Jika Sobat Tanyadok atau kerabatnya ada yang memiliki keinginan menjadi dokter atau telah menjadi dokter, ada baiknya Sobat mengikuti informasi ini. Mengapa? Sistem pendidikan kedokteran di Indonesia akan cukup banyak berubah setelah disahkannya Undang-Undang Pendidikan Kedokteran (UU Dikdok) Nomor 20 Tahun 2013 pada awal Agustus tahun ini.

Penegasan Alur Pendidikan Dokter

Alur pendidikan kedokteran yang ada saat ini masih tidak standar antaruniversitas. Anda mungkin pernah mendengar ada dokter yang sudah disumpah dokter, lalu tidak lulus Ujian Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI), sehingga ia terkatung-katung menjadi Dokter yang tak bisa mendapatkan Surat Tanda Registrasi (STR) dan ia akhirnya tidak bisa praktik.

Dalam UU Dikdok ditegaskan bahwa seorang mahasiswa kedokteran harus mengikuti pendidikan sarjana kedokteran kemudian dilanjutkan pendidikan profesi dokter (koas), lalu harus lulus UKDI terlebih dahulu baru dapat diangkat sumpahnya sebagai dokter. Kemudian ia mendapatkan STR dan melanjutkan 1 tahun internsip atau magang di rumah sakit dan puskesmas.

Dokter Praktik Umum Menjadi Spesialisasi

Setelah internsip apakah ia dapat langsung membuka praktik? Menurut UU Dikdok, kelak ada yang berubah. UU yang harus laksanakan paling lambat 2 tahun lagi yaitu Agustus 2015 ini mengatakan bahwa untuk membuka layanan praktik umum (atau dalam UU disebut layanan primer), seorang dokter harus mengikuti pendidikan dokter layanan primer (DLP) yang setingkat dengan pendidikan spesialis. Maka setelah UU ini berjalan, dokter yang baru lulus dari masa internsip tidak bisa membuka praktik jika tidak mengikuti pendidikan spesialis baik untuk layanan primer maupun di atasnya (seperti spesialis penyakit dalam, kebidanan, bedah, dan lainnya).

Menurut dr. Erfen G Suwangto, yang juga merupakan pengurus Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI), pendidikan DLP ini direncanakan program setara spesialis, yang sesuai amanat UU DIkdok, diselenggarakan oleh fakultas kedokteran berakreditasi tertinggi yaitu A. Pendidikan DLP akan kurang lebih ditempuh dalam 2 tahun, dan lulusannya direncanakan diberi gelar SpFM (spesialis Famili Medisin).

dr. Erfen menambahkan, "(Pendidikan DLP-ed) ini bukan untuk mempersulit (dokter umum), tetapi untuk meningkatkan kompetensi dokter layanan primer dan meningkatkan derajat dokter layanan primer itu sendiri, termasuk dalamm hal insentif dan renumerasi. Serta untuk menekan angka kesakitan penduduk sehingga anggaran negara tidak membengkak. Karena DLP ini harus menguasai 155 penyakit yang merupakan 80 persen masalah kesehatan di masyarakat."

Dokter Selesai Internsip Sebagai Stem Cell

Seseorang dapat disebut sebagai profesi dokter apabila ia sudah internsip dan mendapatkan STR. Namun sekali lagi, dengan UU Dikdok dijalankan, ia belum dapat membuka praktik. Apakah dengan demikian dokter dalam tahap ini tidak bisa bekerja?

Menurut dr. Erfen, dokter ini tetap dapat bekerja namun bukan sebagai klinisi atau membuka praktik. Dokter tersebut dapat bekerja sebagai dokter manajerial, atau mengambil pendidikan lain seperti sebagai peneliti, dan lainnya. Jadi dokter pada tahap ini disebut sebagai stem cell atau sel punca yang masih bisa mengarah ke klinisi dan non-klinisi.

Bagaimana Nasib Dokter Umum Lama?

Walaupun masih belum ditetapkan, rencananya dokter umum lulusan sebelum UU ini diterapkan akan menjalani proses pemutihan baik dengan pendidikan singkat untuk penyegaran atau dengan mengikuti pendidikan DLP tersebut. Proses pemutihan ini dilakukan agar semua dokter mendapatkan kompetensi sebagai SpFM.

Bagaimana dokter umum lama yang sulit untuk mengikuti SpFM? dr. Erfen mengatakan, mereka tetap dapat melakukan praktik layanan primer. Ia juga mencontohkan bahwa proses pemutihan ini juga serupa yang terjadi di Amerika Serikat pada tahun 1970-an.

Jadi, jika ingin menjadi dokter praktek umum setelah UU ini berjalan, seorang mahasiswa harus menyiapkan waktu paling tidak 8-9 tahun, dengan perincian 3-4 tahun pendidikan Sarjana Kedokteran, 2 tahun pendidikan koas, 1 tahun internsip, dan 2 tahun pendidikan DLP (SpFM).