Serangan tomcat merupakan indikator kuat kerusakan lingkungan. Alih fungsi lahan dan perubahan iklim diduga menjadi penyebab ledakan populasi serangga ini. Hal ini dikatakan oleh Ibu Siti Nuramaliati Prijono , Direktur Pusat Peneliti Biologi LIPI (20/3) . Ketiadaan burung sebagai predator tomcat dapat disebabkan oleh perburuan ataupun perubahan iklim. Menurut Arief Yuwono , Deputi Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim Kementrian Lingkungan Hidup , serangan Tomcat disebabkan oleh intervensi manusia pada alam seperti pembukaan lahan dan pemakaian pestisida. Ahli Proteksi Tanaman IPB , Purnama Hidayat menduga datangnya Tomcat ke pemukiman manusia adalah akibat alih fungsi lahan dari sawah menjadi pertokoan dan perumahan. Tomcat yang menjadi predator wereng ini tertarik pada cahaya malam hari. Kumbang ini tidak menggigit namun bila tergencet, tubuhnya akan mengeluarkan racun paederin yang dapat mengiritasi kulit. Menurut dr Tjandra Yoga Aditama, DirJen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementrian Kesehatan ,  iritasi pada kulit dapat terjadi jika bersentuhan langsung dengan serangga ini atau secara tidak langsung melalui benda-benda yang telah tercemar paederin, misal handuk, baju. Serangan Tomcat dilaporkan muncul awal minggu lalu , kawanan serangga yang biasa menghuni hutan manggrove ini masuk ke apartemen elite di Surabaya Timur. Hingga kini dilaporkan telah mencapai Gresik dan Tuban.