AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) adalah sekumpulan tanda dan gejala penyakit akibat hilangnya/menurunnya sistem kekebalan tubuh seseorang.

 

 

 

 

GEJALA DAN TANDA

Gejala mayor:

  • Penurunan berat badan > 10%/ bulan
  • Diare kronik > 1 bulan
  • Demam > 1 bulan (terus menerus atau kumat-kumatan)

Gejala minor:

  • Batuk > 1 bulan
  • Dermatitis pruritik umum (kelainan kulit)
  • Herpes zoster rekuren (cacar api/air)
  • Kandidiasis oro-faring (gonorhoe mulut)
  • Limfadenopati umum (pembesaran kelenjar getah bening)

Pada umumnya untuk beberapa tahun orang yang terinfeksi HIV tersebut tidak menunjukan gejala sama sekali, ia tetap merasa sehat dan dari luar tampak sehat. Tiga tahun sampai 10 tahun kemudian, barulah timbul gejala-gejala badan makin kurus, panas lama, diare, sesak nafas dsb. Pada saat itu ia sudah masuk tahap AIDS. Hampir semua orang yang terinfeksi HIV akan menderita AIDS yang kemudian bisa menimbulkan kematian akibat infeksi yang timbul karena daya tahan tubuh menurun. Jadi, penyakit infeksi HIV/AIDS merupakan penyakit yang berbahaya, antara lain karena kematian akibat infeksi sekundernya dan penularannya cepat, karena sebagian besar cara penularannya melalui hubungan sexual dan melalui periode tanpa gejala yang lama serta gejalanya yang tidak khas, menyebabkan kita sukar mengetahui apakah seseorang terinfeksi HIV atau tidak. Yang penting lagi bagi orang yang terinfeksi HIV, biasanya merasa sehat dan dari luar tampak sehat tetapi dapat menularkan virus AIDS ke orang lain.

PENYEBAB
Penyebabnya adalah HIV (Human Immunodeficiency Virus). Virus ini menyerang satu jenis sel darah putih yang disebut limfosit, yaitu populasi limfosit T helper. Segera sesudah terinfeksi HIV, jumlah limfosit T helper berkurang, dari 2000/mmk menjadi kurang lebih 1000/mmk, kemudian makin turun bertahap. Limfosit T helper (CD4) memegang peranan yang sangat penting dalam system kekebalan tubuh manusia, sehingga bila jumlah dan fungsinya terganggu menyebabkan seseorang mudah diserang penyakit infeksi dan kanker. Sesudah HIV memasuki tubuh manusia, partikel virus tersebut bergabung dengan DNA sel penderita yang terinfeksi, sebagai akibatnya, satu kali seseorang terinfeksi HIV, seumur hidup ia akan tetap terinfeksi.

TERAPI
Infeksi HIV sampai saat ini belum dapat di sembuhkan, tetapi bisa diobati.
Dasar-dasar terapi maupun pemberantasan penyakit pada infeksi ini ialah:
1. Penyakit yang sudah manifest/lanjut

  • Terapi anti-virus dengan azidotimidon (AZT, Zidovudin). Sering menimbulkan efek samping, tetapi dapat memperpanjang masa kehidupan dan memperbaiki kualitas hidup.
  • Sarkoma-Kaposi: terapi lokal (antara lain laser, sinar ionnisasi, krioterapi), terapi sistemik (interferon alfa, kemoterapi)
  • Pengobatan infeksi sekunder seperti infeksi kandida/jamur (flukonazol, ketokonazol), infeksi herpes simpleks dan herpes zooster(asiklovir), kriptokokosis (flukanazol, amfoterisin B). Terapi akut serta terapi profilaksis untuk menghindari kekambuhan berulang di masa datang.

2. Stadium laten seropositif: tujuan adalah memperpanjang stadium laten dengan menghilangkan/menghindari kofaktor (misal penyakit kelamin lainnya), memelihara system imun dan imunitas alami (misal menghindari pemakaian obat terlarang, alcohol, nikotin, sinar matahari yang berlebihan). Pengobatan azidotimidin dengan dosis rendah, bila perlu profilaksis/pencegahan primer dan infeksi oportunistik yang penting (misal pneumonia pneumokistik carinii).

3. Perawatan psikososial dan tindakan bantuan: pada fase kritis, dimana tindakan bantuan dapat diperlukan antara lain: hasil tes positif timbul gejala penyakit yang obyektif, penentuan untuk melakukan terapi aktif, timbulnya gejala (gejala kulit) yang dapat dilihat, stadium terminal.

4. Sikap terhadap kontaminasi karena pekerjaan: terutama pada orang yang bekerja pada bidang medis (perawat, dokter, laboran) terhadap resiko kontaminasi dengan darah yang tercemar, terutama kontaminasi melalui kulit tubuh (jarum atau alat infuse yang tercemar dan lain-lain). Tetapi resiko infeksi sangat kecil (di bawah 0,5%)
Tindakan yang dianjurkan adalah:
Mengeluarkan darah pada tempat terjadinya luka (insisi/membuat lubang), desinfeksi dalam (tindakan steril) dicoba dengan pemberian azitimidin (segera 250 mg per oral, kemudian 1,25 gram tiap hari). Tes HIV dan kontrol sesudah 1 tahun.

KOMPLIKASI

  1. Penyakit paru-paru utama. Misal: Pneumonia pneumocystis (PCP), Tuberculosis (TBC)
  2. Penyakit saluran pencernaan utama. Misal: Esofagitis, Diare
  3. Penyakit syaraf dan kejiwaan utama. Misal: Toksoplasmosis, Leukoensefalopati multifokal progresif
  4. Kanker dan tumor ganas (malignan). Misal: Kanker leher rahim, limfoma Hodgkin/keganasan kelenjar getah bening, kanker usus besar bawah (rectum), dan kanker anus.
  5. Infeksi oportunistik lainnya. Misalnya: demam ringan, gangguan radang pada retina mata (retinitis sitomegalovirus), infeksi yang disebabkan oleh jamur Penicillium marneffei, atau disebut Penisiliosis.

PENCEGAHAN
Beberapa cara pencegahan untuk mengurangi penularan AIDS adalah:

  1. Kontak seksual harus dihindari dengan orang yang diketahui menderita AIDS dan orang yang sering menggunakan obat bius intravena.
  2. Mitra seksual multipel atau hubungan seksual dengan orang yang mempunyai banyak teman kencan seksual.
  3. Cara hubungan seksual yang dapat merusak selaput lendir rectal (anus), dapat memperbesar kemungkinan mendapatkan AIDS. Senggama anal pasif yang pernah dilaporkan pada beberapa penelitian menunjukan korelasi tersebut. Walaupun belum terbukti, kondom dianggap salah satu cara untuk menghindari penyakit kelamin, cara ini masih merupakan anjuran.
  4. Kasus AIDS pada orang yang menggunakan obat bius intravena dapat dikurangi dengan cara memberantas kebiasaan buruk tersebut dan melarang penggunaan jarum suntik bersama.
  5. Semua orang yang tergolong berisiko tinggi AIDS seharusnya tidak menjadi donor.
  6. Para dokter harus ketat mengenai indikasi medis tranfusi darah yang dianjurkan.

INFO TAMBAHAN
Rekomendasi Tempat Pengobatan
Klinik dan LSM Dampingan HIV/AIDS. Jakarta :
Kelompok Studi Khusus AIDS FKUI-RSCM (Pokdisus)
JL. Dipnegoro No. 71 RSCM
G3, Lt.2, Jakarta Pusat
tel. 021 – 390 5250 begin_of_the_skype_highlighting              021 – 390 5250      end_of_the_skype_highlighting atau 390 3838
Rumah Sakit Umum H. Adam Malik Medan (Pusat Pelayanan Khusus )
Alamat : Jln. Bunga Lau No. 17
Telepon : 061 – 8360381
Fax : 061 – 8360255