Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau (GAK) di Cinangka pada 28 Oktober 2010 kemarin mencatat bahwa telah terjadi letusan Krakatau sebanyak 117 kali, embusan 56, tremor atau gerakan sebanyak 102 kali. Sinar api terlihat dua kali dengan ketinggian asap 1.500 meter berwarna putih kelabu menggumpal, vulkanik dangkal 61, dan vulkanik dalam 12. Mimin, 26 tahun, salah seorang warga Cinangka, Kabupaten Serang Banten mengatakan bahwa suara aktivitas Gunung Krakatau sudah sering terdengar sejak Jumat (29 Oktober 2010) dini hari, bahkan sejak malam terlihat ada percikan lava pijar dari puncak gunung. “Sejak Jumat dini hari, sekitar setengah jam sekali gelegarnya terdengar,” tutur Mimin. Petugas Pemantau GAK, Anton Pambudi, meminta warga terutama yang yang tinggal di sekitar GAK hingga pesisir Pantai Anyer dan Pantai Cinangka, Kabupaten Serang, Banten, mewaspadai aktivitas GAK yang terus mengeluarkan letusan. Dengan adanya status waspada ini, Pos Pemantau GAK, Cinangka telah merekomendasikan agar masyarakat baik nelayan atau wisatawan untuk tidak mendekat ke Anak Gunung Krakatau itu dengan jarak 2 kilometer. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi juga menetapkan status waspada. Para nelayan tidak dilarang mencari ikan di laut, asalkan tidak mendekat di radius 4 kilometer dari gunung Krakatau. Akibat letusan yang dikeluarkan GAK, ratusan nelayan yang berada di Kecamatan Cinangka, Serang, Banten, tidak melaut dikarenakan adanya aktivitas GAK yang kerap mengeluarkan letusan dan material seperti batu. Mereka khawatir material yang dikeluarkan akan membahayakan mereka. Para nelayan hanya melaut di sekitar bibir pantai. Sementara itu, sejumlah nelayan di Anyer masih melakukan aktivitasnya namun tetap tidak berani terlalu dekat dengan GAK. Para nelayan ini tidak berani turun ke laut jika gelombang tinggi, yaitu gelombang di atas dua meter. Masyarakat di sekitar lokasi diminta tetap waspada namun tidak panik sebab jarak antara gunung hingga perumahan warga cukup jauh. Sumber : www.kompas.com www.tempointeraktif.com