Jika kita mendengar istilah vaksinasi HPV yang semakin populer akhir-akhir ini, kita pasti beranggapan bahwa vaksinasi ini  hanya dikhusukan untuk wanita. Tetapi tunggu dulu, mari kita simak artikel dibawah ini.

Diabetes

HPV  (human papiloma virus) adalah salah satu virus yang paling banyak ditemui disektar kita. Di Amerika Serikat, virus ini hampir ditemukan pada setiap orang yang aktif secara seksual. Virus ini menyerang lapisan kulit manusia yang disebut keratinosit dan membran mukosa.

Terdapat lebih dari 40 jenis HPV yang dapat ditularkan melalui hubungan intim dan dapat menyebabkan beberapa penyakit pada sekitar bagian kemaluan dan anus. Namun HPV juga dapat menginfeksi daerah tenggorokan dan rongga mulut. Kebanyakan infeksi HPV tidak menimbulkan gejala, namun pada sebagian orang dapat  menyebakan terbentuknya kutil pada daerah kemaluan hingga  terbentuknya kanker.

Infeksi HPV pada pria

Infeksi HPV saat ini sudah terbukti menjadi salah satu penyebab terbesar tarjadinya kanker mulut rahim pada wanita. Menurut data dari CDC (Center for Disease Control and Prevention) Amerika Serikat,  kanker pada mulut rahim dan kandungan menduduki peringkat ke-4 di bawah kanker payudara, kanker paru-paru, dan kanker kolon (usus besar), dengan angka kejadian sebesar 24.1 per 100.000 orang dan angka kematian sebesar 34,3% . Hal ini berarti dari 100.000 wanita terdapat 24,1 orang yang mengalami kanker mulut rahim dan 34,3% diantaranya meninggal karena penyakit ini. Angka kematian ini cukup tinggi jika dibandingkan dengan angka kematian karena  kanker payudara yaitu sebesar 4,9%.  Namun, infeksi HPV tidak hanya terjadi pada wanita saja, akan tetapi pria juga dapat terinfeksi virus ini.

Kebanyakan infeksi HPV pada pria tidak menimbulkan gejala ataupun berkembang menjadi masalah kesehatan.  Akan tetapi beberapa tipe dari HPV dapat menimbulkan kutil pada alat kelamin. Beberapa tipe yang lain akan menimbulkan penyakit yang lebih buruk yaitu terjadinya kanker pada penis, anus, tenggorokan dan rongga mulut. Di Amerika Serikat, terdapat 400 kasus baru kanker penis tiap tahunnya yang disebabkan karena infeksi HPV dan angka ini terus meningkat. Hal  ini cukup memprihatinkan karena dengan peningkatan jumlah kasus maka akan meningkatkan biaya pengobatan dan menurunkan kualitas hidup penderitanya.

Penularan HPV pada pria adalah melalui hubungan intim. Hubungan intim ini termasuk melalui hubungan  vaginal ataupun melalui anus. HPV juga dapat ditularkan melalui hubungan intim secara oral. Karena infeksi HPV tidak menimbulkan gejala pada penderitanya, maka orang yang terinfeksi HPV dapat menularkan kepada orang sehat secara tidak sadar. Pria juga dapat menderita infeksi HPV bertahun tahun setelah melakukan hubungan intim. Dan pria yang hanya memiliki satu pasangan intim seumur hidupnya juga dapat terkena infeksi HPV. Selain itu, ada beberapa golongan resiko tinggi tertular HPV, mereka adalah pria gay dan biseksual yang memiliki lebih dari satu pasangan bercinta dan pria yang mengalami kondisi penurunan sistem imunitas tubuh, seperti ditemukan pada infeksi HIV- AIDS. Pada kelompok ini, biasanya angka kejadian kanker akan meningkat dan penanganannya akan menjadi lebih sulit.

Lalu apa saja gejala yang ditimbulkan oleh infeksi HPV ini? Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kebanyakan pria dengan infeksi HPV tidak pernah menimbulkan gejala ataupun masalah kesehatan. Namun, jika berkembang menjadi suatu penyakit , maka gejala  yang di timbulkan adalah munculnya beberapa benjolan pada daerah kemaluan yang tidak nyeri, biasanya berbentuk seperti kembangkol dan terjadi setelah beberapa minggu setelah hubungan seksual. Hal ini mengarah kepada kutil kemaluan. Jika benjolan berjumlah satu terdapat di penis, diawali dengan perubahan warna dan penebalan kulit disertai dengan pembengkakan kelenjar getah bening dan terasa nyeri, maka hal ini mengarah kepada kanker penis.

Sedangkan jika terjadi pendarahan dari anus disertai rasa gatal, nyeri atau tidak nyaman di sekitar anus, pembesaran kelenjar getah bening daerah kemauluan dan perubahan kebiasaan buang air besar maupun bentuk kotoran, maka hal ini mengarah kepada kanker anus. Namun harus diingat banyak penyakit lain yang memiliki gejala serupa. Jika Anda memiliki gejala yang mirip dengan yang ada diatas, maka lebih bijak untuk mengkonsultasikan terlebih dahulu kepada dokter Anda.

Sampai sekarang, belum ada metode pasti untuk mendeteksi infeksi HPV pada pria. Satu-satunya tes yang ada saat ini hanya untuk mendeteksi infeksi HPV pada wanita dan resikonya terhadap kejadian kanker mulut rahim. Metode ini tidak efeksi sebagai screening untuk mengetahui resiko terjadinya kanker ataupun kutil kelamin pada pria. Sama halnya dengan pengobatan infeksi HPV pada pria. Sampai saat ini belum ada terapi yang dianjurkan untuk pengobatan infeksi HPV.  Namun sudah ada terapi anjuran bagi kondisi kesehatan yang ditimbulkan karena infeksi ini. Pada pasien dengan kutil kelamin misalnya dapat diobati dengan berbagai macam modalitas terapi. Mulai dari menggunakan obat obatan hingga dengan cara pembedahan untuk menghilangkan benjolan. Akan tetapi perlu diingat bahwa pengobatan ini tidak menyembuhkan penyakit seutuhnya dan biasanya kutil akan muncul kembali setelah beberapa bulan. Terapi juga tidak menurunkan resiko penuluranan HPV ke pasangannya.

Pada kasus kanker penis, anus dan tenggorokan, terapi pilihan adalah dengan cara pembedahan, kemoterapi dan radiasi; bahkan dapat menggabungkan dua modalitas terapi sekaligus. Alangkah  bijak bagi pasien untuk mengkonsultasikan pengobatan kedokter spesialis agar dapat menentukan pilihan yang terbaik bagi mereka.

Mengingat bahaya infeksi HPV pada pria, maka akan lebih baik jika mencegah terinfeksi dibandingkan mengobati. Untuk mencegah supaya tidak terinfeksi HPV hanya bisa dilakukan dengan cara tidak berhubungan intim. Karena pria yang hanya memiliki satu pasangan intim pun dapat terinfesi oleh HPV jika pasangannya sudah terinfeksi sebelumnya. Namun untuk menurunkan resiko terinfeksi, dapat ditempuh melalui beberapa cara. Di antaranya adalah dengan pemakaian kondom. Jika digunakan dengan baik (menutupi seluruh batang penis dan digunakan dari awal hingga akhir berhubungan intim) maka kondom dapat menurunkan resiko menularkan dan terinfeksi HPV. Akan tetapi, infeksi dapat terjadi  pada daerah yang tidak tertutup kondom. Maka dari itu pemakaian kondom tidak sepenuhnya mencegah penularan infeksi HPV.

Cara lain  adalah dengan melakukan surkumsisi (sunat) pada pria. Menurut studi yang dimuat dalam Oxford Journal of Infectious Disease tahun 2008, dinyatakan bahwa pria yang telah disirkumsisi memiliki resiko yang lebih rendah terifeksi HPV. Tidak hanya itu, penularkan HPV yang pada pria yang sudah disunat lebih rendah sehingga pasangannya akan terlindungi dari kejadian kanker mulut rahim. Cara yang paling baru dalam menurunkan resiko terinfeksi  adalah dilakukan vaksinasi HPV. Vaksin HPV dapat melindungi pria dan remaja laki-laki terhadap tipe HPV yang dapat menimbulkan kutil kelamin dan kanker anus. Biasanya diberikan sebanyak 3 kali dalam waktu enam bulan.

Vaksinasi HPV pada pria

Vaksinasi HPV dapat diberikan pada pria usia kurang dari 26 tahun. Vaksin ini dapat melindungi dari  beberapa tipe HPV yang dapat menyebabkan masalah kesehatan pada pria. Vaksin ini berkerja dengan cara memberi kekebalan terhadap 4 tipe HPV tersering, 2 tipe yang sering menyebabkan kutil kelamin dan 2 tipe yang paling sering menyebabkan kanker termasuk, kanker anus. Karena sifatnya yang meberikan kekebalan, maka vaksin ini mencegah infeksi HPV yang akan terjadi saat berhubungan intim dan tidak dapat menyembuhkan infeksi yang telah terjadi (misal sudah terbentuk kutil kelamin). Waktu pemberian yang paling efektif adalah pada saat sebelum seseorang berhubungan intim untuk pertama kalinya. Dengan asumsi sebelum mendapatkan infeksi HPV pertama kalinya saat berhubungan intim.

Menurut rekomendasi dari pusat pengendalian penyakit di Amerika (CDC) vaksinasi HPV  diberikan pada semua anak laki-laki usia 11 atau 12 tahun dan semua pria hingga usia 21 tahun yang belum menerima vaksinasi ini. Vaksin ini juga dianjurkan unutk semua pria gay, biseksual dan pasien dengan penurunan imunitas tubuh (infeksi HIV) hingga usia 26 tahun. Vaksini ini aman digunakan sampai dengan usia 26 tahun, akan tetapi paling efektif jika diberikan pada usia yang lebih muda. Vaksin HPV diakui aman dan efektif, tanpa efek samping yang berbahaya. Efek samping yang paling sering ditemui adalah rasa nyeri di tempat suntikan. Beberapa penelitian menyatakan bahwa vaksinansi HPV dapat melindungi pria dari kutil kelamin dan kejadian kanker anus. Diyakini pula vaksinansi ini dapat melindungi dari kanker yang disebabkan oleh infeksi HPV seperti kanker penis dan tenggorokan, akan tetapi hingga saat ini belum ada penelitian yang mendukung dari pernyataan ini.

Walaupun sudah terbukti dan bermanfaat, vaksinasi HPV masih kurang diminati oleh para pria. Hal ini mungkin disebabkan masih kurangnya pengetahuan para pria tentang vaksinasi HPV dan masih ada berbagai anggapan bahwa vaksinasi HPV hanya dikhususkan untuk wanita. Sebuah studi yang dimuat dalam Journal of American Board of Family Medicine tahun 2009 menyatakan bahwa penerimaan pria tentang vaksinasi HPV lebih tinggi pada mereka yang memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi, termasuk dalam kelompok beriko tinggi dan yang memiliki pengetahuan yang baik mengenai infeksi HPV. Pada kelompok pria ini, mereka bersedia untuk divaksinasi demi kesehatan mereka dan pasanganya. Studi lainnya yang dimuat di Journal of American Sexually Transmitted Disseases Association  pada tahun yang sama, menyatakan bahwa dengan memberitahukan manfaat dan keuntungan dari vaksinasi HPV tidak meningkatkan kesadaran pria untuk melakukan vaksinasi. Akan tetapi, kesadaran untuk melakukan vaksinasi pada pria akan meningkat setelah mengetahui dirinya terinfeksi oleh HPV yang notabenya sudah terlambat.

Setelah membaca dan mengetahui infeksi dan manfaat vaksinasi HPV maka dapat kita simpulkan bahwa vaksinasi HPV tidak hanya di peruntukan bagi wanita akan tetapi pria juga dianjurkan untuk melakukan vaksinansi. Vaksinasi  dapat mencegah infeksi HPV  yang nantinya dapat menurunkan angka kanker penis, anus dan tenggorokan pada pria.Tidak hanya itu, dengan vaksinasi juga dapat menurunkan resiko  kejadian kanker mulut rahim pada pasangan.

Referensi: