Demikian penelitian yang diumumkan pada hari tanggal 24 Mei 2010. Para peneliti melaporkan bahwa hasil pertemuan tahunan American Psychiatric Association di New Orleans minggu ini, yaitu bahwa alergi tidak hanya dapat menyebabkan batuk, bersin, dan gatal, tapi ternyata juga dapat mengubah suasana hati. "Depresi adalah gangguan yang umum dan alergi bahkan lebih umum lagi," kata penulis studi dr. Partam Manalai, di Departemen Psikiatri University of Maryland School of Medicine di Baltimore. "Alergi membuat orang rentan terhadap memburuknya suasana hati, kognisi, dan kualitas hidup." Serbuk alergi ditemukan dalam jumlah yang banyak di udara terjadi pada musim semi dan musim gugur. Hal ini bersamaan dengan lonjakan angka bunuh diri di seluruh dunia musim semi dan musim gugur. Untuk mengeksplorasi hubungan ini, Manalai dan rekan-rekannya merekrut 100 relawan dari Baltimore dan Washington, DC, yang mengalami depresi berat. Sekitar separuhnya memiliki alergi dan separuhnya tidak memiliki alergi terhadap pohon dan/atau serbuk sari. Relawan dievaluasi selama dua musim, yaitu musim tingginya serbuk sari dan rendahnya serbuk sari. Kadar antibodi IgE mereka yang merupakan ukuran kepekaan terhadap allergen juga diukur. Hal ini diyakini menjadi studi pertama untuk menghubungkan pengukuran IgE dengan tingkat depresi. "Pasien dengan gangguan mood yang alergi terhadap aeroalergen yang mengalami perburukan mood ketika mereka terkena alergi," kata Manalai. "Memberikan terapi terhadap alergi mungkin dapat mencegah mereka menjadi depresi selama musim tingginya serbuk sari," tambah Manalai. Namun demikian, hingga saat ini masih tidak jelas pada saat ini apakah alergi yang mencetuskan depresi atau sebaliknya. Sumber: Medline Plus. Allergies Might Trigger Depression: Study found mood of those with sensitivities worsened when exposed to allergens. May 27, 2010.