Bagi penderita kanker, mendengar kata kemoterapi dapat membuat ia langsung lunglai dan terbayang akan rambutnya yang rontok, rasa mual yang luar biasa, sungguh pengobatan yang sangat menyiksa tubuh. Namun saat ini sedang berkembang teknik kemoterapi lokal dan partikel nano yang lebih efektif dan minim efek samping. Kemoterapi yang dikenal selama ini adalah kemoterapi sistemik di mana obat untuk membunuh sel kanker diinfuskan ke seluruh tubuh sehingga sel yang sehat pun terkena dampaknya. Beberapa tahun lalu R Kanker Fuda Guangzhou mengembangkan terapi intervensi vaskular,  obat kemoterapi langsung diinjeksikan ke jaringan tumor/ kanker melalui pembuluh darah arteri yan memasok darah ke jaringan tumor tersebut. Saat ini terdapat 2 teknik terapi intervensi vaskular yaitu TACI (Trans Arterial Chemical Infusion / Infus zat kimia melalui arteri) dan TACE (Trans Arterial Chemo Embolization / Kemo embolisasi melalui arteri).  TACI digunakan untuk semua jenis kanker. Sedangkan TACE lebih efektif untuk kanker hati karena hati memiliki 2 pembuluh darah yakni arteri hepatik dan pembuluh portal, sehingga jika arteri hepatik yang memasok darah ke tumor disumbat, jaringan hati tidak mengalami kematian / kerusakan. Teknik TACI meski lebih baik dari kemoterapi sistemik, masih memiliki kelemahan yaitu kadar obat dalam jaringan tumor tidak dapat dipertahankan dalam waktu lama karena segera beredar ke seluruh tubuh bersama aliran darah. Maka untuk mempertahankan obat lebih lama di jaringantumor, Tim yang dipimpin Piao menyatukan 4-5 jenis obat kemoterapi dengan metode khusus menjadi partikel halus berukuran 100-150 nanometer yang disebut intervensi kanker pada pembuluh mikro (Cancer Microvessel Intervention / CMI). Menurut dr Feng Mu, ahli bedah jantung yang juga Deputi Presiden RS Fuda, terobosan ini berdasarkan teori bahwa partikel nano mampu menembus dinding pembuluh darah tumor yang berpori-pori sehingga obat bisa menyebar ke jaringan tumor. Partikel nano ini akan meningkatkan tekanan osmotik dalam jaringan tumor sehingga pembuluh darah kapiler menjadi rusak dan obat terjebak dalam jaringan tumor. Akibat gempuran obat dan tidak mendapat pasokan darah, jaringan tumor akhirnya mati. Selain untuk mematikan tumor, kemoterapi dengan partikel nano juga digunakan untuk mengecilkan tumor sebelum operasi. Dengan teknik TACI, dosis obat kemoterapi yang digunakan hanya 1/3 - 1/5  dosis kemoterapi sistemik. Namun, dengan CMI dosis tersebut dapat diturunkan lagi hingga 1/30 - 1/50 dosis kemoterapi sistemik sehingga efek samping menjadi sangat ringan (demam ringan, mual dan nyeri ringan) dan waktu terapi serta pemulihan juga menjadi lebih singkat. Di Indonesia, terapi intervensi vaskular ( TACI) telah diterapkan. Pionirnya adalah dr Suwandi dan dr Terawan Agus Putranto , dokter ahli radiologi dari RSPAD Gatot Soebroto.  Menurut Piao, penerapan teknik CMI pada manusia baru dilakukan  di RS Fuda sedangkan di negara lain, pengembangan teknik ini masih pada skala laboratorium. Sumber : Kompas Selasa, 20 Maret 2012 Hal. 14