Para wanita biasanya langsung khawatir jika vagina mengeluarkan lendir. Biasanya mereka mengatakan bahwa itu adalah keputihan dan mulai curiga terjadinya infeksi pada organ intimnya. Sebenarnya duh tubuh yang mengalir dari vagina sehari-hari merupakan cara tubuh mempertahankan lingkungan yang cocok dengan flora normal vagina. pH vagina normal postmenarchal dan premenopause adalah 3,8 - 4,2. Pada pH ini, pertumbuhan organisme patogen biasanya dihambat. Debit normal dari duh vagina biasanya jernih atau susu dengan bau minimal. Perubahan pH vagina normal dapat mengubah flora normal vagina, yang menyebabkan pertumbuhan berlebih dari organisme patogen.   Faktor-faktor yang dapat mengubah lingkungan vagina termasuk produk kewanitaan, kontrasepsi, obat-obatan vagina, antibiotik, penyakit menular seksual (PMS), hubungan seksual, dan stres. Perubahan pada jumlah, warna, atau bau duh vagina bisa disebabkan oleh ketidakseimbangan bakteri sehat di vagina, yang menyebabkan vaginitis (infeksi pada vagina). Namun adanya perubahan pada duh vagina tidak merupakan satu-satunya tanda dari vaginitis.  

Lalu apalagi gejala vaginitis?

Gejala yang mungkin terjadi pada vaginitis antara lain :
  • Gatal - gatal di sekitar daerah vagina dan daerah perinel (daerah perbatasan vagina dan anus)
  • Kemerahan dan rasa seperti terbakar pada kulit di sekitar vagina.
  • Rasa tidak nyaman pada kulit terutama saat atau setelah buang air kecil.
  • Banyaknya duh vagina disertai perubahan pada warna dan bau
  • Perdarahan pada vagina.
 

 Apa yang menyebabkan terjadinya vaginitis?

Penyebab paling umum dari vaginitis pada wanita adalah vaginosis bakteri (40-45%), kandidiasis vagina (20-25%), dan trikomoniasis (15-20%). Selain itu, penggunaan bahan - bahan kimia yang terdapat pada sabun mandi, parfum dan lainnya yang digunakan pada vagina. Hal ini dapat menyebabkan iritasi pada kulit disekitar vagina dan mempermudah terjadinya vaginitis. Kebiasaan sehari - hari seperti penggunaan baju basah, celana dalam yang terlalu ketat dan kurang bersih serta kebiasaan membilas anus setelah BAB yang tidak benar dapat memudahkan terjadinya infeksi pada organ kewanitaan ini.
Namun tahukah anda? Kurang lebih 85 % perempuan dengan vaginitis mungkin tetap tidak terdiagnosis karena tidak memunculkan gejala yang khas.