Virus hepatitis merupakan serangkaian penyakit menular yang dikenal sebagai Hepatitis A, B, C, D dan E dan memengaruhi ratusan juta orang di dunia sehingga menyebabkan penyakit hati akut dan kronis dan dapat membunuh 1,4 juta orang setiap tahun. Hepatitis merupakan peradangan yang muncul pada organ hati dan kondisi ini bisa sembuh sendiri atau justru dapat berkembang menjadi fibrosis (jaringan perut), sirosis atau kanker hati. Pada penelitian yang dilakukan tahun 2014, kanker hati merupakan penyebab kematian kedua terbesar setelah kanker paru-paru. Seperti yang telah dipaparkan oleh Konsultan Gastroenterohepatologi RSCM dr Irsan Hasan SpPD-KGEH,pada acara SOHO #BetterU, 15 Juli 2014 di Jakarta, bahwa pengetahuan masyarakat terkait hepatitis masih minim dan cenderung diabaikan. "Orang akan lebih heboh ketika salah satu keluarganya menghadapi HIV AIDS ketimbang salah satunya terkena Hepatitis,"ujarnya dalam seminar di Hotel Atlet Century Park. dr. Irsan menjelaskan gejala yang muncul pada penderita hepatitis diantaranya, lesu, demam, hilang nafsu makan, mual, nyeri pada perut kanan atas dan disertai urin coklat kemudian diikuti oleh ikterus (warna kuning pada kulit dan sklera mata karena tingginya bilirubin dalam darah). Hepatitis dapat pula terjadi tanpa menunjukkan gejala (asimptomatis). Pada jenis hepatitis B, C dan D, virus dapat ditularkan melalui hubungan seks dan melalui darah. Sedangkan, pada hepatitis A dan E, virus dapat ditularkan melalui orofekal (rute penularan penyakit dari feses ke mulut). "Dulu yang biasanya terkena hepatitis ini adalah orang-orang yang sudah lanjut usia, namun saat ini disayangkan, sebagian besar masyarakat muda lebih banyak terserang virus hepatitis karena penyalahgunaan narkoba," ujarnya dalam peringatan Hari Hepatitis Dunia yang sebenarnya jatuh pada 28 Juli 2014 namun diselenggarakan lebih cepat. Ia pun menyayangkan masih banyak stigma yang beredar di masyarakat seperti penyakit ini dianggap sebagai penyakit menular, penderita hepatitis dijauhi dan pengidap hepatitis dapat ditolak untuk bekerja dalam satu perusahaan. Bagi, orang tua yang ingin agar anaknya tidak memiliki hepatitis, penyakit ini dapat dicegah sejak bayi lahir dengan memberikan vaksinasi hepatits B. dr Irsan menambahkan jika sebagian besar pengidap hepatitis kronik tanpa gejala, deteksi hanya bisa dilakukan dengan skrinning tes laboratorium. Dan, sebenarnya, virus hepatitis B dan C dapat diobati namun masih terdapat berbagai masalah seperti harga obat yang tinggi dan respons pengobatan yang belum sempurna.  
Penulis: Gloria Safira – jurnalis TanyaDok
Medical Review: dr. Agnes Susanto dan Bebby A Sekarsari