Pada tahun 2017 ini, negara kita dikejutkan dengan banyaknya ditemukan kasus difteri yang kemudian menjadi mewabah dan menyebar dengan sangat cepat. Masyarakat menjadi sangat cemas dengan adanya kejadian ini. Provinsi Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat merupakan beberapa daerah dengan kasus difteri terbanyak. Difteri merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh racun yang dikeluarkan oleh Corynebacterium diphtheriae, bakteri basil aerob gram positif yang menyerang daerah nasofaring (tenggorokan). Masa inkubasi penyakit ini adalah 2 hingga 5 hari (rata-rata 1-10 hari), menyerang negara-negara di daerah tropis seperti Afrika, India dan Indonesia, seringkali menyerang anak-anak. Sebenarnya, penyakit ini dapat dicegah dengan pemberian vaksin yang berfungsi sebagai pertahanan agar tidak tertular oleh difteri. Vaksin difteri dapat diberikan melalui penyuntikan di bagian bahu dan dapat diberikan pada anak-anak dan juga dewasa. Beberapa jenis vaksin difteri antara lain adalah, Vaksin DPT (Diphteri, Pertusis, Tetanus) Vaksin DPT termasuk pada vaksin yang diberikan sebagai imunisasi dasar pada bayi (0-11 bulan) dan diberikan bersamaan dengan vaksin Hepatitis B dan Hib. Dosisnya terbagi 3 dosis imunisasi dasar DPT-HB-Hib pada usia 2,3,4 bulan. Kemudian dilanjutkan dengan 1 dosis imunisasi lanjutan pada usia 18 bulan. Vaksin DPaT/DTaP (Diphteri, Aselular Pertusis, dan Tetanus)_ Vaksin DPaT/DTaP merupakan vaksin yang hampir sama dengan DPT dan diberikan pada bayi usia 0-11 bulan. Perbedaannya terletak pada Pertusis nya, pada DPaT/DTaP mengandung aselular pertusis, dimana berisi bagian bakteri pertusis yang tidak utuh dan hanya mengandung sedikit antigen yang dibutuhkan sehingga reaksi panas, bengkak, nyeri jarang terjadi Vaksin DT (Diphteri, Tetanus) Vaksin yang mengandung komponen Diphteri dan Tetanus dan diberikan pada anak sekolah dasar/sederajat kelas 1 (anak usia 5-< 7 tahun). Vaksin Td Vaksin yang digunakan untuk dapat melindungi kita dari tetanus dan difteri. Vaksin ini diberikan pada orang dewasa sebagai penguat setiap 10 tahun sekali. Vaksin ini juga dapat diberikan kepada anak 7- <19 tahun. Vaksin ini hampir sama dengan vaksin DT, hanya komponen difterinya lebih rendah sehingga kurang efektif bagi mereka yang belum mendapatkan vaksinasi DPT saat imunisasi dasar primer. Vaksin TdaP Vaksin ini sebenarnya sama dengan DPaT/DTaP karena mengandung aselular pertusis yang jarang menyebabkan reaksi demam, bengkak, merah, dan nyeri pada tempat suntikan. Namun, pada vaksin TdaP, komponen diphterinya lebih rendah dan kurang efektif bagi mereka yang tidak mendapatkan vaksin DPT pada saat imunisasi dasar. Vaksin TdaP dapat diberikan kepada anak usia diatas 11 tahun hingga dewasa. Sumber:
  1. Weinbaum C. Diphtheria. [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. Retrieved from: https://www.cdc.gov/vaccines/pubs/pinkbook/downloads/dip.pdf (10.12.2017).
  2. World Health Organization. Information Sheet Observed Rate of Vaccine Reaction: Diptheria, Pertusiss, and Tetanus Vaccine. [internet]. Retrieved from: http://www.who.int/vaccine_safety/initiative/tools/DTP_vaccine_rates_information_sheet.pdf (09.01.2018)