Jarak ano-genital (panjang perineum) ternyata mempengaruhi kesuburan pria. Menurut peneliti dari Universitas Rochester Medical Center, pria yang memiliki jarak ano-genital pendek (diukur dari anus ke bawah skrotum) memiliki jumlah dan kualitas sperma yang lebih rendah. Konsentrasi sperma dalam air mani dan motilitas sperma pun lebih rendah . Penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal Environmental Health Perspectives. Sebelumnya relasi antara jarak ano-genital dan keberhasilan reproduksi pada tikus jantan telah diketahui. Sekarang ini penelitian terbaru menunjukkan bahwa hal ini mungkin berlaku pada manusia juga. Dalam penelitian ini, peneliti mengukur jarak ano-genital 126 mahasiswa. Ditemukan bahwa laki-laki yang jarak ano-genitalnya lebih pendek dari panjang rata-rata, sekitar 52 milimeter, ternyata 7,3 kali lebih beresiko memiliki konsentrasi sperma¬† yang rendah. Penelitian ini mungkin membantu dalam memprediksi apakah pria dengan jumlah sperma rendah akan berhasil dalam membuat seorang wanita hamil. Teknik penelitian ini non-invasif dan tidak tergantung pada suhu dan stres. Untuk menentukan panjang yang normal, dipakai patokan ukuran dari beberapa ribu orang. Dalam studi terhadap hewan, telah ditemukan bahwa jarak ano-genital yang pendek dikaitkan dengan paparan lebih terhadap bahan kimia yang dapat mengganggu perkembangan testis seperti phthalates. Phthalates ditemukan di industri dan produk perawatan pribadi seperti sabun, shampoo dan beberapa pestisida. Para peneliti sedang mencoba meneliti apakah hal yang sama berlaku pada manusia juga.   Sumber-Medindia