Setelah kekerasan seksual yang terjadi di Jakarta Internasional School (JIS), belum lama ini pun terdengar lagi kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur yang terjadi di Sukabumi. Kejahatan seksual yang dilakukan oleh Andri Sobari alias Emon sudah lebih dari 73 korban. Berdasarkan laporan yang sudah didapat oleh Kepala Bagian Penerangan Umum Humas Polri, Kombes Pol Agus Rianto, sudah terdapat 74 orang yang menjadi korban. Agus juga menyatakan kalau kasus ini sepenuhnya ditangani oleh penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA). Setidaknya, ada 44 penyidik yang berasal dari Polres Sukabumi, Polda Jawa Barat dan Polri yang menangani kasus ini. Ia menambahkan, dari 74 anak yang diduga menjadi korban, baru separuhnya yang telah diperiksa penyidik. Ia berharap proses penyidikan dapat segera rampung. “Sampai tadi baru 37 orang yang sudah diperiksa oleh penyidik, dan proses pemeriksaan sekarang terus berlanjut. Semoga semua bisa selesai menjalani pemeriksaan hari ini," katanya. Untuk mengantisipasi kesalahan penyelidikan, Kapolri Jenderal Pol Sutarman, ingin agar penyidik tidak sembrono dalam menangani kasus ini karena korban dalam kasus ini adalah anak-anak. Oleh karena itu, penyidik Polri bekerjasama dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) agar dapat memberikan bantuan konseling kepada anak-anak yang merupakan korban. Kasus kekerasan seksual ini pun baru terungkap pada Kamis (1/5/2014), setelah salah satu orangtua korban melaporkan aksi kekerasan tersebut. Hal ini diketahui karena orangtua tersebut mendapati anaknya mengeluhkan sakit di bagian anus sehingga menimbulkan pertanyaan yang membuat korban akhirnya mengaku dilecehkan oleh Emon di Pemandian Liosanta Citamiang, Sukabumi, pada Minggu (27/4/2014) Banyaknya kasus kejahatan seksual pada anak termasuk pelecehan, pencabulan hingga sodomi membuat orang tua dan para pengasuh anak harus waspada. Anak harus mulai dididik oleh orang tua mengenai pengetahuan seksual. Sesuai dengan hasil wawancara terdahulu dengan dokter spesialis anak TanyaDok, dr. Ariani Dewi Widodo, SpA, beliau mengatakan, "Cara pencegahannya bisa dengan mengenalkan kepada anak sejak dini apa saja hal yang normal atau baik dilakukan orang lain (atau OK) atau yang tidak wajar bila dilakukan orang lain (atau not OK)." "Selain itu, orang tua harus selalu memastikan keamanan anak. Pastikan anak selalu dititipkan pada orang yang dipercaya. Orang tua harus selalu waspada karena seringkali pelakunya adalah orang dekat yang tidak disangka-sangka", tandasnya. Pada kesempatan lain, dokter ahli kesehatan jiwa, dr. Dharmawan Purnama, SpKJ, juga menginginkan agar pelaku kejahatan seksual semacam ini bisa dihukum berat karena gangguan jiwa bukanlah alasan. Menurutnya, "Masyarakat perlu dididik untuk mengendalikan diri agar tidak merampas hak orang lain dan dalam kasus ini, hak anak untuk tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang aman dan kondusif untuk masa depannya yang cerah". Memang kejahatan selalu mengintai kita dan anak-anak kita, tapi kita bisa mencegahnya dengan mengajarkan kepada anak, memberitahukannya apa yang boleh dan tidak boleh serta orang tua juga harus lebih waspada. Seluruh elemen masyarakat juga harus waspada terhadap situasi ini dan sebaiknya lebih peka agar kasus yang sama tidak lagi terulang.   Ditulis oleh: Gloria Safira - Jurnalis TanyaDok.com Medical review oleh: dr. Agnes Susanto Sumber : Kompas.com   Referensi terkait: Safira G, Susanto A. Kekerasan Seksual Anak: Waspada dan Hukuman Berat. TanyaDok 2014 Apr 17. Diunduh dari Kekerasan Seksual Anak: Waspada dan Hukuman Berat