“30% kematian di dunia disebabkan oleh kelainan kardiovaskular atau jantung. Presentasi kematian akibat kelainan jantung diperkirakan semakin meningkat. Berdasarkan prediksi WHO pada tahun 2009, terdapat sekitar 30,8% pasien hipertensi di tahun 2010, 31,5% pada tahun 2020, dan 32,5% pada tahun 2030.”

Hal tersebut diungkapkan oleh salah satu pakar hipertensi yang juga salah seorang pendiri InaSH (Indonesian Society of Hypertension), dr. Arieska Ann Soenarta, SpJP(K), FIHA pada pertemuan ilmiah dan workshop InaSH ke-10, Jumat (12/02) lalu. Pada pertemuan ilmiah yang rutin digelar oleh Persatuan Hipertensi Indonesia selama 3 hari berturut-turut pada 12-14 Februari 2016, dan diikuti oleh kurang lebih 1.200 peserta yang terdiri dari dokter umum dan spesialis akan saling berbagi pengetahuan untuk mensosialisasikan pentingnya pencegahan terhadap berbagai faktor risiko hipertensi selain juga membagikan perkembangan terbaru mengenai konsensus atau panduan penanganan hipertensi yang selalu direvisi secara periodik.

[caption id="attachment_228260" align="aligncenter" width="600"] President Indonesian Society of Hypertension, DR. dr. Yuda Turana, Sp.S bersama dr. Arieska Ann Soenarta, SpJP(K), FIHA sebagai Scientific Chair Person of InaSH, dan dr. Tunggul D. Situmorang, Sp.PD-KGH, Chairperson of the 10th Scientific Meeting of InaSH[/caption]

Dengan tema Fighting Hypertension at All Levels of Care yang artinya mencegah dan mengobati hipertensi pada semua tingkatan layanan kesehatan di seluruh Indonesia, pertemuan ilmiah yang digelar di Hotel Ritz Carlton, Jakarta ini bertujuan memberikan informasi terbaru terkait hipertensi dan kardiovaskular yang ditampilkan dalam bentuk seminar, 6 workshop, 12 symposium dan pengumuman penghargaan bertaraf nasional dan internasional, seperti Young Investigator Award (YIA).

DR. dr. Yuda Turana, SpS yang juga menjabat sebagai Presiden InaSH pada press conference mengatakan bahwa pada tingkat nasional dari keseluruhan, jumlah pasien dengan hipertensi sebesar 25,8% berdasarkan data RISKERDAS 2013, lebih dari 60% penderita tidak sadar bahwa mereka menderita hipertensi dan bahkan 80% di antaranya tidak melakukan kontrol pada tekanan darah mereka. Banyak yang menganggap enteng penyakit ini sehingga sebagian besar penderita hipertensi datang ke pusat pelayanan kesehatan sudah dengan komplikasi dari penyakit tersebut seperti serangan jantung, gagal ginjal atau serangan stroke yang bisa timbulkan kecacatan permanen!

Hal ini cukup miris, mengingat hipertensi sebenarnya merupakan penyakit yang dapat dicegah. Oleh karena itu, kelompok dokter dan akademisi melalui acara ini mengharapkan terjadinya pembaharuan ilmu pengetahuan, membekali pada dokter dengan tatalaksana terkini serta mengajak para dokter untuk mau mengedukasi ke masyarakat mengenai hipertensi. Pencegahan perburukan dan komplikasi dari hipertensi memerlukan kepedulian kaum dokter, meleknya masyarakat akan hipertensi dan bahayanya supaya segenap pihak bahu-membahu mendukung pengendalian penyakit ini.

Untuk itu pertemuan ilmiah yang berlangsung 3 hari berturut-turut minggu kemarin diharapkan dapat memberikan input penting dan signifikan terhadap tatalaksana peningkatan kepedulian hipertensi di era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)-BPJS ini sehingga upaya pencegahan dan pengobatan hipertensi dapat dilakukan pada semua lini layanan kesehatan di seluruh Indonesia.

Yang membuat acara ini lebih menarik adalah narasumber yang didatangkan dari London, Jepang, Malaysia, Filipina, Italia, Korea Selatan, dan Singapura, yaitu:

  1. Inggris: Rhian Touyz (President of International Society of Hypertension)
  2. Jepang: Kazuomi Kario (Division of Cardiovascular Medicine, Department of Medicine)
  3. Malaysia: Chia Yook Chin (Past-president of Malaysian Society of Hypertension)
  4. Filipina: Lynn Gomez (President of Phillippines Society of Hypertension)
  5. Italia: Athanasios J. Manolis (Head Cardio
  1. logy Department, Asklepeion Hospital, Athens, Greece)
  2. Korea Selatan: Cheol Ho Kim (President of Seoul Hypertension Society)
  3. Singapura: Melvin Tan (Consultant Cardiologist from National University Hospital).

Dengan narasumber yang disebar pada 12 simposium selama pertemuan ilmiah tahun ini dan juga yang rutin diselenggarakan tiap tahunnya ini diharapkan pengetahuan para dokter umum dan spesialis yang mengikuti acara tersebut dapat digunakan dalam peningkatan layanan kesehatan masyarakat, khususnya bagi penderita penyakit hipertensi dan komplikasi dari penyakit tersebut. Karena mencegah dan mengobati hipertensi harus dilakukan pada semua tingkatan layanan kesehatan di Indonesia.

ProSehat sebagai mitra dari INASH 2016 juga membagikan poster edukasi Hipertensi dan Obesitas kepada para peserta INASH 2016 seperti berikut ini. Semoga bermanfaat bagi seluruh peserta seminar yang hadir.

Poster Edukasi InaSH

Al1pNUzvzmoO768B6FwshqDrI3UYINBzP9qcrgM5tntc

AkwHOOJ30ehMsrA68b8qM7AxP0Uw8PqkvsodKHASuGYr

AvbbqdSnEeIbIdG5Q8M9bH8FADXEwzi9SIe64fNtuzmH

AuDBSryYkFoX9iuucMxb_cNfaF_TUPwhz_U1krkHtwPJ

Arq9WmPsxjxIllHEEg_2nORHi_lacbRM7-VcL23akhj8

[caption id="attachment_228301" align="aligncenter" width="600"]InaSH Founder ProSehat memberikan sertifikat bagi pemenang smartphone ASUS yang diselenggarakan oleh ProSehat[/caption]   [caption id="attachment_228300" align="aligncenter" width="600"]InaSH - Mencegah Hipertensi Booth ProSehat saat pertemuan ilmiah yang diselenggarakan oleh InaSH[/caption]

Pertemuan Ilmiah InaSH - Mencegah Hipertensi

Hypertension is a silent killer but we can fight against it!