Penelitian ini mengikutsertakan lebih dari 1.200 pasangan heteroseksual dengan HIV-negatif di Uganda, dimana sirkumsisi pada pria sangat digalakkan sebagai usaha mengurangi penyebaran HIV/AIDS. Setengah dari pria tersebut disirkumsisi sebelum penelitian, sedangkan sisanya dijadwalkan untuk disirkumsisi setelah penelitian selesai. Dua tahun kemudian, pasangan wanita dari pria yang tidak disirkumsisi lebih banyak yang terinfeksi dengan human papilloma virus (HPV) yang berhubungan dengan kanker serviks/leher rahim. Pada penelitian sebelumnya oleh Johns Hopkins University, Aaron A.R. Tobian, MD, PhD, dan kolega menunjukkan bahwa sirkumsisi mengurangi infeksi HIV, HPV pada pria, dan herpes genitalis.  â€œSekarang jelas terlihat bahwa sirkumsisi dapat mengurangi HPV pada wanita dan kemungkinan mencegah kanker serviks terutama jika tidak tersedia vaksin HPV,” jelas Tobian. Dampak sirkumsisi pada risiko kanker serviks ini kurang jelas terlihat pada daerah Amerika Serikat dan negara industri lainnya dimana skrining kanker serviks sering dilakukan, menurut dr. Anna Giuliano, ketua Departemen Epidemiologi Kanker di H. Lee Moffitt Cancer Center di Tampa, Fla. Baik Centers for Disease Control (CDC) maupun American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan sirkumsisi untuk bayi laki-laki, namun keduanya tidak menggalakkan hal ini. Dari tahun 2006 hingga 2009 jumlah bayi laki-laki baru lahir yang disirkumsisi menurun dari 56% menjadi 33%. CDC juga merekomendasikan sirkumsisi untuk pria dewasa yang memiliki risiko tinggi untuk infeksi HIV. Dr. Anna Giuliano pada penelitiannya juga menambahkan bahwa anjuran sirkumsisi ini sebaiknya disesuaikan juga dengan faktor lain seperti budaya, konteks penyakit, dan kebutuhan khusus dari berbagai populasi. Budaya yang berbeda melihat sirkumsisi ini dengan pandangan yang berbeda pula. Contohnya penduduk di Amerika Latin yang menganggap sirkumsisi sebagai tindakan yang kejam. Sirkumsisi tidak umum dilakukan di beberapa negara di Eropa namun kanker serviks juga sangat rendah karena skrining yang rutin. Kanker serviks sangat tinggi di negara seperti Mexico dan Brazil, dimana baik sirkumsisi dan skrining tidak umum dilakukan. Sumber : http://www.webmd.com/cancer/cervical-cancer/news/20110106/male-circumcision-cuts-womens-cervical-cancer-risk