Dokter yang sekaligus dosen Ilmu Gizi di Universitas Diponegoro, Semarang ini tertarik terhadap ilmu gizi karena banyak mitos tentang gizi yang tidak jelas. Ia kemudian banyak mendalami ilmu gizi dengan cara bersekolah spesialis gizi dan mengikuti banyak seminar tentang gizi. Dokter muda ini ingin memberikan pengetahuan gizi yang benar kepada masyarakat. Tak hanya untuk orang dewasa, dokter Etisa juga ingin pengetahuan gizi ini berguna untuk orangtua dalam mengasuh anak-anaknya. Tak muluk-muluk, ia berharap dengan ilmu yang ia punya dan pengabdiannya, gizi anak Indonesia menjadi semakin baik. Yang sudah baik, bisa ditingkatkan lagi gizinya, dan yang belum baik dapat mencukupi kebutuhan gizinya dan berangsur menjadi gizi baik. Tak perlu dengan cara yang mahal, asalkan berkualitas, maka status gizi anak sudah bisa ditingkatkan. Menyadari masih banyak tenaga kesehatan yang bahkan belum ‘melek’ gizi, dokter yang juga berpraktek di RS Hermina Pandanaran Semarang ini, aktif mengajar menjadi dosen. Harapannya, jika pengetahuan gizi diberikan sejak dini, maka akan tumbuh kesadaran tentang pentingnya gizi yang seimbang. Sebab ilmu gizi tidak hanya berkisar makanan saja, justru lebih dalam dari pada makanan itu sendiri. Ia akan sangat senang dan bersemangat saat memberikan edukasi tentang gizi pada pasien. Kesadaran tentang gizi yang tinggi pada tenaga kesehatan tentu bisa menjadi langkah preventif untuk mencegah penyakit, bahkan menyembuhkan penyakit. Dokter sekaligus ibu ini sangat perhatian terhadap gizi anak. Bahwa anak tidak hanya membutuhkan gizi yang cukup, namun juga harus berkualitas agar tumbuh kembang anak semakin optimal.