1 Jawaban Dokter

Staff 02/01/2019
Public

Selamat pagi sobat,
Terimakasih telah menggunakan layanan tanyadok.
Kami mengerti kekhawatiran yang sobat rasakan. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) keterlambatan bicara dan bahasa dialami oleh 5-8% anak usia prasekolah. Kondisi ini penting untuk dideteksi sejak dini. Karena, jika tidak ditangani dengan tepat dan cepat, keterlambatan bicara bisa membuat anak kesulitan berkomunikasi dan bersosialisasi dengan orang lain, termasuk orang tuanya sendiri, sehingga berpotensi menghambat pencapaian belajarnya kelak.
Keterlambatan bicara dapat disebabkan gangguan pendengaran, gangguan pada otak (misalnya retardasi mental, gangguan bahasa spesifik reseptif dan/atau ekspresif), autisme, atau gangguan pada organ mulut yang menyebabkan anak sulit melafalkan kata-kata (dikenal sebagai gangguan artikulasi). Untuk menegakkan diagnosis penyebab keterlambatan bicara, perlu pemeriksaan yang teliti oleh dokter, yang terkadang membutuhkan pendekatan multidisiplin oleh dokter anak, dokter THT, dan psikolog atau psikiater anak. Tata laksana keterlambatan bicara bergantung pada penyebabnya, dan juga melibatkan kerja sama antara dokter anak, dokter spesialis lain yang terkait, terapis wicara, dan tentunya orangtua.
Berdasarkan usia keponakan sobat, tahapan perkembangan bicara normal setelah usia 2 tahun, hampir semua kata yang diucapkan anak telah dapat dimengerti oleh orang lain. Anak sudah biasa menggunakan kalimat 2-3 kata – mendekati usia 3 tahun bahkan 3 kata atau lebih – dan mulai menggunakan kalimat tanya. Ia dapat menyebutkan nama dan kegunaan benda-benda yang sering ditemui, sudah mengenal warna, dan senang bernyanyi atau bersajak (misalnya Pok Ami-Ami). 
Perlu diwasapadai jika terdapat salah satu tanda bahaya di bawah ini, sebaiknya jangan menunda dan segeralah memeriksakan keponakan sobat ke tenaga kesehatan terdekat.
Tanda bahaya bicara dan bahasa (ekspresif)

  1. Kurangnya kemampuan menunjuk untuk memperlihatkan ketertarikan terhadap suatu benda pada usia 20 bulan
  2. Ketidakmampuan membuat frase yang bermakna setelah 24 bulan
  3. Orang tua masih tidak mengerti perkataan anak pada usia 30 bulan

Tanda bahaya bicara dan bahasa (reseptif)

  1. Perhatian atau respons yang tidak konsisten terhadap suara atau bunyi, misalnya saat dipanggil tidak selalu member respons
  2. Kurangnya join attention atau kemampuan berbagi perhatian atau ketertarikan dengan orang lain pada usia 20 bulan
  3. Sering mengulang ucapan orang lain (membeo) setelah usia 30 bulan

 
Sementara ini, langkah berikut bisa dilakukan untuk memaksimalkan perkembangan bicara anak:

  • Tidak memarahi, menghardik, atau menghukum anak yang bisa membuatnya trauma sehingga takut berkata-kata
  • Sering ajak anak bicara dan berkomunikasi
  • Rangsang ia untuk menceritakan pengalamannya, jadilah pendengar yang baik
  • Bacakan cerita, bisa juga dibantu dengan buku-buku yang bergambar menarik bagi anak. Sembari membaca, anak dapat diajak menunjuk gambar dan menyebut nama benda yang ditunjuk.

Demikian penjelasan dari kami, semoga bermanfaat dan salam sehat:)

#1
Hanya dokter yang dapat memposting jawaban.