ASMA

Penyebab Asma

Asma adalah penyakit yang heterogen akibat gabungan antara faktor genetik  dan faktor lingkungan. Telah ditemukan berbagai faktor risiko yang dapat menyebabkan seseorang menderita asma. Faktor risiko ini perlu dibedakan dengan penyebab asma atau pemicu serangan asma, di mana pemicu merupakan faktor lingkungan yang memicu serangan asma atau memperberat asma pada pasien yang sudah didiagnosis asma. Beberapa penyebab asma meliputi:

Atopi

Atopi merupakan salah satu penyebab asma yang menjelaskan kemungkinan genetik di mana seseorang akan lebih mudah menderita penyakit-penyakit alergi seperti rhinitis alergi, asma, dan masalah kulit yang berkaitan dengan atopi. Kondisi ini berkaitan dengan meningkatnya respons pertahanan tubuh terhadap alergen yang sering dijumpai, khususnya alergen makanan dan alergen yang dihirup.

Pasien dengan asma umumnya menderita penyakit akibat atopi lainnya, terutama rhinitis alergi. Kondisi ini dapat dijumpai pada 80% pasien asma. Walaupun kondisi atopi cukup sering dijumpai di populasi umum (40-50% populasi memiliki atopi), hanya sedikit yang menderita asma di antaranya. Atopi ini timbul karena pengaturan genetik dari antibodi spesifik imunoglobulin E (IgE), antibodi yang banyak dijumpai pada pasien asma dan penderita alergi lainnya. Dengan mengenali gejala asma yang ditunjukkan akibat atopi, proses pengobatan asma akan lebih mudah dilakukan.

Faktor Genetik

Faktor genetik juga menjadi salah satu penyebab asma. Terdapat hubungan jelas antara hubungan keluarga dengan kejadian asma di dalam keluarga itu sendiri. Ditemukannya angka kejadian asma di antara kembar identik mengidentifikasi kemungkinan bahwa terdapat faktor genetik yang berperan dalam asma. Walaupun demikian, apakah keadaan genetik yang menyebabkan atopi dan asma sampai saat ini belum diketahui jelas. Penelitian terakhir menunjukkan bahwa tingkat keparahan asma atau komplikasi asma kemungkinan sudah ditentukan faktor genetik.

Pada pasien dengan atopi, adanya paparan faktor lingkungan dalam usia kehidupan awal dicurigai berperan dalam menyebabkan timbulnya asma. Peningkatan prevalensi asma terutama di negara berkembang dalam beberapa dekade terakhir menunjukkan adanya mekanisme lingkungan yang berinteraksi dengan kondisi genetik.

Infeksi

Walaupun infeksi virus (terutama rhinovirus) merupakan pemicu dari eksaserbasi asma, perannya sebagai penyebab asma masih dipertanyakan. Ditemukan hubungan antara infeksi respiratory syncytial virus (RSV) di masa bayi dengan perkembangan asma. Namun, bagaimana mekanisme pastinya belum ditemukan karena seringnya infeksi ini terjadi di masa bayi. Penelitian menemukan bahwa rendahnya tingkat infeksi pada masa anak-anak mungkin menjadi faktor peningkatan risiko asma. Teori ini disebut sebagai “hipotesis higienitas” di mana paparan infeksi yang rendah di masa kecil membuat kegagalan pematangan sistem kekebalan tubuh sesuai usia. Ditemukan juga bahwa anak yang dibesarkan di peternakan hewan dan lebih terpapar pada berbagai macam allergen memiliki risiko menderita asma lebih rendah. Walaupun teori ini didukung data epidemiologis, hingga kini teori ini masih dipertanyakan.

Polusi Udara

Polusi udara seperti ozon, partikel diesel, dan sulfur dioksida juga menjadi penyebab asma, tetapi hubungannya dengan penyebab asma masih belum jelas. Dari pengamatan, ditemukan bahwa jumlah penderita asma lebih rendah di tempat dengan polusi udara tinggi. Diduga, polusi udara di dalam ruangan lebih berperan terhadap kejadian asma, seperti paparan nitrogen oksida dari kompor dan paparan asap rokok pada perokok pasif. Terdapat pula dugaan bahwa ibu yang merokok saat hamil meningkatkan angka kejadian asma.

Obesitas

Asma, dengan gejala yang lebih sulit dikontrol, lebih banyak dijumpai pada pasien dengan indeks massa tubuh lebih dari 30 mg/kg/m2. Dugaan saat ini adalah jaringan lemak berlebih dalam tubuh mengeluarkan zat-zat peradangan sehingga memicu asma, tetapi hal ini belum dapat dibuktikan.

Faktor-faktor risiko yang disebutkan di atas kemudian didukung dengan adanya peradangan pada saluran nafas. Peradangan ini berjalan kronis dan bila mendadak dirangsang dengan pemicu, saat itulah terjadi serangan asma. Serangan asma ini terjadi akibat reaksi hebat sel-sel pertahanan tubuh yang menyebabkan penyempitan jalan nafas, pembentukan dahak, penurunan aliran udara, dan apabila kondisi ini terus memberat atau tidak terkontrol, menyebabkan perubahan bentuk jalan nafas. Perubahan bentuk jalan nafas ini yang membuat gejala asma yang semakin lama semakin berat, walaupun pada awalnya asma merupakan kondisi yang sepenuhnya dapat pulih kembali seperti awal. Setelah mengetahui penyebab asma, maka Anda dapat melakukan bentuk pencegahan asma.

  

Pemicu Serangan Asma

Terdapat banyak zat yang dapat menjadi pemicu serangan asma, antara lain:

  1. Alergi. Sebagian besar penderita asma memiliki alergi. Zat yang menyebabkan alergi disebut alergen. Alergen yang sering dijumpai adalah bulu hewan, jamur, kutu ranjang, dan bagian tubuh kecoa. Identifikasi alergi dan penghindaran alergen dapat membantu mencegah serangan asma.
  2. Asap rokok, iritan yang sering memperberat asma.
  3. Polusi udara, aroma yang berbau kuat atau asap.
  4. Olahraga fisik
  5. Obat-obatan tertentu dapat memperberat gejala asma, misalnya aspirin, obat penghilang nyeri dan penghambat reseptor beta.
  6. Stres dan kecemasan.
  7. Infeksi akibat virus ataupun bakteri.
  8. Paparan udara dingin, perubahan cuaca dan udara kering.

Artikel Terkait


flu pada bayi 7 bulan

Anak saya 7 bulan berat 9kg tinggi 70 cm. saya tinggal di jambi dan sekarang udara disini berasap karena kebakaran hutan. Anak saya flu ringan…. Dok, apa yang harus saya lakukan untuk membantu agar anak saya sehat kembali dan bila udara berasap baiknya bagaimana...

dok,anak saya umur 5 bulan 2 minggu.dia sudah bisa tengkurap umur 4bln 2 minggu tapii sampai sekarang belom bisa guling2 seperti anak seusianya.berat anak saya 9,3 kg dok..asi ekslusif..apakah bayi saya terlalu gemuk apa masii tergolong normal?

Jawaban Dokter : bu, belum dapat guling-guling untuk usia ini masih termasuk normal bu. Apalagi karena berat badannya besar. Masih ASI eksklusif tapi ya bu. sebab berat badannya setara dengan anak usia 1 tahun bu. Berapakah tingginya? mungkin ibu dapat memperbanyak...