Miss V kita merupakan organ yang sangat intim dan spesial. Spesial karena ini adalah salah satu organ penting dalam kehidupan seksual dan juga reproduksi kaum hawa. Namun demikian, organ penting ini perawatannya sedikit berbeda dengan organ tubuh lainnya. Mari kita ketahui lebih mendalam. Dilihat dari segi anatomi, vagina merupakan sebuah saluran yang terdiri dari otot dengan panjang kira-kira 7 - 10 cm, terletak memanjang dari rahim hingga ke vestibula. Lapisan otot ini di bagian atas dilapisi dengan lapisan mukosa yang berlipat - lipat secara memanjang. Pada wanita yang belum pernah melahirkan lipatan ini jelas terlihat pada 1/3 bagian bawah vagina. Penonjolan mulut rahim ke dalam vagina membentuk sebuah lekukan, lekukan ini yang banyak diperkirakan sebagai bagian yang paling sensitif dari organ kelamin wanita dimana dapat menghantarkan wanita ke puncak kenikmatan seksual bila dirangsang, dikenal sebagi G spot. Vagina menghubungkan antara alat kelamin bagian dalam yakni rahim dan indung telur dengan alat kelamin bagian luar yakni vulva dan kelenjar klitoris. [caption id="attachment_16555" align="aligncenter" width="308"] Anatomi Organ Reproduksi Wanita[/caption] Dibagian bawah dari vagina terdapat sebuah selaput yang dikenal sebagai hymen atau selaput dara. Pada perawan selaput ini masih utuh dengan lubang kecil dibagian tengahnya, sedangkan pada wanita yang sudah aktif secara seksual akan terjadi robekan selaput dara yang disebabkan tertembusnya selaput oleh penis pria atau benda tumpul lainnya. Dengan adanya robekan ini maka diameter dari lubang pada selaputdara semakin besar.   Dilihat dari fungsinya, vagina memiliki peranan penting dalam proses kelahiran, dimana menjadi bagian dari jalan lahir. Vagina juga berfungsi sebagai organ kopulasi dan juga sebagai tempat keluarnya darah haid. Vagina wanita seperti halnya rahim yang mengalami perubahan bentuk dan kondisi lingkungan didalam vagina pada saat menstruasi. Pada saat mendekati menstruasi lapisan mukosa memproduksi cairan vagina yang lebih banyak, konsistensi yang lebih kental dan memiliki pH yang lebih basa, ini disebabkan berkurangnya hormon estrogen pada saat menstruasi. Selain hormon, yang berperan dalam menjaga keasaman vagina adalah Lactobacillus. Lactobacillus merupakan bakteri gram positif yang hidup pada lingkungan asam. Inilah bakteri baik yang hidup dalam vagina, fungsinya adalah mengubah glikogen yang ada dalam sel epitel vagina menjadi asam laktat. Asam laktat yang dihasilkan inilah yang berfungsi menjaga keasaman vagina agar tetap berada pada pH 3,8 - 4,5. Keasaman ini diperlukan untuk menjaga agar vagina tidak mudah terinvasi oleh organime merugikan. Jika keasaman vagina ini terganggu, maka bakteri baik dalam vagina tidak dapat bertahan hidup dan bakteri - bakteri lain dalam vagina dapat berkembang, ini dapat menyebabkan infeksi pada vagina. Selain menghasilkan asam, Lactobacillus juga melindungi vagina dari infeksi dengan cara menghalangi bakteri menempel pada sel epitel vagina. Yang paling sering mengakibatkan ketidakseimbangan jumlah Lactobacillus dalam vagina adalah bakteri merugikan yang hidup dalam pH yang lebih basa, antara lain Gardnerella, Prevotella, Mobiluncus. ini dikenal dengan vaginosis bakterialis. Infeksi vagina ini ditandai dengan keluarnya cairan vagina yang kental, keruh, berwarna seperti susu basi, kuning ataupun hijau, bisa juga diikuti adanya darah yang berbau busuk. Biasanya gejala ini disalahartikan sebagai keputihan biasa. Selain keluarnya cairan ini bisa juga diikuti adanya keluhan nyeri setelah berhubungan seksual,¬† ataupun saat berkemih, gatal ataupun sesansi panas pada vagina maupun alat kelamin luar. Pada kondisi yang lebih lanjut biasa terjadi demam, lemas, mual dan muntah.