis (pada wanita yang mengalami menopause dan level estrogen rendah).
  • Bacterial vaginosis (bakteri yang berada di vagina tumbuh secara berlebihan, dan mnyebabkan duh keabuan yang amis dan memburuk setelah hubungan intim.)
  • Kanker servisk atau kanker vagina
  • Infeksi Chlamydia
  • Benda asing di dalam vagina
  • Gonorrhea
  • Trichomoniasis
  • Infeksi jamur vagina
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, tidak disebutkan bahwa makanan merupakan faktor kunci dalam peningkatan atau pengurangan produksi duh vagina. Selain itu, belum ditemukan mekanisme makanan dapat secara langsung mempengaruhi produksi sekresi kelenjar di sekitar miss V. Perhatian memang perlu dipusatkan jika terkait makanan dengan kadar gula tinggi pada pasien dengan penyakit gula (diabetes melitus) karena kadar gula yang tidak terkontrol akan meningkatkan kemungkinan infeksi jamur pada kulit penyandang penyakit gula baik di lipatan kulit, mulut, bahkan lipatan di sekitar area miss V.