Imunisasi anak untuk Japanese Encephalitis
    Dikaji oleh: dr. Agnes, MPH
    Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K) mencanangkan Kampanye Imunisasi Japanese Encephalitis (JE) pada Kamis (1/3) di Tabanan Bali. Kampanye ini adalah bagian dari pengenalan imunisasi JE. Imunisasi JE merupakan upaya untuk mencegah penyakit radang otak (Ensefalitis) dengan meningkatkan kekebalan spesifik individu terhadap virus JE.
    Kampanye imunisasi Japanese Encephalitis secara massal akan dilangsungkan pada Maret-April 2018. Pilot project imunisasi massal JE dilakukan di Bali. Berlokasi di Bali karena di Indonesia jumlah kasus JE terbanyak dilaporkan terdapat di Provinsi Bali. Berdasarkan data tahun 2016, terdapat 246 kasus suspect JE, 17 diantaranya dinyatakan positif. Tahun 2017 kasus suspect JE sebanyak 181 kasus, 4 diantaranya dinyatakan  positif.
    Sasaran program imunisasi massal JE adalah anak usia 9 bulan sampai dengan kurang dari 15 tahun. Kedepannya, imunisasi JE akan dimasukkan ke dalam program imunisasi rutin pada anak usia 9 bulan yang dilaksanakan bersamaan dengan imunisasi campak. Dalam pelaksanaannya, anak-anak akan diberikan 1 dosis (0,5 mL) melalui suntikan subkutan. Pada anak usia 9-12 bulan, penyuntikan dilakukan pada paha lateral kanan sedangkan pada anak usia >12 bulan, penyuntikan dilakukan pada area deltoid di lengan kanan.
    Mengenal penyakit Japanese Encephalitis
    Sebenarnya apakah Japanese Encephalitis itu? Japanese Encephalitis adalah penyakit radang otak yang disebabkan oleh virus Japanese Encefalitis. Penyakit ini dapat menular dan menyebabkan kematian. Penularan ke manusia terjadi dengan perantara nyamuk Culex Tritaeniorhynchus yang terinfeksi. Nyamuk ini lebih aktif pada malam hari. Nyamuk golongan Culex ini banyak terdapat di persawahan dan area irigasi. Kejadian penyakit JE biasanya meningkat pada musim hujan.
    Gejala yang muncul biasanya ringan atau bahkan tidak menunjukkan gejala. Beberapa gejala yang muncul diantaranya demam, menggigil, sakit kepala, lemah, mual, dan muntah. Munculnya gejala biasanya sekitar 5-15 hari setelah tergigit nyamuk yang terinfeksi. Sekitar 1 dari 200 penderita infeksi JE menunjukkan gejala berat yang berkaitan dengan peradangan pada otak (encephalitis), berupa demam tinggi mendadak, sakit kepala, kaku pada tengkuk, disorientasi, koma (penurunan kesadaran), kejang, dan kelumpuhan. Gejala kejang sering terjadi pada pasien anak-anak. Gejala sakit kepala dan kaku pada tengkuk terutama terjadi pada pasien dewasa. Pengobatan JE yang diberikan berdasarkan gejala yang diderita pasien dan bersifat suportif untuk mengurangi tingkat kematian akibat JE.
    Penyakit JE tidak hanya menyerang anak tapi dapat menginfeksi semua umur, terutama bila tidak mempunyai riwayat kekebalan sebelumnya. Pencegahan JE yang paling optimal adalah dengan melakukan imunisasi JE. Jadi bagi orang-orang yang akan melakukan perjalanan ke daerah endemis penyakit JE sangat disarankan untuk divaksinasi JE sebelum melakukan perjalanan.
    Referensi:
  1. go.id. (2018). Kemenkes Canangkan Imunisasi Cegah Radang Otak Japanese Enchepalitis (JE) [online] Available at: http://www.depkes.go.id/article/view/18030500003/kemenkes-canangkan-imunisasi-cegah-radang-otak-japanese-enchepalitis-je-.html [Accessed 7 Mar. 2018].
  2. id. (2018). Radang Otak ”Japanese Encephalitis” Bisa Dicegah dengan Vaksinasi. [online] Available at: https://kompas.id/baca/utama/2018/03/03/radang-otak-japanese-encephalitis-bisa-dicegah-dengan-vaksinasi/ [Accessed 7 Mar. 2018].
  3. Post, R. (2018). Maret-April, Vaksinasi JE akan Dilakukan di Bali | BALIPOST.com. [online] BALIPOST.com. Available at: http://www.balipost.com/news/2018/01/10/34018/Maret-April,Vaksinasi-JE-akan-Dilakukan...html [Accessed 7 Mar. 2018].
  4. go.id. (2018). Japanese Enchepalitis Berkorelasi dengan Banyaknya Area Persawahan, Peternakan Babi dan Burung Rawa. [online] Available at: http://www.depkes.go.id/article/view/17040400003/japanese-encephalitis-disease-correlates-with-numbers-of-rice-field-area-pig-farms-and-wading-birds.html [Accessed 7 Mar. 2018].