[caption id="attachment_18519" align="aligncenter" width="280"](kiri-kanan) Dr. Rino, dr. Maya, dr. Yullita, Lucia, dan Prof. Hasbullah (kiri-kanan) Dr. Rino, dr. Maya, dr. Yullita, Lucia, dan Prof. Hasbullah[/caption] Hepatitis C telah menjadi masalah kesehatan dunia. Data World Health Organization (WHO)  menyebutkan bahwa sekitar 3% penduduk dunia terinfeksi Hepatitis C dan lebih dari 170 juta berkembang menjadi kronis dan berisiko untuk berkembang menjadi sirosis atau kanker hati. Sayangnya Hepatitis C tidak selalu menunjukkan gejala sehingga banyak penderita Hepatitis C tidak menyadari adanya infeksi dan menularkan virus tersebut kepada orang lain. Ditambah dengan belum tersedianya vaksin , risiko penularan Hepatitis C tinggi. Atas dasar inilah, Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) mengadakan forum diskusi Hepatitis C: Eradikasi dan Pentingnya Kemitraan Antar Pemangku Kepentingan di Jakarta. Forum ini diikuti oleh para pemangku kepentingan yang terkait dalam upaya eradikasi Hepatitis C, diantaranya Kementerian Kesehatan, ASKES, rumah sakit, dan juga Palang Merah Indonesia. Forum diskusi ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang beban dan penanganan hepatitis C di Indonesia, pembiayaan pengobatan Hepatitis C serta inisiatif yang telah dilakukan oleh para pemangku kepentingan dalam eradikasi Hepatitis C, termasuk inisiatif terbaru dari PPHI dalam menyediakan program bantuan untuk masyarakat kurang mampu. “PPHI meluncurkan inisiatif terbaru, bekerja sama dengan sektor swasta dalam hal ini PT Roche Indonesia, berupa bantuan keringanan pemeriksaan laboratorium dan pengobatan Hepatitis C bagi pasien yang tidak mampu. Ini merupakan langkah awal dari terobosan terbaru PPHI dalam upaya konkret untuk memperluas akses pengobatan Hepatitis C bagi pasien yang tidak mampu,” ungkap Ketua PPHI, DR. dr. Rino A. Gani, SpPD-KGEH. Pada forum diskusi ini, Kementerian Kesehatan R.I menyampaikan kembali pentingnya upaya yang berkelanjutan untuk menanggulangi dan memberantas penyebaran Hepatitis C baik dari upaya edukasi, pencegahan maupun pengobatan dan perluasan akses pengobatan bagi penderita Hepatitis C. prosehat harbolnas 1 Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Direktorat Jenderal P2PL dr. HM Subuh, MPPM menjelaskan, “Kasus Hepatitis C di Indonesia menyerupai gunung es. Nampaknya hanya sedikit namun banyak kasus yang tidak terlihat karena minimnya gejala Hepatitis C sehingga mayoritas pengidapnya tidak menyadari bahwa telah terinfeksi virus Hepatitis C. Melakukan screening adalah bentuk tanggung jawab setiap orang yang memiliki faktor risiko Hepatitis C sebagai anggota masyarakat untuk membantu mengendalikan penyebaran virus ini.” Berdasarkan data Surveilans Nasional Hepatitis C Direktorat Jenderal PP&PL pada Oktober 2007 – September 2009 yang dilakukan pada 123 unit pelaporan di 21 propinsi Indonesia,  diperkirakan 1-2% populasi Indonesia atau sekitar 3,4 juta orang telah terinfeksi virus Hepatitis C. Pada tahun 2008, dilaporkan adanya 7.235 kasus positif Hepatitis C dari 21 provinsi. Tiga provinsi dengan kasus terbanyak adalah DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur. Para Pembicara Forum Diskusi Hepatitis dan Aileen Kelleher, Business Unit Head of Specialty Care Roche (400x268)Salah satu fakta yang mengkhawatirkan adalah perkiraan bahwa sekitar 75-85% infeksi Hepatitis C akan menjadi infeksi kronis yang dapat berkembang menjadi sirosis dan gagal hati1. Menurut Study of chronic Hepatitis C prevalence in health care professionals (2009), 60-65% dari penderita Hepatitis C di Indonesia terinfeksi oleh virus genotype 1 yang sulit diterapi, 20-25% diperkirakan akan mengalami sirosis dalam 15-20 tahun. Dari populasi sirosis hati ini diperkirakan setiap tahunnya yang akan mengalami komplikasi menderita kanker hati adalah sekitar 4%, sedangkan angka median harapan hidup (survival) penderita kanker hati tanpa pengobatan maupun dengan pengobatan hingga saat ini masih sangat pendek, antara 7 - 11 bulan. “Kementerian Kesehatan sendiri selama ini telah melakukan beragam upaya mulai dari upaya promotif preventif melalui berbagai seminar awam, terutama dalam rangka World Hepatitis Day; juga upaya capacity building diantaranya melalui pelaksanaan surveilans nasional Hepatitis C di 123 unit pelaporan di 21 propinsi tahun 2007 - 2009 sehingga Indonesia memiliki data klinis Hepatitis C yang dapat dipertanggungjawabkan. Sementara dalam upaya memperluas akses pengobatan Hepatitis C bagi masyarakat, kami masih terus berupaya untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk mengembangkan bentuk kolaborasi yang tepat guna dan tepat sasaran,” terang dr. HM Subuh. ASKES merupakan salah satu institusi yang telah lebih dulu menjadi pionir dalam hal pembiayaan pengobatan Hepatitis C. Direktur Operasional ASKES dr. Umbu M. Marisi, MPH menjelaskan, “Kami menyadari besarnya bahaya yang ditimbulkan oleh Hepatitis C  yang tidak ditangani dengan tepat di masa yang akan datang. Tidak hanya menurunkan produktivitas penderitanya namun juga meningkatkan biaya kesehatan hingga berkali lipat karena kronisitas Hepatitis C menjadi sirosis bahkan kanker hati. Untuk itu sebagai bagian dari komitmen kami untuk menjaga kesehatan masyarakat Indonesia, kami memutuskan untuk membiayai pengobatan Hepatitis C bagi anggota ASKES yang terinfeksi untuk memastikan mereka mendapat kesembuhan dan dapat tetap produktif seperti sedia kala.” Sejalan dengan komitmen dalam pengendalian Hepatitis C dan sesuai dengan visi untuk membantu setiap pasien untuk mendapatkan pengobatan, Roche bangga dapat berkolaborasi dengan PPHI guna membantu penderita Hepatitis C di Indonesia mencapai kesembuhan. “Kami gembira dapat berkolaborasi dengan PPHI dalam upaya perluasan akses pengobatan Hepatitis C bagi pasien di Indonesia. Kami juga berharap untuk dapat memperluas kerja sama ini dengan para pemangku kepentingan lainnya termasuk dengan pemerintah sehingga akan semakin banyak pasien yang terbantu.” tegas Head of Communications and Public Policy PT Roche Indonesia, Lucia Erniawati. Melalui kolaborasi dengan pihak swasta dan pemerintah, PPHI berharap semakin banyak penderita Hepatitis C yang bisa mencapai kesembuhan dan terbebas dari perburukan penyakit melalui akses pengobatan yang lebih terjangkau. “Bukan hanya upaya para pemangku kepentingan, namun setiap orang yang memiliki faktor resiko Hepatitis C diharapkan ikut terlibat langsung dalam upaya pengendalian penyebaran Hepatitis C melalui pemeriksaan segera, ” ajak Dr. Rino.