Minta tolong penjelasan dari Dokter mengenai kondisi anak saya. Terus terang, semakin banyak membaca aneka artikel tentang mumps, membuat saya malah semakin tidak tenang (sampai tidak bisa tidur nyenyak). Tolong saya dokter.
Sejak hari Senin, tgl 9 Juni 2008 anak saya di diagnosa terkena mumps atau gondongan oleh Dokter keluarga kami. Tahun lalu, anak saya tertular cacar air karena hampir semua siswa di sekolahnya terkena cacar air juga. Padahal banyak orang bilang bahwa anak saya anak yang sehat dan jarang sakit, tapi akhinya ia tertular juga.
Gejala awal sudah dirasakan sejak hari Sabtu siang ketika kami menginap di villa (di Cipanas). Kurang lebih pukul 15:00 setelah berenang anak saya bilang ke saya jika badannya agak tidak enak. Malamnya anak saya mengeluh kedinginan. Kami pikir dia kedinginan karena memang sedang menginap di daerah dingin, tapi kemudian badannya juga agak panas. Menjelang tidur malam, saya minumkan Proris. Tengah malam panasnya turun, tapi anak saya mengeluh perutnya sakit. Hari minggu pagi, tgl 8 Juni 2008 barangkali anak saya sudah merasa badannya enakan, jadi dia merengek untuk berenang lagi. Pulang berenang, setelah mandi pagi badannya kembali panas. anak saya menggigil kedinginan sampai bibirnya agak biru. Saya berikan ia Proris lagi, anak saya lalu sempat tertidur sambil dijaga oleh neneknya. Tidak berapa lama, anak saya bangun dan bisa keluar kamar.anak saya terlihat lesu dan ia berbaring di sofa ruang tamu villa. Minggu siang kami pulang, ditengah perjalanan anak saya berkali-kali muntah hingga di Jakarta.
Hari Senin pagi, tgl 9 Juni 2008 sudah terlihat pembengkakan di sekitar pipinya. Dokter keluarga kami bilang ia gondongan dan gondongannya cukup besar. Diberikan obat penurun panas, peningkat daya tahan tubuh dan anti biotic. Saya tanya kenapa harus diberikan antibiotic padahal mumps disebabkan oleh virus? Beliau bilang untuk mengantisipasi jika terjadi infeksi barengan akibat kuman atau bakteri. Hari Selasa, tgl 10 Juni 2008 bengkaknya semakin membesar. anak saya mengeluh nyeri di sekitar bengkaknya dan kepalanya agak pusing. anak saya juga sesekali mengeluh jika perutnya (di sekitar atas pusar) terasa agak nyeri hingga kemarin tgl 11 Juni 2008 anak saya sudah 2 kali bilang jika perutnya agak sakit (diatas pusar).
Hari ini, tgl 12 Juni 2008 anak saya bilang ia sudah merasa enakan. Ia bahkan sudah bisa nonton TV sambil duduk. Tapi saya lihat bengkak di sekitar pipinya masih ada.
Oh ya Dok, sebagai tambahan informasi bahwa anak saya memang belum di vaksinasi MMR.
Pertanyaan saya berdasarkan kondisi anak saya diatas adalah :
  1. Apakah gejala-gejala diatas masih wajar untuk anak usia 7 tahun yang terkena gondongan? Karena pada saat terkena gondongan, seingat saya anak saya memang sedang banyak sekali kegiatan dan ia kurang istirahat. Barangkali daya tahan tubuhnya sedang kurang bagus. Sedangkan dari artikel yang saya baca di website ini, bahwa gejala prodormal jarang terjadi pada anak-anak. Sedangkan saya melihat hampir semua gejala2 prodormal tersebut dialami anak saya di hari-2 pertama ia terkenan gondongan.
  2. Gejala-gejala diatas tidak menunjukkan adanya komplikasi kan Dok? Bagaimana menghindari komplikasi-2 tersebut Dok?
  3. Bagaimana caranya agar anak saya benar-benar sembuh total dari sakit gondongannya dan tidak mengalami efek samping apapun dari penyakit tersebut?
  4. Jika sudah terkena gondongan, apakah anak saya masih harus di vaksin MMR? Apakah cukup dg imunisasi Rubella dan campak saja? Apakah belum terlambat Dok? Jika belum, kapan saya harus mengimunisasinya? Berapa biayanya?
  5. Anak saya belum saya berikan imunisasi booster. Apakah setelah ia sembuh dari gondongan ini, anak saya bisa diberikan imunisasi booster, Dok?
Demikian pertanyaan saya Dok. Saya sangat berharap Dokter bersedia memberikan pencerahan agar hati saya tenang. Satu hal yang Dokter perlu tahu bahwa saya sangat menyesal karena tidak memberikan vaksinasi MMR pada anak saya ketika kecil.

Jawaban Dokter :

Dear ibu,
1. Gejala prodromal berat ringannya bervariasi antar anak, kebetulan saja anak Ibu gejalanya muncul sekaligus.Mengenai banyak kegiatan dan kurang istirahat, memang secara umum kita lebih mudah jatuh sakit ketika daya tahan tubuh kita sedang turun.
2 dan 3. Komplikasi terjadinya tidak dapat diperkirakan, namun untuk mengurangi kemungkinan terjadinya komplikasi, tentu penyakit harus ditangani secara tepat dan cepat. Di samping itu, anak Ibu perlu asupan makanan yang cukup, supaya daya tahan tubuhnya dapat diperbaiki dengan nutrisi dari makanan yang dikonsumsi. Upayakan jadwal makan yang teratur dan makanan dengan gizi seimbang.
4. Vaksin MMR memberikan perlindungan terhadap penyakit mumps, campak, dan rubella, sehingga tentu masih diperlukan. Mengenai "gondongan" yang dialami anak Ibu, sebenarnya belum tentu sungguhan MUMPS. Pembengkakan kelenjar liur dapat disebabkan oleh hal lain selain mumps. Bisa juga disebabkan oleh infeksi bakteri, yang menimbulkan peradangan dan pembengkakan. (hal inilah yang membuat dokter memberikan antibiotik untuk anak Ibu)
Vaksin MMR boleh tetap diberikan, tetapi biasanya baru diberikan sekitar 28 hari setelah sembuh dari sakit.
Vaksinasi MMR menurut pedoman diberikan (1) pada usia 12-15 bulan, dan dosis ke(2) pada usia 4-6 tahun. Jika pada usia 7 tahun anak Ibu belum mendapat vaksin MMR, vaksin dapat diberikan kapan saja, dengan memberi jarak minimal 28 hari antara dosis pertama dan dosis kedua.
Booster imunisasi diberikan sesuai panduan imunisasi pada anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)
Tidak ada kata terlambat. Cermatilah jadwal vaksinasi ini, dan lihatlah mana yang belum dipenuhi anak Ibu. Semoga anak Ibu sehat dan tumbuh dengan baik hingga dewasa.
�
Salam,