Copenhagen, Berdasarkan hasil riset terbaru yang dipublikasikan dalam Jurnal Kedokteran Reproduksi terkemuka di Eropa, Senin 8 November 2010 menunjukkan bahwa perempuan yang mengkonsumsi lebih dari satu analgesik ringan selama kehamilan, atau yang mengkonsumsi obat penghilang rasa sakit selama trimester kedua kehamilan, memiliki risiko melahirkan bayi laki-laki dengan testis yang tidak turun ( Kriptorkismus ). Kriptorkismus merupakan suatu kondisi yang dapat mempengaruhi kualitas air mani serta dapat meningkatkan resiko kanker testis di kemudian hari. Bukti baru telah muncul bahwa penggunaan obat penghilang rasa sakit ringan seperti parasetamol, aspirin dan ibuprofen dapat berperan dalam peningkatan gangguan reproduksi laki-laki dalam beberapa dekade terakhir. Para peneliti dari Denmark, Finlandia dan Prancis menemukan bahwa wanita yang menggunakan lebih dari satu obat penghilang rasa sakit secara bersamaan (misalnya parasetamol dan ibuprofen) memiliki peningkatan risiko tujuh kali lipat melahirkan anak dengan beberapa bentuk kriptorkismus dibandingkan dengan wanita yang tidak mengkonsumsi obat penghilang rasa sakit apapun. Trimester kedua merupakan periode yang sangat sensitif dalam kehamilan. Setiap penggunaan analgesik pada trimester ini akan meningkatkan risiko kriptorkismus lebih dari dua kali lipat. Ibuprofen dan aspirin memiliki risiko kriptorkismus sekitar empat kali lipat, sedangkan parasetamol memiliki risiko dua kali lipat. Temuan ini didukung dari penelitian yang dilakukan oleh para peneliti di Denmark  dan Perancis yang dilakukan pada tikus. Mereka menemukan bahwa analgesik menghambat produksi androgen yang memberi pasokan hormon testosteron laki-laki selama periode awal penting dari kehamilan ketika organ reproduksi laki-laki terbentuk. Efek dari analgesik pada tikus tersebut sebanding dengan senyawa penghambat endokrin (Phtalates), senyawa kimia yang digunakan dalam pembuatan plastik seperti PVC, pada dosis yang sama. Penelitian ini juga dilakukan pada dua kelompok perempuan, 834 di Denmark dan 1463 di Finlandia, yang bergabung dalam penelitian saat mereka hamil. Tehnik ini dilakukan dengan menggunakan kuesioner tertulis tentang penggunaan obat analgesik selama kehamilan di Finlandia sedangkan di Denmark tehnik kuesioner ini dilakukan melalui sebuah wawancara telepon, atau keduanya. Para peneliti tidak dapat menemukan pengaruh yang signifikan secara statistik pada kelompok perempuan Finlandia, tetapi menemukan dampak yang signifikan pada perempuan Denmark. Dr. Leffers, peneliti senior Denmark yang memimpin penelitian ini, mengatakan para peneliti tidak begitu mengerti mengapa kohort Finlandia tidak menunjukkan asosiasi yang sama dengan kohort Denmark. Namun, penggunaan analgesik ringan dalam kohort Finlandia hanya diperiksa dengan kuesioner, tidak melalui wawancara telepon. Wawancara melalui telepon memberikan informasi yang dapat diandalkan dalam kohort Denmark, yang dapat menjelaskan beberapa perbedaan. Selain itu, prevalensi kriptorkismus jauh lebih rendah di Finlandia (2,4%) dibandingkan dengan Denmark (9,3%). Oleh karena itu, penelitian selanjutnya membutuhkan suatu kelompok yang lebih besar dengan jumlah kasus yang hampir sama. "Wanita hamil sebaiknya mengurangi penggunaan analgesik selama kehamilan. Kami merekomendasikan wanita hamil sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter bila mengalami nyeri atau sakit," ujar Dr.Leffers, dilansir Reuters, Selasa (9/11/2010). Sumber : http://www.alphagalileo.org/ViewItem.aspx?ItemId=89156&CultureCode=en