Teknologi sel punca di kedokteran telah lama menjadi isu hangat untuk menjadi alasan para ilmuwan berlomba-lomba menelitinya. Untuk pertama kalinya, seorang ilmuwan di Haifa, Israel mengambil sel kulit dari pasien gagal jantung, menjadikannya sel punca, dan dapat menumbuhkan sel jantung yang sehat disebuah laboratorium. Kemudian para ilmuwan tersebut mencampurkan sel jantung yang baru ditumbuhkan dengan sel jantung yang telah ada. Dalam hitungan hari, otot jantung gabungan ini dapat berdetak bersama. Jaringan otot yang sudah terbentuk ini kemudian ditransplantasikan ke tikus percobaan, dan digabungkan dengan sel jantung sehat tikus tersebut. Hal ini memberikan harapan baru terhadap pengobatan pasien lansia dengan gagal jantung lanjut. Karena memungkinkan untuk menghasilkan sel jantung yang setara sehatnya seperti saat manusia baru lahir. Saat dilakukan percobaan yang serupa dengan menggunakan sel jantung yang masih muda, ternyata dapat membuahkan hasil yang sama, jantung sehat yang dapat berdetak. Jika teknologi ini dapat ditransplantasikan ke jantung manusia, maka dapat mengatasi masalah penolakan yang umum terjadi pada proses transplantasi jantung. Ditambah lagi, dapat menghindari masalah etika dan moral terhadap penggunaan sel punca embrio, karena teknologi ini hanya memprogram ulang sel manusia yang sudah ada, dalam hal ini sel kulit (induced pluripotent stem cells). Aplikasinya pada jantung manusia masih membutuhkan banyak penelitian lebih lanjut. Penelitian ini dipublikasikan di European Heart Journal. Pada bulan Februari, penelidi di Cedars Sinai Heart Institute menggunakan sel punca dari jantung pasien sendiri untuk mengobati jaringan parut pada jantung akibat serangan jantung.   Sumber: Time HealthLand