Dalam pertemuan antar-menteri pada WHO Framework Convention on Tobacco Control. (FCTC) yang diselenggarakan di Indonesia, 1 April 2014, Direktur Jenderal WHO, Dr Margaret Chanasked pejabat tinggi Indonesia untuk mendukung aksesi Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau. FCTC telah diratifikasi oleh 178 pihak, yang mewakili 90% dari populasi global, seperti konvensi menerapkan langkah-langkah khusus untuk mengurangi penggunaan tembakau dan melindungi penduduk dari kematian yang terkait dan kematian dini akibat penggunaan tembakau. Industri tembakau dilarang untuk menghalangi usaha pemerintah untuk mengimplementasikan langkah-langkah pengendalian tembakau demi kesehatan masyarakat negara. Pertemuan tersebut diadakan oleh Kementerian Koordinator Indonesia terhadap Kesejahteraan Rakyat, untuk membahas tentang aksesi FCTC WHO. Diketuai oleh Menteri Kesehatan, dr Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH, pertemuan itu dihadiri oleh perwakilan dari kementerian. Di antaranya terdapat  pejabat yang berasal dari Kementerian Pertanian, Kementerian Luar Negeri, Departemen Perindustrian, Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Departemen Perlindungan Anak dan Perempuan, Departemen Sosial, dan Kementerian Pemuda dan Olahraga. Dalam sambutan videonya, Dr Chan juga mengakui kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam High Level Panel PBB Eminent Persons pada tahun 2012 yang menempatkan penyakit tidak menular sebagai salah satu tantangan pembangunan baru. Negara yang menerapkan FCTC melihat hampir langsung dua digit tetes dalam jumlah serangan jantung, stroke, gangguan pernapasan dan kanker yang berhubungan dengan tembakau. "Tak satu pun dari efek ekonomi yang buruk seperti hilangnya pekerjaan dan menurunnya pendapatan, seperti yang diperkirakan oleh mereka (industri tembakau) dalam argumennya, didapatkan pada sejumlah besar negara yang sudah melakukan ratifikasi FCTC," kata Dr Chan. Pertemuan tersebut juga memberikan kesempatan kepada Direktur Regional WHO untuk Kawasan Asia Tenggara, Dr Poonam Khetrapal Singh, untuk berbagi pesan-nya. "WHO FCTC dikembangkan untuk melindungi kesehatan, tidak membatasi perdagangan. Negara-negara mengimplementasikannya tidak perlu melihat perubahan dalam portofolio perdagangan mereka." FCTC juga sudah sesuai dengan kewajiban internasional lainnya yang berlaku secara luas, termasuk yang terkait dengan perdagangan. Negara-negara dengan sejarah panjang budaya tembakau seperti Turki, Brasil dan India telah meratifikasi FCTC dan terlihat pada negara-negara tersebut ada penurunan prevalensi penyakit terkait. Untuk memberikan beberapa referensi, pertemuan tersebut juga dihadiri oleh Dr Douglas Bettcher, Direktur WHO Pencegahan Penyakit menular dari Jenewa dan Profesor Prakit Vathesatogkit, pencegahan tembakau dan ahli kontrol dari Thailand. Dalam presentasinya, Dr Douglas Bettcher menunjukkan bagaimana meratifikasi FCTC bermanfaat kesehatan masyarakat negara sekaligus mengurangi dampak dramatis pada industri tembakau. Delapan dari sepuluh negara produsen terbesar tembakau adalah sudah menjadi bagian dari WHO FCTC. Perusahaan tembakau memiliki riwayat untuk menggelembungkan jumlah karyawan mereka dan penyajian angka luar biasa menunjukkan skenario bencana kehilangan pekerjaan jika langkah-langkah pengendalian tembakau diambil. Padahal kenyataannya, tidak ada dampak langsung terhadap pertanian tembakau atau kerugian pekerjaan yang telah diamati pada negara-negara yang sudah menjadi bagian dalam FCTC. Pengalaman Thailand setelah meratifikasi FCTC seperti disajikan oleh Prof Vathesatogkit, menunjukkan bahwa meratifikasi FCTC tidak mengubah jumlah perokok dalam 20 tahun, atau jumlah petani tembakau. Sebaliknya, FCTC akan mengurangi masalah kesehatan yang mempengaruhi perempuan dan anak-anak karena paparan asap tembakau. Thailand telah berhasil meningkatkan pajak tembakau untuk 77% dari harga jual rokok dan menggunakan pendapatan untuk mendukung promosi kesehatan termasuk pengendalian tembakau.   Sumber : WHO Urges Indonesia to Ratify FCTC. [homepage on the Internet]. 2014 [cited 2014 May 29]. Available from: WHO SEARO, Web site: http://www.ino.searo.who.int/EN/Index.htm Penulis: Gloria Safira – Jurnalis TanyaDok Review Medis: dr. Agnes Susanto – Editorial Team