Seperti yang sudah kita ketahui, antioksidan dikenal sebagai pelindung tubuh dari radikal bebas. Kerusakan akibat radikal bebas terjadi pada tingkat seluler menyebabkan sel mengalami inflamasi (peradangan), meningkatkan resiko kerusakan akibat sinar matahari dan berhubungan dengan perkembangan kanker kulit. Antioksidan bekerja dengan mencegah timbulnya gangguan tersebut pada tingkat seluler.  . Kerusakan oksidatif terjadi karena mekanisme intrinsik dan ekstrinsik. Oksidasi intrinsik disebabkan dari hasil pemecahan adenosin trifosfat, yang sebagian besar dikendalikan oleh faktor genetika. Kerusakan oksidatif ekstrinsik disebabkan oleh faktor lingkungan seperti sinar matahari, merokok dan polutan lainnya, diet yang tidak seimbang, kurang olahraga, stress, dan penyakit. Tubuh kita sendiri  sebenarnya sudah memiliki antioks idan alami. Antioksidan dalam tubuh terbagi menjadi dua, yaitu antioksidan enzimatik dan nonenzimatik. Yang termasuk antioksidan enzimatik adalah katalase, glutation, peroksidase, superoksidase, dan glukosa-6-phosphate-dehidrogenase (G6PD). Sedangkan yang termasuk kelompok antioksidan nonenzimatik adalah vitamin C, vitamin E, co-enzim Q10, glutation dan asam alfa lipolat. Paparan sinar UV dan proses penuaan alamiah menguras antioksidan alami dari kulit. Oleh karenanya, kita tetap membutuhkan tambahan antioksidan dari luar tubuh, baik itu dikonsumsi per oral atau antioksidan topikal seperti krim-krim antioksidan.
  • Retinoid
Retinoid adalah turunan dari vitamin A, larut dalam lemak, dan dapat dengan mudah menembus epidermis. Efek klinis penggunaan retinoid secara topikal adalah memperbaiki kerutan pada wajah dan mengurangi rasa kasar. Retinoid topikal juga digunakan dalam terapi akne.
  • Asam askorbat (vitamin C)
Tubuh manusia tidak dapat memproduksi vitamin C sendiri, oleh karena itu, kebutuhan akan vitamin C didapatkan melalui diet. Vitamin C banyak terdapat pada buah-buahan sitrus  dan sayuran berwarna hijau. Vitamin C dipercaya dapat memperbaiki garis-garis halus pada wajah dan mengurangi pigmentasi dan inflamasi. Vitamin C juga diperlukan sebagai salah satu katalis pembentukan kolagen. Beberapa penulis meyakini bahwa formulasi vitamin C dalam produk kosmetik sebaiknya mengandung asam L-askorbat dalam konsentrasi cukup tinggi (minimal 10%); stabil; dan memiliki pH sekitar 3,5 untuk absorpsi vitamin C yang maksimal.
  • Niasinamid (vitamin B3)
Antioksidan yang memperbaiki komponen lipid pelindung epidermis. Beberapa studi menunjukkan pengurangan garis-garis halus, kerutan mata, bercak-bercak hiperpigmentasi , dan memperbaiki elastisitas kulit.  
  • Alfa-tokoferol (vitamin E)
Fungsi utama dari vitamin E adalah mencegah peroksidasi lipid, yang penting untuk melindungi struktur lipid dan juga untuk melindungi protein dari oksidasi. Vitamin E yang terdapat dalam stratum korneum (lapisan kulit paling luar) adalah lini pertama pertahanan tubuh terhadap stres oksidatif dari sinar matahari dan polutan. Sinar matahari dan polutan yang sering kita temui sehari-hari menyebabkan penyimpanan vitamin E dalam kulit menipis sehingga diperlukan regenerasi vitamin E untuk mempertahankan perlindungan antioksidan alami kulit. Kombinasi antara vitamin E dan vitamin C sangat baik karena vitamin C terbukti mampu melindungi vitamin E dari proses oksidasi dan meregenerasi aktivitas vitamin E.
  • Ubikuinon (coenzym Q10)
Antioksidan larut lemak yang merupakan komponen membran sel. Bahan ini dapat mengurangi kerutan di daerah sekitar mata.
  • Pycogenol
Pycogenol yang mengandung oliomeric proanthocythocyanidins (OPCs) dikenal sebagai anti inflamasi, pelindung dari sinar matahari, antioksidan dan antikarsinogenik yang poten. Penggunaan secara topikal menurunkan pigmentasi yang disebabkan paparan sinar ultraviolet, mempercepat penyembuhan luka dan mengurangi terbentuknya jaringan parut. Diperkirakan pycogenol ini dapat menstabilkan kolagen dan elastin, memperbaiki elastisitas, fleksibilitas dan penampilan kulit. OPCs banyak ditemukan pada ekstrak batang pinus maritim Perancis, ekstrak biji anggur, kulit anggur, bilberry, cranberry, blackcurrant, teh hijau, teh hitam, blueberry, strawberry, black cherry, anggur merah, kol merah, dan kulit apel merah. Pycogenol lebih kuat dibandingkan vitamin C dan vitamin E. Pycogenol dapat mendaur ulang vitamin C, meregenerasi vitamin E dan juga dapat meningkatkan enzim antioksidan endogen.
  • Polifenol
Tanaman teh, Camellia sinensis, adalah sumber polifenol yang paling poten. Teh sudah dipelajari secara luas dan terbukti mengandung antioksidan, anti inflamasi dan anti karsinogenik, dan sama efektifnya dikonsumsi secara oral atau topikal. Teh juga diyakini memiliki kemampuan untuk menekan  proses karsinogenesis yang diakibatkan oleh sinar ultraviolet. Polifenol yang dikandung teh adalah antioksidan yang kuat, melebihi vitamin C dan vitamin E.
  • Ekstrak kopi arabika
Ekstrak buah kopi mengandung berbagai komponen aktif seperti proanthcyanidins yang kental, polifenol, asam klorogenat, asam caffeic, asam ferulat, asam quinic dan trigonelina. Beberapa studi menunjukkan bahwa ekstrak ini berpotensi dalam memperbaiki dispigmentasi, eritema dan photoaging. Khasiat antioksidan dari coffeberry ini melebihi antioksidan yang berasal dari ekstrak teh hijau, buah delima, vitamin C dan vitamin E.   Jadi mulai sekarang jangan lupa untuk menyertakan makanan kaya antioksidan ke dalam diet sehari-hari anda. Untuk penggunaan krim antioksidan ada baiknya bila anda berkonsultasi terlebih dahulu kepada dermatolog anda. Penting juga untuk menghindari faktor-faktor ekstrinsik penyebab kerusakan oksidatif. Hidup sehat untuk mendapatkan kulit sehat!!