Remaja adalah periode kehidupan yang penuh gonjang ganjing. Galau kata bahasa pergaulan sekarang. Remaja adalah masa dimana seseorang mencari jati diri mereka. Banyak orang yang melewati masa remaja dengan kegetiran emosi, salah satunya adalah masa bunuh diri. Bunuh diri adalah penyebab kematian remaja nomor 3 di Amerika Serikat, selain kecelakaan dan pembunuhan. Angka ini semakin tinggi pada kalangan remaja LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transseksual). Suatu studi pada¬†American Journal of Preventive Medicine mengatakan bahwa faktor yang bisa mengurangi risiko bunuh diri pada remaja gay dan LGBT adalah penerimaan dan kasih sayang dari keluarga dan teman mereka. Faktor ini penting karena seringkali kalangan ini menjadi karangan yang disingkirkan dan bahkan dibuang dan dicacimaki dari kehidupan sosial sekitar. Studi ini mengambil sampe 246 remaja LGBT di area Chicago. Peneliti melakukan wawancara setiap enam bulan selama dua setengah tahun. Mereka ditanya mengenai apakah ada yang mendukung mereka, berapa kali mereka mencoba untuk bunuh diri, mood mereka, rasa tidak nyaman, dan lainnya. Hasilnya, para remaja merasa disingkirkan dan berkaitan dengan risiko melukai dan bunuh diri. Namun mereka yang didukung oleh keluarga ternyata lebih sedikit mempunyai ide bunuh diri. Mustanski, seorang psikolog klinis, menekankan pentingnya orang tua untuk mampu menerima keadaan anak mereka. Ketika orang tua legawa untuk menerima anak mereka apa adanya, maka pintu komunikasi akan terbuka lebar. Orang tua harus mendukung dan tidak boleh menghakimi anak mereka. Anda setuju? Sumber: Medindia