Sejak kecil, dokter dua anak ini memang memiliki cita-cita untuk menjadi seorang dokter. Cita-cita mulianya ini kemudian terwujud, dan bahkan sekarang dokter Adisaputra Ramadhinara menjadi dokter spesialisasi luka pertama di Indonesia sejak tahun 2009. Belum lama ini, sejak berkarir dalam spesialisasi luka, ia mendapatkan MURI untuk bidang yang sedang ia geluti saat ini.

Awalnya ia hanya membantu Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, SpPD-KEMD, FACE di klinik diabetes. Luka yang ditanganinya adalah luka diabetes. Saat merawat luka, ia merasa begitu nyaman dan enjoy karena ia merasa bisa mengaktualisasikan apa yang menjadi dasar kecintaannya pada profesi kedokteran. Dari sinilah ia mendapatkan inspirasi. Ia ingin memberikan perawatan luka karena luka yang tampaknya sederhana dan sering disepelekan orang, ternyata bisa berakibat fatal dan menimbulkan kesengsaraan bahkan kematian. Ia pun ingin mengupayakan penanganan terbaik untuk menjamin proses penyembuhan yang optimal, dan mengusahakan agar pasien tidak sampai kehilangan anggota tubuhnya (diamputasi) jika memungkinkan. Dengan penanganan yang tepat dan holistik, maka luka yang sulit sembuh pun dapat menyembuh dengan baik. Menurutnya, masyarakat sebenarnya sudah tahu tentang dampak terburuk dari luka, namun mereka tampak seperti tidak peduli. Yang tak kalah serius, luka juga mengakibatkan bau tak sedap dan juga disabilitas sehingga tidak bisa melakukan aktifitas sehari-hari. Ia berharap bisa membantu luka yang dihadapi pasien bisa ditangani dengan tepat dan tidak menyebar sehingga bisa lebih cepat sembuh dan tidak mengganggu aktivitas pasien sehari-hari. Ia pun berharap pada pasien yang menghadapi luka di daerah kaki, mereka harus menjaga agar bagian tubuh yang mengalami luka tidak basah atau terkena air, dan tidak digunakan untuk berjalan atau menjadi tumpuan / tertekan. Selain itu kulit di sekitar luka harus dijaga agar tetap lembab dan tidak kering. Hal lain yang penting untuk diperhatikan adalah kebutuhan protein pasien yang harus tercukupi sesuai dengan jumlah yang diperlukan. Berbagai vitamin, mineral dan mikronutrien seperti Zinc, Vitamin B Kompleks, Vitamin C, zat besi, harus tercukupi dengan baik agar proses penyembuhan luka bisa berlangsung optimal. Faktor lain yang sangat penting adalah pengendalian gula darah bagi penyandang diabetes yang mengalami luka. Tanpa control gula darah yang optimal, maka tentunya proses penyembuhan luka akan terhambat. Intinya, semua faktor yang dapat menghambat proses penyembuhan luka, perlu dianalisa dan ditangani satu per satu. Mulai dari metabolik sampai faktor psikososial dan perawatan sehari – hari di rumah, itu semua sangat penting untuk dianalisa, agar kita bisa mengoptimalkan proses penyembuhan luka. Dokter yang juga hobi  memasak, membaca, fotografi, dan traveling ini juga berharap agar masyarakat Indonesia lebih kritis dan lebih cerdas dalam menyikapi masalah luka. Jangan sepelekan luka, karena luka itu bisa membahayakan nyawa sehingga jika ada yang mengalami luka terutama luka yang cenderung sulit sembuh, segera mintalah pertolongan kepada orang yang tepat, dan untuk yang tidak mengalami luka tapi menyandang penyakit tertentu yang dapat mempersulit penyembuhan luka (seperti diabetes mellitus) betul-betul harus dicegah dengan pemeriksaan kaki secara rutin supaya tidak sampai mengalami luka dan jika terluka segeralah berobat dan jangan ditangani sendiri.