TBC atau penyakit lain?

Dok, maaf sebelumnya krn sy akan mmberikan penjelasan panjang sebelum bertanya.
Sy wanita, belum menikah, akan berusia 24 thn, berat badan 45kg, tinggi badan 151cm, golongan darah O.
Pada bulan November 2015 – Februari 2016 sy berada di luar kota sy, yang menurut sy tempat tersebut sangat lembab dan kotor. Selama itu sy sering pulang pergi naik motor (perjalanan 3 jam). Semenjak tinggal disana sy sering terserang pilek dan batuk. Seminggu sakit, 2-3 hari sembuh, seminggu sakit, dan seterusnya sampai sy kembali ke rumah, sy juga masih seperti itu.
Pada bulan April 2016 sy pergi mendaki Gunung, namun dalam perjalanan sy beberapa kali muntah tanpa sebab dan susah bernapas saat mendaki. Padahal biasanya sy tidak pernah seperti itu.
Pada bulan Mei sy bekerja dan mengetahui bahwa rekan kantor sy satu2nya sedang menjalani pengobatan TBC bulan ke-4.
2 minggu sy kerja sy kembali sakit batuk (tidak berdahak). Tapi berbeda dari sebelumnya. Sy juga mengalami nyeri dada & punggung saat membungkuk, dan menoleh kanan kiri. Dua minggu kemudian sy datang ke dokter umum. Dokter umum memberi sy obat magh dan antibiotik utk radang tenggorokan, serta menyarankan untuk tidak makan pedas dan asam. Selama sebulan sy tidak makan pedas dan asam. Batuk sy sembuh.
Tapi sebulan kemudian sy kembali batuk tidak berdahak dan nyeri dada. Namun batuk sy semakin parah, sampai sy sering muntah. Muntah sy selalu berupa lendir bening ada gelembung udaranya (seperti berbusa) dan sakit sekali di perut. Susah bernapas, tiap napas sedikit dalam selalu batuk. Badan mudah lelah dan malas makan. Tapi sy tidak demam, tidak berkeringat malam, tidak berdahak, dan tidak mengalami penurunan berat badan.
Sebulan semenjak itu sy datang ke dokter penyakit dalam. Dokter memperkirakan sy alergi atau bronkitis. Lalu sy diberi obat antibiotik, obat pereda batuk, dan obat demam. Namun saat minum obat tsb sakit sy semakin parah. Batuk sy smakin menjadi, dada sy sakit sprti ditusuk-tusuk, utk tidur miring kanan kiri sangat sakit, dan badan menjadi panas meriang.
Kemudian sy kembali lagi ke dokter dengan hasil rontgen bertuliskan : Curiga KP aktif. Pleural effusi dextra.
Dokter langsung mengatakan sy terkena TB tanpa pemeriksaan lain-lain selain stetoskop dan tekanan darah. Kemudian sy dirujuk di RS utk punksi pleura.
Di RS, sy dites darah hasilnya sbb: *yg di dalam kurung adl nilai rujukannya
Hemoglobin : 11.2 (12.0-16.0)
Hematrocit : 33.3 (4.30-10.8)
Trombosit : 455 (150-350)
Limfosit : 16 (24-44)
Monosit : 15.5 (3.0-7.0)
Eosinofil : 0.1 (2.0-4.0)
Basofil : 0.4 (0.5-1.0)
MCV : 78.7 (84.0-96.0)
MCH : 26.5 (28.0-34.0)
PCT : 0.41 (0.15-0.32)
PDW : 9.1 (15.5-17.5)
LED : 122 (<20)
Selain itu masih normal dan berada di dalam batas nilai rujukan.
Sedangkan hasil pemeriksaan cairan pleura sy sbb:
Rivalta : positif
Glukosa : 98.0
Cell
Poli : 1700/cmm
Mono : 4800/cmm
Diff
Poli : -%
Mono : -%
Sy diberikan terapi OAT selama total 8 bulan. Selama itu sy telah menjalani rontgen beberapa kali. Rontgen pertama menjelaskan bahw efusi pleura bertambah, rontgen kedua dan selanjutnya menjelaskan tidak ada pleural efusi lagi. Dan dari kesemua hasil rontgen sm skali tidak ada kelainan lain selain efusi pleura di awal pengobatan. Selama pengobatan sy mengalami berbagai alergi seperti gatal-gatal sekujur tubuh, badan pegal-pegal, muncul jerawat, kulit wajah jadi kusam, dan sendi-sendi sy kaku dan sakit utk digerakan terutama saat bangun tidur dan tanpa aktifitas (kondisi beristirahat). Sy tidak pernah diperiksa dahak maupun pemeriksaan lain seperti mantoux atau tes yg memeriksa ada atau tidaknya bakteri pada cairan pleura dll. Sy hanya berkeringat saat memang gerah dan dulu di awal pengobatan ketika selesai minum obat panas. Selain itu keringat sy normal-normal sj. Tidak berkeringat malam. Tapi memang batuk sy berkurang. Kata dokter sy bukanlah TB aktif sehingga tidak menularkan. Tapi bagaiman bisa dokter tahu tanpa memeriksa apakah sy benar TB atau tidak?
Saat ini sy baru saja berhenti OAT setelah 8 bulan, namun belum memeriksakan lagi k RS karena waktu dan biaya.
Kondisi tubuh sy saat ini baik-baik sj. Namun sy masih merasakan sakit sendi yg sama di jempol tangan sy padahal sudah tidak minum obat. Masih sedikit ada batuk (kadang-kadang sj, jarang sekali). Dan masih mudah lelah. Namun gejala lainnya tidak ada. Berat badan sy 45 kilo. Sebelum sakit dan saat terdiagnosis berat badan sy tidak berubah, yaitu 40 kilo. Jadi tidak ada penurunan berat badan sama sekali.
Yang sy tanyakan dok.
1. Dengan penjelasan tsb, apakah dokter bisa mengetahui, apakah ada kemungkinan sy salah diagnosis? Karena sesaat sy opname di RS sy datang ke ahli pengobatan alternatif China. Beliau mengatakan bahwa sy hanya perlu mengubah pola hidup sehat. Beliau hanya mengatakan sy paru-paru basah dan tidak ada TB, dan tidak mungkin kena TB. jadi percuma saja kalau sy minum obat tapi pola hidup tidak teratur. Jika ada kemungkinan salah diagnosis, apakah menurut dokter penyakit sy ini?
2. Mengapa sendi di jempol sy masih sakit? Padahal sudah berhenti minum OAT seminggu?
3. Sy akan menikah bulan depan dok. Jika sy hamil apakah obat yg sebelumnya masih berpengaruh terhadap kondisi kehamilan? Kemudian apakah ibu yang terkena TBC/pernah terkena TBC dapat menularkan ke janinnya?
4. Apakah teman sy yg sedang berobat TB bulan ke-4 tsb bisa menularkan bakterinya? Jika memang sy tertular, apakah bakteri tsb bisa langsung aktif dan menyebabkan efusi pleura dalam waktu singkat? Karena ahli pengobatan China dan dokter paru-paru yang memeriksa sy mengatakan bahwa efusi pleura sy sudah ada sejak lama namun baru terasa akhir-akhir ini saja.
5. Penyakit apa saja yang dapat menyebabkan efusi pleura? Apakah aktifitas berkendara tanpa masker di malam hari yg rutin dapat menjadi penyebab? Ataukah ada sangkut paut antara efusi pleura dan penyakit seputar asam lambung?
Mohon dijawab. Terimakasih sebelumnya.

1 Jawaban Dokter

Staff 12/06/2017
Public

Halo Sobat Renyta,
Terima kasih atas penjelasannya yang sangat deskriptif dan memudahkan saya untuk menjawab.
Berikut yang dapat saya informasikan kepada Sobat terkait pertanyaan-pertanyaan Sobat:
 1. Tentang kesalahan diagnosis

  • TBC tidak selalu menunjukan gejala yang khas seperti batuk berdahak, penurunan napsu makan, penurunan berat badan, keringat malam, tubuh terasa lemas, dan lain lain. Gejala yang Sobat alami memang tidak spesifik TBC, dan memiliki banyak kemungkinan diagnosis banding seperti bronkitis, pneumonia, atau infeksi paru lainnya.
  • Dari pemeriksaan fisik dengan menggunakan stetoskop, dokter dapat mendengar apakah terdapat bunyi napas abnormal pada paru Sobat.
  • Saat diagnosa sulit ditegakan berdasarkan riwayat penyakit dan hasil pemeriksaan fisik, maka dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang. Pada kasus Sobat, pemeriksaan penunjang tersebut adalah rontgen dada dengan hasil “Curiga KP aktif. Pleural effusi dextra.” yang menunjukan bahwa terdapat gambaran radiologis pada paru Sobat yang dicurigai sebagai infeksi TBC (KP adalah singkatan dari Koch Pulmonum, nama lain dari TBC) aktif dengan disertai efusi pleura atau penumpukan cairan pada rongga antara lapisan bagian dalam dan luar paru kanan Sobat.
  • Ada tidaknya bakteri pada cairan pleura Sobat pernah diperiksa oleh dokter dengan hasil Rivalta positif (artinya cairan tersebut berbentuk eksudat yaitu nampak keruh, yang menunjukan adanya inflamasi atau infeksi), Cell Poli : 1700/cmm Mono : 4800/cmm, Diff Poli : -% Mono : -%, yang menunjukan adanya infeksi.
  • Kemungkinan penyebab Sobat tidak pernah diperiksa dahak adalah karena saat Sobat berobat ke dokter penyakit dalam, Sobat tidak mengalami batuk berdahak.
  • Kemungkinan penyebab Sobat tidak diperiksa tes Mantoux adalah saat itu dokter menilai daya tahan tubuh Sobat dalam kondisi menurun, sehingga dikhawatirkan akan memberikan hasil negatif palsu.
  • Jika Sobat merasa ragu dengan diagnosis dokter, ada baiknya Sobat berkonsultasi dengan dokter lain untuk mendapatkan second opinion karena hal ini merupakan hak pasien. Pada kasus Sobat ini, Sobat dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis paru.

2. Tentang efek samping OAT
Efek samping OAT akan menetap selama beberapa bulan hingga tahun, tergantung kondisi fisik Sobat. Sebaiknya Sobat berkonsultasi dengan dokter agar dokter dapat meresepkan obat untuk membantu mengurangi gejala efek samping ini.
3. Tentang efek OAT dan penularan TBC pada kehamilan

  • Empat obat lini pertama OAT yaitu isoniazid, rifampisin, etambutol, dan pirazinamid aman digunakan pada ibu hamil.
  • Pada ibu hamil dengan infeksi TBC yang masih aktif, efek TBC kepada janin adalah menyebabkan janin mengalami masalah pertumbuhan dan perkembangan. Walaupun jarang sekali terjadi, namun penularan TBC dari ibu dengan infeksi TBC aktif kepada janin dapat terjadi.
  • Oleh karenanya, saya menyarankan Sobat untuk menjelaskan dengan detail kepada dokter spesialis kandungan dan kebidanan saat Sobat mengandung nanti tentang riwayat penyakit dan pengobatan Sobat.

4. Tentang penularan TBC
Seseorang dalam terapi TBC tidak lagi menularkan kuman TBC setelah 2 bulan pengobatan secara teratur. Jika pun Sobat tertular dari rekan Sobat ini, kemungkinan besar infeksi yang terjadi merupakan reaktivasi dari infeksi yang sebelumnya sudah ada, sehingga menimbulkan efusi pleura dalam waktu yang cepat.
5. Tentang penyakit yang dapat menyebabkan efusi pleura

  • Berikut beberapa penyebab tersering  efusi pleura yaitu keganasan (kanker paru), pneumonia, tuberkulosis, emboli paru, dan lain-lain.
  • Walaupun sangat jarang terjadi, gastritis erosiva atau peradangan yang menyebabkan perlukaan pada lambung dapat menyebabkan terjadinya efusi pleura.
  • Aktivitas Sobat berkendara tanpa masker di malam hari secara rutin bukanlah penyebab efusi pleura, namun dapat menjadi pencetus terjadinya perburukan pada penyakit yang telah Sobat alami pada saat itu.

Kesimpulan dari saya, saya sarankan Sobat kembali kontrol kepada dokter spesialis penyakit dalam yang meresepkan OAT pada Sobat agar Sobat dapat mengetahui pasti apakah penyakit TBC Sobat telah pulih sempurna atau masih membutuhkan pengobatan lebih lanjut. Sobat dapat memanfaatkan fasilitas BPJS untuk membantu Sobat secara finansial.
Semoga informasi ini dapat membantu Sobat.

#1
Hanya dokter yang dapat memposting jawaban.