Penyakit difteri merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh racun yang dikeluarkan oleh Corynebacterium diphtheriae, bakteri basil aerob gram positif. Penyakit ini pertama kali dipelajari oleh Klebs pada tahun 1883. Racun yang dikeluarkan oleh bakteri ini menyerang daerah nasofaring (tenggorokan), menghancurkan jaringan sekitarnya dan membentuk sebuah selaput semu (pseudomembran) di tenggorokan. Apabila racun bakteri ini masuk ke dalam aliran darah, maka akan mengenai beberapa organ tubuh dan menimbulkan beberapa komplikasi seperti radang pada otot jantung (miokarditis), menyerang saraf (neuritis), dan dapat menyebabkan timbulkan protein di urin (proteinuria), kegagalan ginjal dan penurunan trombosit (trombositopenia).1 Masa inkubasi penyakit ini adalah 2 hingga 5 hari (rata-rata 1-10 hari), menyerang negara-negara di daerah tropis seperti Afrika, India dan Indonesia, seringkali menyerang anak-anak. Penularan terjadi melalui orang per orang melalui saluran pernapasan, yaitu melalui cairan batuk atau bersin penderita difteri. Penyakit ini memiliki gejala sebagai berikut: 1. Demam tinggi hingga 380C, 2. Sakit kepala, lesu, nafsu makan menurun, 3. Batuk dan nyeri saat menelan, 4. Sekret hidung kuning kehijauan dan bisa disertai darah, 5. Sesak nafas hingga berbunyi ngorok (stridor), 6. Pembengkakan di daerah leher (bullneck) akibat pembengkakan kelenjar di leher, 7. Gejala paling khas yaitu munculnya selaput putih keabuan di tenggorokan (pseudomembran) yang sulit lepas dan mudah berdarah.2 Penyakit ini dapat diobati dengan antibiotik, tetapi yang paling penting selain pengobatan adalah pencegahan terhadap penyakit difteri. Pada masa sebelum ditemukannya vaksin difteri sebelum 1923, penyakit ini merupakan salah satu penyebab terbanyak kematian pada anak. Ketika ditemukannya vaksin, penyakit ini berkurang hingga dianggap sudah tidak ada lagi terutama di negara maju seperti Amerika Serikat. Namun, pada beberapa negara penyakit difteri tetap ada dan bahkan menjadi wabah yang sangat menular dan menyebabkan kematian, terutama pada anak. Wabah difteri mulai kembali muncul di Indonesia tahun 2017 ini. Sejumlah anak ditemukan positif menderita penyakit ini. Beberapa daerah wabah yang terjadi di Indonesia antara lain: 1. Banten : Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, Kabupaten Serang, Kota Serang, Kota Tangerang Selatan. 2. DKI Jakarta: Jakarta Barat dan Jakarta Utara 3. Jawa Barat: Purwakarta, Karawang, Kota Depok, Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi. Ikatan Dokter Spesialis Anak Indonesia (IDAI) menyampaikan dengan tegas bahwa imunisasi merupakan perlindungan terbaik agar anak tidak tertular dengan gampang oleh penyakit ini dan vaksin dapat diperoleh dari pemerintah atau swasta.3 Vaksin yang dapat digunakan sebagai pencegahan penyakit difteri ada 3 yaitu, Vaksin DPT-HB-HiB, Vaksin DT dan Td. Vaksin difteri diberikan pada: 1. Bayi (0-11 bulan) wajib mendapatkan 3 dosis imunisasi dasar DPT-HB-Hib pada usia 2,3,4 bulan. Kemudian dilanjutkan dengan 1 dosis imunisasi lanjutan pada usia 18 bulan. 2. Anak sekolah dasar/sederajat kelas 1 wajib mendapatkan 1 dosis imunisasi DT. Anak sekolah dasar/sederajat kelas 2 dan 5 wajib mendapatkan imunisasi Td. Akibat adanya laporan mengenai Kejadian Luar Biasa penyakit difteri di berbagai daerah, kementrian kesehatan bergerak untuk memutuskan penularan dan menurunkan jumlah kasus difteri dan mencegah penyebarannya dengan tindakan Outbreaks Respon Immunization (ORI). Kegiatan ini rencananya akan dilakukan minggu kedua bulan Desember 2017. ORI akan dilaksanakan dalam 3 putaran untuk anak 1-<19 tahun, dengan interval 0-1-6 bulan dengan ketentuan pemberian vaksin adalah: a. DPT-HB-Hib adalah vaksin untuk anak 1-<5 tahun b. DT untuk anak usia 5-<7 tahun c. Td untuk anak usia 7-<19 tahun Vaksin difteri terbukti aman untuk melindungi dari penyakit difteri yang mematikan. Pemberian vaksin dapat memutusan rantai penularan dari difteri di Indonesia yang sedang mewabah ini. Mari bergegas bawa anak anda untuk mendapatkan vaksin ini segera di fasilitas kesehatan setempat agar terhindar dari penyakit ini. Referensi: 1. Weinbaum C. Diphtheria. [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. Retrieved from: https://www.cdc.gov/vaccines/pubs/pinkbook/downloads/dip.pdf (10.12.2017). 2. Mustafa M, Yusof IM, Jeffree MS, Illzam EM, Husain SS, Sharifa AM. Diphtheria: clinical manifestation, diagnosis, and role of immunization in prevention. Journal of Dental and Medical Sciences. 2016;15(8):71-76. 3. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Himbauan IDAI tentang peningkatan kewaspadaan terhadap kasus difteri. [Internet]. Retrieved from: http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/himbauan-idai-tentang-peningkatan-kewaspadaan-terhadap-kasus-difteri.