Permasalahan awal yang ditemui pada para ibu muda yang baru melahirkan ialah ASI yang tidak mau keluar.  Sehingga banyak ibu yang akhirnya menyerah dan memberikan susu formula bagi anaknya.  Padahal mekanisme produksi dan pengeluaran ASI ini diatur oleh 2 hormon yang ada di dalam tubuh kita yaitu Oksitosin dan Prolaktin. Hormon prolaktin berguna untuk mengatur produksi ASI, dimana jika ASI di dalam alveoli payudara mulai menipis maka akan dikirim sinyal ke otak untuk mengaktifkan hormon prolaktin yang akan memproduksi ASI kembali. prolaktin lebih banyak dibentuk pada  malam hari. Hormon kedua ialah oksitosin yang berfungsi dalam kontraksi rahim dan kontraksi alveoli di payudara untuk membuat ASI mengalir. Ketika ada rangsangan sensorik pada puting berupa isapan si bayi maka akan mengaktifkan oksitosin untuk mengalirkan ASI. Tanda-tanda bahwa oksitosin bekerja dengan baik ialah adanya nyeri kontraksi rahim, rasa haus mendadak yang dirasakan si ibu, ASI yang tiba-tiba keluar walau tidak diisap, dan sensasi rasa payudara yang diperas, keseluruhan tanda-tanda ini disebut dengan reflesk oksitosin. Refleks oksitosin ini dapat meningkat ketika kita melihat, mendengar, meraba dan mengingat bayi yang secara tidak langsung dapat meningkatkan  ikatan antara ibu dan anak. Selain itu, oksitosin dapat meningkat pula dengan memberi rangsang pada puting, memerah sedikit ASI, memberi pijatan punggung di sela-sela tulang punggung dengan gerakan memutar, dan lebih terutama lagi dengan menciptakan perasaan rileks dan nyaman saat menyusui, perasaan bahagia dan percaya diri si ibu saat memberi ASI ke bayi. Hal-hal yang membuat produksi ASI sedikit dapat disebabkan adanya reflex balik inhibitor dimana ASI yang tidak pernah dikeluarkan akan memberi perintah / sinyal ke otak untuk menghentikan hormon prolaktin untuk memproduksi ASI.  Lalu apa yang membuat ASI tidak mau keluar? Menurut dr. Fransiska Sri Susanti,Sp.A dalam talkshow Room For Children (RFC) hari Sabtu (21/4/2012) lalu ialah karena posisi perlekatan mulut bayi ke payudara si ibu yang tidak tepat. Ciri-ciri perlekatan yang baik yaitu:
  1. Puting susudan areola meregang, memanjang di dalam mulut bayi
  2. Duktus besar di daerah areola berada di dalam mulut bayi, dan bukan hanya putingnya saja karena ASI tidak keluar dari puting melainkan dari areola (daerah kehitaman sekeliling puting susu)
  3. Ketika sesuatu menyentuh bibir bayi maka bayi akan segera membuka mulut dan lidahnya akan terdorong ke bawah dan depan
  4. Dimulainya refleks mengisap (suckling) yaitu saat lidah bayi menyentuh langit-langit  terjadi gerakan penekanan dan susu terperah keluar.
  Penilaian perlekatan yang baik jika dilihat dari luar ialah
  1. Mulut bayi terbuka lebar
  2. Dagu menyentuh payudara
  3. Bibir bawah terlipat keluar
  4. Sebagian areola atas lebih terlihat dibanding areola bawah.
Perlekatan yang baik dapat membuat ibu lebih nyaman tanpa menimbulkan rasa nyeri sehingga bayi dapat menyusui dengan efektif.  Perlekatan yang baik ditunjang pula dengan posisi yang baik dalam menyusui. Menurut dr. Fransiska Sri Sudanti, Sp.A, posisi yang menyusui yang baik haruslah segaris antara telinga,bahu dan paha si bayi, dekat dengan ibu,  disanggah seluruh badan dan menghadap payudara dengan hidung mengarah ke puting. Ibu yang baik adalah ibu yang memiliki kesabaran, keuletan dan kasih sayang  untuk  memberikan segala hal  yang terbaik bagi buah hatinya termasuk memberikan ASI.  Sudahkah Ibu memberikan yang terbaik untuk buah hati Anda?     Sumber : Talkshow “Anak Sehat Anak Indonesia”  bersama Room For Children (RFC) dengan narasumber dr. Fransiska Sri Susanti,Sp.A