Hampir setiap orang menginginkan kulit yang mulus tanpa kerutan terutama di bagian wajah. Namun tanpa kita sadari, seiring dengan berjalannya waktu kulit kita tidak seperti dulu lagi. Saat bayi, kulit kita sangat mulus, tidak ada jerawat, tidak berminyak, apalagi kerutan. Saat remaja dan dewasa kulit kita sudah mulai berubah, terkadang timbul jerawat, berminyak dan komedo. Dan sekarang, semakin bertambahnya usia, sudah muncul kerutan-kerutan di wajah dan kulit tidak “kencang” seperti dulu lagi. Mengapa semua ini terjadi? Anatomi kulit kita... Sebelum membahas lebih lanjut tentang kerutan di wajah, ada baiknya kita mengetahui sekilas tentang struktur kulit kita. Kulit terdiri dari 3 lapisan, yaitu: epidermis, dermis, dan subkutis.
  • Epidermis: tersusun dari sel epitel skuamosa dengan ketebalan 0,1 mm; kecuali pada telapak tangan dan telapak kaki, ketebalannya dapat mencapai 0,8 - 1,4 mm. Lapisan epidermis terbagi lagi menjadi 5 lapisan, yaitu :
    • Stratum Basal: sel-sel yang berbentuk kubus (kolumnar); terdiri dari sel keratinosit yang memproduksi keratin, sel melanosit yang memproduksi melanin dan banyak terdapat di kulit wajah, serta sel Merkel yang berhubungan dengan ujung-ujung serabut saraf.
    • Stratum Spinosum: sel-sel yang berbentuk polygonal; terdapat sel Langerhans yang berperan sebagai sistem imunologis.
    • Stratum Granulosum: tersusun atas 2-3 lapis sel gepeng yang masih memiliki inti sel; tampak jelas di telapak tangan dan telapak kaki.
    • Stratum Lusidum: sel-sel gepeng yang sudah tidak mempunyai inti sel, tampak jelas di telapak tangan dan telapak kaki.
    • Stratum Corneum: tersusun atas beberapa lapis sel gepeng yang  sudah mati dan protoplasmanya sudah berubah menjadi keratin (zat tanduk).
    • Dermis, secara garis besar dibagi menjadi 2 bagian, yaitu :
      • Pars papilare: bagian yang menonjol ke epidermis, terdapat ujung serabut saraf dan pembuluh darah.
      • Pars retikulare: terdapat serabut-serabut penunjang seperti kolagen, elastin dan retikulin. Pada bagian dasar (matriks) dari pars retikulare terdapat fibroblast yang mensintesis serabut-serabut penunjang tersebut, dendrosit yang berperan dalam sistem imun, sel mast, makrofag, dan limfosit.
        • Kolagen, merupakan komponen terbesar pada lapisan dermis, yaitu sekitar 70%. Menentukan kelenturan dan kekuatan kulit, semakin bertambahnya usia menjadi kurang larut sehingga semakin stabil.
        • Elastin menentukan elastisitas kulit dan mudah mengembang.
        • Retikulin, sifatnya mirip dengan kolagen muda.
        • Subkutis : terdiri atas jaringan ikat longgar dan sel-sel lemak dengan ketebalan yang berbeda-beda tergantung dari lokasinya. Selain itu terdapat ujung-ujung saraf tepi, pembuluh darah dan getah bening.
Proses regenerasi kulit... Rata-rata setiap sel yang berada di Stratum Basal akan bereplikasi setiap 200-400 jam, kemudian mencapai Stratum Corneum setelah 14 hari. Pada Stratum Corneum sel-sel tersebut akan mati dan bertahan selama 14 hari, kemudian akan mengelupas dan diganti oleh sel-sel yang baru. Saat kita lanjut usia... Kulit kita akan mengalami perubahan baik dalam bentuk fisik maupun fungsional. Faktor intrinsik dan ekstrinsik sama-sama berperan dalam terjadi perubahan kulit tersebut. Perubahan yang terjadi seperti kulit yang menggantung, kerutan, kulit kering, bintik-bintik hitam di wajah, dan sebagainya. Mengapa bisa terjadi kerutan pada kulit? Kerutan yang timbul pada kulit disebabkan adanya perubahan pada lapisan dermis, yang dipengaruhi oleh faktor intrinsik (dari dalam tubuh kita) maupun ekstrinsik (dari luar tubuh). Dari faktor intrinsik, dengan bertambahnya usia, maka sel-sel fibroblast yang berada di lapisan dermis mulai berkurang dari segi jumlah maupun fungsinya. Padahal seperti yang kita ketahui bahwa sel-sel fibroblastlah yang mensintesis serabut-serabut penunjang; seperti kolagen, elastin, dan retikulin. Selain itu, radiasi ultraviolet pada kulit dapat membentuk radikal bebas yang mampu mengubah struktur protein pada kulit. Radikal bebas akan mengaktivasi MAP (Mitogen-Activated Protein) kinase dan membentuk Matriks Metallo-Proteinase yang menurunkan sintesis kolagen. Bagaimana cara mengatasinya? Hampir setiap orang, baik pria maupun wanita ingin selalu tampak tampan dan cantik serta memiliki kulit indah yang selalu tampak muda. Perkembangan ilmu kesehatan dalam bidang kosmetik sudah semakin pesat. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk merawat kulit yang sudah rusak atau menjaga kulit agar tetap sehat. Setiap terapi yang dilakukan tentu saja berbeda tergantung dari perubahan kulit yang ingin diatasi dan individu masing-masing. Terapi yang biasa digunakan seperti krim pelembab dan retinoid, “facial peels” yaitu dengan mempercepat pengelupasan kulit wajah, injeksi botox, implantasi kolagen, laser, dan sebagainya. Prinsip utamanya adalah pemilihan terapi sesuai dengan letak perubahan kulit yang terjadi. Sebagai contoh, perubahan kulit yang superfisial seperti pigmentasi dan keratosis dapat diterapi dengan agen yang bekerja di epidermis, yaitu retinoid topikal dan “facial peels”. Dan sebaliknya, seperti kerutan yang disebabkan oleh perubahan yang terjadi di lapisan dermis, dibutuhkan terapi yang dapat mencapai lapisan tersebut seperti laser, injeksi, ataupun implantasi. Referensi:
  • Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, FKUI. Edisi Kelima.
  • Burns, Tony, dkk. Rook’s Textbook of Dermatology, Seventh Edition
  • Gawkrodger, David J. An Illustarted Colour Text Dermatology. Second Edition.
  • Weller, Richard, dkk. Clinical Dermatology. Fourth Edition.