Sebuah penelitian membuktikan bahwa terapi perilaku kognitif (CBT) mengurangi risiko serangan jantung berulang dan penyakit kardiovaskular lainnya. Kematian akibat penyakit jantung di India meningkat 2-3x lipat dalam enam tahun terakhir. Stres, kecemasan, dan aktivitas fisik yang kurang  dianggap memiliki hubungan dengan resiko timbulnya penyakit jantung. Terapi perilaku kognitif (CBT) adalah suatu pendekatan psikoterapi. Terapi ini merupakan terapi bicara yang mencoba untuk mengubah cara orang berpikir. Hal ini didasarkan pada gagasan bahwa pikiran kita mempengaruhi perasaan dan perilaku kita. Dengan mengubah cara berpikir, kita bisa merasa atau bertindak lebih baik terlepas dari situasi dimana kita berbeda. Para peneliti di Swedia meneliti 362 pasien berusia 75 tahun atau lebih muda yang keluar dari rumah sakit setelah menderita penyakit jantung koroner. 170 pasien dari kelompok menerima perawatan medis standar, dan 192 lainnya menerima perawatan yang sama ditambah 20 sesi terapi perilaku kognitif (CBT) selama 12 bulan dengan berfokus pada manajemen stres. Setelah itu, dilakukan tindak lanjut kepada pasien selama 8 tahun. Ditemukan bahwa kelompok yang berpartisipasi dalam sesi terapi memiliki tingkat 45% lebih rendah dari serangan jantung dan tingkat 41% lebih rendah dari kelainan kardiovaskular lainnya. Semakin teratur peserta menghadiri sesi terapi, semakin rendah risiko serangan jantung kedua atau peristiwa lainnya. Manajemen stres adalah bagian penting dari menjaga kesehatan  bahkan jika seseorang tidak berisiko tinggi penyakit jantung. CBT bertujuan untuk membantu klien menyadari distorsi pemikiran yang menyebabkan tekanan psikologis, pola perilaku yang menguatkannya, dan cara untuk memperbaikinya. Sesi CBT membantu orang untuk belajar keterampilan mengatasi stres, mengurangi perasaan marah dan permusuhan. Sumber: Archives of Internal Medicine.