Dok, Saya seorang pria berusia 28 tahun dan bekerja sebagai pengajar. Saya ingin menceritakan terlebih dahulu kronologis kejadian yang membuat saya mengalami penyakit ini.
Sekitar satu setengah bulan yang lalu saya mengalami tekanan darah tinggi dengan hasil pengukuran 180/100 mmHg. Pada saat itu saya kerja lembur sampai sore dan dilanjutkan mengikuti kegiatan di desa saya tanpa sempat makan dan istirahat. Perawat yang memeriksa saya mengatakan kemungkinan tekanan darah saya tinggi karena terlalu capek dan stress. Gejala yang saya rasakan pada saat itu adalah debar jantung yang sangat cepat, rasa mual, tengkuk terasa kaku, dan kepala pusing. Pikiran saya menjadi tambah kacau dan debar jantung semakin cepat karena saya teringat dengan kejadian pada waktu Ibu saya mengalami pendarahan batang otak akibat pecahnya pembuluh darah karena hipertensi (saya melihat langsung kejadiannya dari awal sampai beliau masuk Rumah Sakit). Saya berusaha untuk tetap sadar walaupun rasanya seperti mau pingsan dengan harapan agar kejadian yang menimpa Ibu saya tidak terjadi pada saya. Setelah saya diberi obat penurun tekanan darah, selang satu jam tekanan darah saya berangsur turun dan dapat beristirahat.
 Setelah kejadian pertama tersebut saya memutuskan untuk membeli Tensimeter Digital untuk mengecek tekanan darah setiap hari. Hasilnya selama tiga minggu tekanan darah saya normal (antara 110 – 125 / 70 – 80 mmHg).
 Kemudian pada waktu ada acara di tempat kerja, gejala detak jantung cepat saya rasakan kembali tetapi tidak disertai tengkuk kaku, melainkan nafas terasa agak sesak. Saya kemudian minum obat penurun tekanan darah tetapi selang dua jam detak jatung saya semakin bertambah cepat karena teringat kejadian pertama. Kemudian saya dibawa ke Rumah Sakit dan menjalani serangkaian tes, yaitu pengukuran tekanan darah, rekam jantung, dan cek gula darah. Hasilnya dokter mengatakan hasil rekam jantung saya bagus, gula darah normal tetapi tekanan darah 170/100 mmHg. Selanjutnya saya diberi obat penurun tekanan darah, oksigen, dan suntik untuk mengurangi asam lambung. Dua jam kemudian saya diperbolehkan pulang dan diberi tiga macam obat yang masing-masing berguna untuk penurun tekanan darah, mengurangi asam lambung, dan pereda nyeri (berdasarkan pencarian di internet dari nama obatnya).
 Setelah kejadian kedua tersebut, tekanan darah saya selalu normal. Tetapi dalam waktu dua minggu ini saya sering mengalami gejala yang saya anggap agak aneh. Setiap berada di sekolah pasti gejala aneh ini terjadi, tetapi tidak demikian jika berada di rumah. Gejala yang saya rasakan adalah ketika saya merasa sedikit sesak nafas (mungkin akibat rokok atau berada di ruang tertutup agak lama) secara spontan saya teringat dengan dua kejadian di atas. Karena bertambah cemas rasa sesak nafas ini semakin menjadi diikuti detak jantung cepat, tubuh terasa kesemutan, sering buang air kecil, tidak tenang, kepala berat tetapi tidak pusing, mulut kering dan terasa asam, dan agak susah menelan. Ketika diukur berulang kali, tekanan darah saya maksimal hanya mencapai 138/82 mmHg. Gejala ini dapat bertahan selama beberapa jam. Bahkan dalam perjalanan pulang dada semakin bertambah sesak dan pikiran tidak fokus. Terakhir kali gejala ini bisa hilang selama perjalanan pulang pada saat saya dapat mengingat hal-hal menyenangkan. Tapi kalau sedang berhenti di lampu merah dan pikiran tidak fokus, gejala sesak napas langsung muncul kembali dan seterusnya sampai di rumah. Anehnya, ketika sampai di rumah gejala ini kemudian hilang dan tidak pernah terjadi di rumah. Munculnya gejala ini sudah saya alami 3 – 4 kali dalam waktu dua minggu ini.
Pertanyaan saya :
1. Menurut dokter, penyakit apa yang sebenarnya ada dalam diri saya? Apakah hipertensi atau penyakit lain yang berhubungan dengan psikologis?
2. Dari hasil membaca artikel saya mengenal penyakit “Anxiety Disorder”. Apakah saya mengalami penyakit ini?
3. Apa saja yang harus saya lakukan untuk mengobati penyakit tersebut?
Mohon maaf jika uraian saya terlalu panjang. Mohon bantuannya karena penyakit ini benar-benar mengganggu aktivitas saya. Terima kasih sebelumnya.

Jawaban Dokter :

Dear Bapak,

Terima kasih atas pertanyaannya.

Kalau coba saya cermati masalah Bapak, saya menyimpulkan keluhan Bapak seperti sakit kepala, sulit menelan, sesak nafas adalah hasil rangsangan saraf simpatik akibat rangsangan psikologis. Termasuk di dalamnya adalah peningkatan tekanan darah.

Hipertensi yang Anda alami mungkin bukanlah hipertensi primer (yang memang hipertensi) namun disebabkan oleh keadaan tubuh sesaat. Hal ini dibuktikan bahwa Anda sempat mengukur tekanan darah tetap normal. Kita dapat menyebut hipertensi bila di atas 140 / 90. Memang, jika tekanan darah di atas 170-180 untuk angka atas (sistolik) diperlukan adanya penanganan khusus segera agar tekanan darah meningkat ini tidak berujung pada kerusakan organ. Maka dokter yang menangani Anda ketika Anda dibawa ke rumah sakit itu sudah memang demikian.

Untuk mendiagnosis apakah adanya gangguan anxietas atau gangguan cemas. Tanda-tanda Anda bisa saja merupakan gangguan cemas. Namun alangkah baiknya Anda berkonsultasi dulu dengan dokter agar diagnosis tersebut lebih objektif.

Masalah anxietas ini dapat tertangani dengan baik yaitu dengan edukasi, reassurance, dan psikoterapi. Dokter bisa saja memberikan obat bila dirasa perlu. Obat ini aman dan berfungsi untuk membantu mengatasi anxietas tersebut.

Oleh karena itu saya sarankan Bapak untuk berkonsultasi dengan dokter (bisa dengan dokter umum, dan bila perlu bisa dirujuk ke psikiater). Yang perlu Bapak pahami juga bahwa masalah ini dapat Bapak selesaikan jika kita pun tekun dalam terapinya.

Semoga membantu ya Pak. Salam Sehat!