JANTUNG KORONER

Penyebab Jantung Koroner

Terdapat 2 faktor risiko yang menjadi penyebab jantung koroner. Seperti yang telah diketahui bahwa penyakit jantung koroner adalah suatu kelainan yang disebabkan oleh penyempitan atau penyumbatan arteri yang mengalirkan darah ke otot jantung sehingga terjadi ketidakseimbangan antara kebutuhan dan suplai oksigen untuk otot jantung. Kondisi denyut jantung yang meningkat, latihan fisik yang tinggi, dan tegangan bilik jantung yang meningkat, merupakan beberapa faktor yang dapat meningkatkan kebutuhan dari otot-otot jantung. Sedangkan, faktor yang mengganggu penyediaan oksigen antara lain tekanan darah koroner meningkat, yang salah satunya disebabkan oleh arterosklerosis yang mempersempit saluran pembuluh darah sehingga meningkatkan tekanan, gangguan pada otot regulasi jantung, dan lain-lain. Hal tersebut kemudian menjadi penyebab jantung koroner yang harus dicermati karena efek buruknya adalah komplikasi jantung koroner dan pengobatan jantung koroner yang terlambat dilakukan.

 

Faktor-faktor risiko yang dapat menjadi penyebab jantung koroner dibagi menjadi dua, yaitu faktor risiko primer atau yang tidak dapat dimodifikasi dan faktor risiko sekunder atau yang dapat dimodifikasi.

 

Faktor Primer

1. Usia

Bertambahnya usia akan menyebabkan peningkatan jumlah penderita PJK karena pembuluh darah pada lanjut usia mengalami perubahan yang semakin progresif dan kronis. Perubahan yang dimulai pada usia 20 tahun adalah pada pembuluh arteri koroner. Hal ini terjadi di seluruh arteri tubuh, terutama pada laki-laki umur 35-44 tahun dan meningkat dengan bertambahnya umur.

 

2. Jenis Kelamin

Wanita lebih sedikit mengalami serangan jantung dibandingkan pria. Rata-rata kematian akibat serangan jantung pada wanita terjadi 10 tahun lebih lama dari pria. Namun, hal ini berubah setelah wanita memasuki usia menopause di mana produksi hormon estrogen telah berkurang.

 

3. Keturunan/Genetik

Jika terdapat anggota keluarga yang terkena PJK pada usia muda (kurang dari 50 tahun), maka faktor risiko keturunan ini perlu diwaspadai. Selain itu, pola hidup di keluarga turut menentukan faktor risiko ini.

 

Faktor Sekunder

1. Hipertensi

Peningkatan tekanan darah di atas 130 untuk sistolik dan 90 untuk diastolik dapat membebani jantung, sehigga mengakibatkan hipertrofi ventrikel kiri atau pembesaran ventrikel kiri. Semakin tinggi tekanan darah dan dalam jangka waktu yang lama, maka semakin tinggi kerusakan terhadap dinding pembuluh darah arteri koroner dan memudahkan terjadinya aterosklerosis.

 

2. Hiperkolesterolmia

Kolesterol, lemak, dan substansi lainnya dapat menyebabkan penebalan dinding pembuluh darah arteri, sehingga lumen dari pembuluh darah tersebut menyempit Penyempitan pembuluh darah ini akan menyebabkan aliran darah menjadi lambat bahkan dapat tersumbat sehingga aliran darah pada pembuluh darah koroner yang fungsinya memberi O2 ke jantung menjadi berkurang. Kurangnya O2 akan menyebabkan otot jantung menjadi lemah, menimbulkan nyeri dada, serangan jantung bahkan kematian.

 

3. Merokok

Rokok menyebabkan beban otot jantung bertambah karena rangsangan peradangan dan menurunnya konsumsi O2 akibat inhalasi CO dari asap yang dihirup. Katekolamin juga dapat menambah reaksi trombosis dan juga menyebabkan kerusakan dinding arteri, sedangkan glikoprotein tembakau dapat menimbulkan reaksi hipersensitif dinding arteri.

 

4. Obesitas

Kegemukan/obesitas meningkatkan kerja jantung dan kebutuhan oksigen. Lemak tubuh yang berlebih (terutama obesitas sentral pada daerah perut dan kurangnya aktivitas fisik berperan dalam terbentuknya resistensi insulin. Obesitas pun akhirnya sudah menjadi salah satu gejala jantung koroner, mengingat menjaga berat badan tubuh juga menjadi salah satu bentuk pencegahan jantung koroner.

 

5. Kurang Olahraga

Berbagai penelitian menunjukkan orang yang jarang berolahraga lebih mudah terkena PJK dibandingkan dengan yang aktif berolahraga atau aktif bekerja fisik. Aktifitas fisik akan meningkatkan kadar lemak baik (kolesterol HDL) dan menurunkan faktor rIsiko lainnya, seperti tekanan darah tinggi, kegemukan maupun diabetes.

 

6. Diabetes Melitus

Intoleransi terhadap glukosa sejak dulu telah diketahui sebagai predisposisi penyakit pembuluh darah. Makroangiopati dan mikroangiopati diduga berperan dalam terjadinya kerusakan pembuluh darah.

 

7. Stres

Stres akan merangsang kerja jantung dan memicu penurunan aliran darah jantung. Di samping itu, stres akan menyebabkan terjadinya penggumpalan trombosit sehingga proses penyempitan pembuluh darah akan terjadi.

Artikel Terkait


flu pada bayi 7 bulan

Anak saya 7 bulan berat 9kg tinggi 70 cm. saya tinggal di jambi dan sekarang udara disini berasap karena kebakaran hutan. Anak saya flu ringan…. Dok, apa yang harus saya lakukan untuk membantu agar anak saya sehat kembali dan bila udara berasap baiknya bagaimana...

dok,anak saya umur 5 bulan 2 minggu.dia sudah bisa tengkurap umur 4bln 2 minggu tapii sampai sekarang belom bisa guling2 seperti anak seusianya.berat anak saya 9,3 kg dok..asi ekslusif..apakah bayi saya terlalu gemuk apa masii tergolong normal?

Jawaban Dokter : bu, belum dapat guling-guling untuk usia ini masih termasuk normal bu. Apalagi karena berat badannya besar. Masih ASI eksklusif tapi ya bu. sebab berat badannya setara dengan anak usia 1 tahun bu. Berapakah tingginya? mungkin ibu dapat memperbanyak...