Pada tanggal 15 April 2016 kemarin, bertepatan dengan 25 tahun Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), ASMIHA atau Annual Scientific Meeting of Indonesian Heart Association dengan tema menjembatani kesenjangan dalam layanan kardiovaskular serta memberikan layanan yang efisien, fokus dan sesuai standar diselenggarakan. Acara temu ilmiah ini diadakan mengingat beberapa hal yang harus dijembatani seperti kemampuan pelayanan primer di Indonesia yang belum mumpuni sehingga di era BPJS ini masyarakat yang menolak treatment pelayanan sekunder atau tersier dapat terhubung dengan baik. Dan juga mengingat rasio dokter dan penduduk di Indonesia yang belum terjadi, sehingga terjadi gap yang besar di antaranya. ASMIHA diharapkan dapat menjembatani gap tersebut.

[caption id="attachment_231069" align="alignleft" width="600"]Press Conference ASMIHA 25th PERKI Press Conference ASMIHA 25th PERKI[/caption]

Pertemuan ilmiah ASMIHA ini ditandai dengan beberapa milestones atau pencapaian dalam bidang kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah) di Indonesia. Terdapat beberapa pencapaian penting, antara lain dalam bidang pengobatan (kuratif) termasuk di dalamnya inovasi pada serangan jantung, gagal jantung akut, penyakit pembuluh darah, kelainan jantung bawaan pada anak serta di bidang cardiovascular imaging. Tercatat pula beberapa pencapaian penting seperti pelayanan kardiovaskular yang sudah memadai di Indonesia seperti penggantian katup tanpa dibedah (dibelah) dan standardisasi biaya alat-alat canggih untuk pelayanan kardiovaskular sehingga seluruh kabupaten di pelosok Indonesia dapat merasakan layanan kardiovaskular murah namun tepat sasaran. Ditambah pula panduan praktek klinik bagi para dokter yang memfokuskan pelayanannya pada kardiovaskular yang dapat diunduh dengan cuma-cuma di http://www.inaheart.org/.

Menurut Dr.Anwar Santoso, PhD, FIHA, FasCC, FESC, Ketua Umum PERKI, dalam sambutannya hari itu mengatakan, “Banyak sekali kemajuan yang telah kita capai dalam bidang kardiovaskular di Indonesia, dalam bidang kuratif, misalnya ditemukannya Percutaneus Coronary Intervention (PCI) yang telah berhasil mengurangi angka kematian akibat gagal jantung, teknologi Cardiac Resynchronization Therapy (CRT) dan Left Ventricular Assist Device (LVAD) yang sangat menolong pasien gagal jantung. Pemasangan pacu jantung pada kasus gangguan irama jantung dan ICD terbukti menurunkan kematian jantung mendadak. Untuk memperluas cakupan pemasangan pacu jantung hingga ke seluruh daerah di Indonesia, telah dilakukan program pelatihan oleh PP PERKI melalui Pokja Aritmia. Di samping itu, dalam bidang pembuluh darah, teknologi Thoracic Endovascular Aortic Repair (TEFAR) dan Endovascular Aneurysm Repair (EVAR) membantu pasien dengan kasus ini. Di bidang pediatrik (anak), terdapat kemajuan dalam penanganan penyakit jantung congenital, misalnya penanaman alat Patent Ductus Arteriosus (PDA), Amplatz Duct Occluder (ADO) dan Amplatz Septal Occluder (ASO) yang akan membantu pasien anak dengan kelainan jantung bawaan. Tak kalah pentingnya adalah di bidang pencitraan (imaging) jantung sehingga diagnosa dapat dilakukan secara akurat dan tepat, antara lain Transthoracic echocardiogram (TTE), Transesophageal echocardiography (TEE), Cardiac Magnetic Resonance Imaging (CMRI) dan Radio Nuclear Imaging.”

Menurut Dr. A. Fauzi Yahya, SpJP(K), FIHA, FAsCC yang juga menghadiri press conference hari itu mengatakan pencapaian yang sudah dilakukan oleh pihak PERKI juga menjembatani budaya Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang saat ini berjalan. Seperti yang diungkapkan beliau dalam press conference kemarin, “BPJS menanggung beban kesehatan penyakit Kardiovaskular hingga ratusan juta rupiah,” untuk itu sangat penting untuk segera meningkatkan pelayanan yang efisien, fokus dan sesuai standar diselenggarakan.

Di samping itu, dalam kurun waktu 25 tahun ini, juga tercatat banyak kemajuan dalam bidang penelitian dan kerja sama antar lembaga. Di lain pihak, tercatat juga kemajuan dalam aspek pencegahan (preventif) yang diharapkan ke depannya akan menurunkan biaya belanja kesehatan di seluruh Indonesia. Ditengah-tengah pencapaian tersebut, bidang kardiovaskular di Indonesia juga menghadapi berbagai tantangan, baik secara internal maupun eksternal. Oleh karena itu, diperlukan berbagai upaya agar ke depannya layanan kesehatan kardiovaskular dapat menjadi lebih efisien, fokus dan sesuai standar, salah satunya melalui wadah ilmiah ASMIHA.

Dr.Daniel Tobing, MD, FIHA, FasCC, FAPSC, FAPSIC, FESC, Ketua ASMIHA 2016, mengatakan, “ASMIHA ke-25 yang dihadiri sekitar 1500 dokter yang terdiri dari spesialis kardiovaskular, bedah jantung, penyakit dalam, syaraf, anak dan seminar lainnya serta dokter umum ini menjadi wadah berbagi ilmu dengan para ahli kardiovaskular baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Sharing dilakukan melalui berbagai bentuk wadah diskusi, seperti simposium dan workshop dan diharapkan akan dapat menjawab tema ASMIHA 2016.”

Pada sesi pertemuan ilmiah ASMIHA 2016 terdapat beberapa sesi yang diramaikan oleh 104 pembicara ahli dari Indonesia dan 13 pembicara asing berikut ini;

  1. 5 Sesi Plenary lectures
  2. 32 Sesi Symposium
  3. 5 Joint Symposium:

- European Society of Cardiology (ESC)

- ASEAN Federation of Cardiology

- American College of Cardiology (ACC)

- Asia-Pacific Society of Cardiology (APSC)

- World Heart Federation (WHF)

  1. Young investigator awards
  2. Abstract session, free paper, oral presentation

ASMIHA kali ini diadakan dengan beberapa topik yang menjadi highlight, yaitu:

  1. Masalah penyakit jantung dan pembuluh darah di Indonesia dan perbandingan dengan negara lain di dunia.
  2. Mengeksplorasi factor-factor risiko, bagaimana menangani faktor risiko secara efektif dan upaya pencegahan lain.
  3. Upaya menegakkan diagnosis dini, efisien, akurat, penggunaan biomarker maupun modalitas/ alat baru.
  4. Pedoman-pedoman baru dalam penanganan penyakit kardiovaskular, upaya menjembatani untuk kondisi Indonesia, perkembangan terbaru dalam pedoman.
  5. Optimalisasi tatalaksana pengobatan atau tindakan untuk meningkatkan kualitas hidup maupun survival.
  6. Penggunaan alat-alat diagnosis, intervensi yang baru
  7. Intervensi non bedah untuk penyakit jantung structural yang sebelumnya perlu operasi.

Terlepas dari pertemuan ilmiah yang rutin diselenggarakan setiap tahunnya tersebut, yang terpenting adalah upaya pencegahan, seperti yang diungkapkan oleh Dr. A. Fauzi Yahya, SpJP(K), FIHA, FAsCC, “Kalau mengandalkan tenaga kesehatan dan Rumah Sakit yang ada di Indonesia, bentuk pencegahan lebih tepat untuk dilakukan; salah satunya adalah mencegah faktor-faktor risiko.” Dan dr. Isman Firdaus, SpJP(K) mengungkapkan nomor telepon yang dapat mencegah faktor-faktor risiko dari penyakit kardiovaskular: 035-140-530;

  • 0: 0 asap rokok atau arti lainnya adalah jangan merokok
  • 3: 3x seminggu aktifitas fisik
  • 5: 5 porsi buah dan sayur
  • 140: cek tensi secara reguler dan tidak boleh di bawah 140
  • 5: kadar kolesterol tidak boleh lebih dari 5 milimol
  • 3: kadar LDL tidak boleh lebih dari 3 milimol
  • 0: tidak obesitas
  [gallery link="file" size="medium" ids="231063,231064,231065,231066,231067,231068,231069,231070"]