Beberapa hari yang lalu kita disuguhkan oleh berita 11 merek kemasan air minum yang dianggap cukup berbahaya karena mengandung bakteri yang hampir melebihi batas aman. Kini, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), mengklarifikasi kemungkinan kesalahan yang terjadi. Bagian Keamanan Pangan BPOM, Roy Sparingga menyampaikan bahwa kualitas air minum kemasan yang kurang ini dapat disebabkan karena salah penyimpanan dari pedagang. "Jumlah mikroba dalam air itu bisa bertambah sesuai handling-nya. Walaupun saat keluar pabrik airnya bersih, tapi kalau handling-nya salah saat di tangan konsumen, bisa jadi kotor. Misalnya, kalau ditaruh di bawah sinar matahari atau kemasannya bocor atau terkoyak-koyak karena dilempar, itu bisa memacu perkembangan mikroba di dalamnya," urai Roy. Saat BPOM meneliti kembali soal temuan ini, BPOM menyatakan bahwa kesebelas merek air minum kemasan tersebut aman. Diduga, kualitas AMDK yang diteliti oleh YLKI telah rusak karena proses distribusi dan penanganan yang salah terhadap produk. Di lain pihak, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (Aspadin), Hendro Baruno, menyatakan bahwa banyak pedagang eceran yang ceroboh dalam penanganan produk dagangannya, sehingga menurunkan kualitasnya. “Mereka bisa saja memasukan dagangannya ke kulkas. Namun karena tetap tidak dijual, esoknya dikeluarkan lagi. Atau karena dagangannya dipajang di tempat yang mempunyai kontak langsung dengan matahari.” Hal ini disampaikannya pada konferensi pers mengenai kualitas air minum kemasan di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu, 3 November 2010. Namun Aspindo mengaku masih kesulitan untuk mengedukasi para pedagang karena luasnya penyebaran produk ini di masyarakat. Sumber: Kompas.